Mencerna Keberadaan Mesin "Penghancur" SBY

Oleh : Dylan Aprialdo R

"....Saya adalah korban dari the Invisible Group, yang bekerja bagaikan mesin penghancur itu. Kata-kata yang digunakan pun tak kuasa untuk saya utarakan, karena bisa merusak jiwa yang mendengarnya..."

Begitulah curhatan mantan Presiden RI ke-6  dalam pidatonya (yang sempat membuat salah satu kadernya ngantuk) pada acara rapimnas sekaligus dies natalis Partai Demokrat yang ke-51. Susilo Bambang Yudhoyono, mengaku menjadi korban dari kelompok rahasia tak kasat mata tersebut yang menghajar orang-orang yang mencoba mengkritik pemerintahan yang berkuasa saat ini.

Pernyataan SBY seolah membuat publik berimajinasi liar, bahwa Indonesia sedang berada dalam situasi konspirasi wahyudi ala-ala Illuminati dan Freemason yang bercita-cita menciptakan Tatanan Dunia Baru (New World Order) lewat pengaruh-pengaruhnya secara halus dan tak terlihat. Diam-diam menyusup untuk berkuasa dan melawan secara halus para lawannya lewat taktik serangan tersembunyi.

SBY bahkan menyebut kelompok tak kasat mata ini bergerak bagaikan "mesin penghancur", yang bukan hanya membuat SBY menjadi korban melainkan berbagai pihak di"klaim" juga ikut menjadi korban.

Lantas apa dan siapa Invisible Group yang dimaksud SBY?

Citra SBY semakin menurun drastis di mata publik akibat tindak tanduknya sendiri di depan umum khususnya media sosial. Sudah cukup sering paska lengsernya SBY dari jabatan, ia kerap kali menyampaikan curhatan, keluhan, kritik bahwa situasi negeri semakin tidak karuan sejak ditinggal oleh dirinya setelah 10 tahun berkuasa. Ia juga selalu memposisikan diri sebagai korban, jika ada isu yang menyerang dirinya.

Saya ingin bertanya kepada Presiden dan Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak untuk mengetahui dan menemukan siapa Invisible Group yang dimaksud SBY? Pertanyaan saya barangkali akan membuat Jokowi tambah bingung dan bikin tepok jidat.

Publik bisa dikatakan sebagai "Invisible Group", mereka yang anonim kerap kali melakukan cyberbullying terhadap SBY, terlebih paska ia melakukan berbagai hal blunder melalui konferensi pers atau lewat media sosial. Mulai dari mengaku disadap, panik ketika rumahnya digeruduk mahasiswa, hingga "saya ingin bertanya ke bapak Presiden dan Kapolri". yang lantas dibalas Jokowi "Lah kalau semua bertanya kepada Presiden dan Kapolri, terus saya bertanya kepada siapa?" lalu bunyi krik....krik....krik.... bunyi jangkrik di atas genteng.

Mesin penghancur itu adalah publik, yang sudah dibuat panas kupingnya dan perih matanya mendengar dan membaca curhatan Raja Cike*s (akibat ulahnya sendiri yang nyeleneh). Tidak heran, banyak orang-orang yang "menghajar" balik SBY lewat berbagai macam cara, seperti melalui satire politik dengan memanfaatkan twit "saya bertanya kepada Presiden dan Kapolri"

Publik menjadi gemesh gregetan melihat tingkah laku sang mantan yang selalu begitu. Masyarakat kini terbilang cukup jeli sekaligus sadar mengawasi sikap SBY yang kerapkali menyasar pemerintah dengan kritik yang tidak elegan.

 

Cerminan fenomena media sosial

Harusnya sang mantan sadar untuk tidak melulu curhat di Twitter mengingat ada sebuah fakta dari pakar psikologi sebagaimana dikutip dari Republika dengan judul "Curhat di Media Sosial" yang menyebutkan bahwa, seseorang yang tengah emosi lalu menyampaikan kekesalannya di media sosial, maka logika orang tersebut akan tumpul. Selain itu sikap tersebut akan menimbulkan efek jangka panjang yang buruk.

Di sisi lain, fenomena curhat di media sosial menciptakan situasi bahwa orang-orang menilai sesamanya di media sosial berdasarkan apa yang diposting. Jika seseorang sering curhat di medsos secara intens tentu ia akan diberi label followersnya sebagai orang yang lemah. Hal itu menjadi fakta psikologis yang disampaikan oleh psikolog, A Kasandra Putranto. Postingan mu merefleksikan siapa kamu sebenarnya, begitulah kura-kura.

Meskipun di satu sisi curhatan via medsos juga kerap kali mengundang empati netizen. Misalnya, jika ada sekolah rubuh di suatu daerah lalu seseorang di sekitar sekolah rubuh itu curhat via medsos menyatakan bahwa sekolah rubuh tersebut merupakan satu-satunya harapan anak-anak sekitar untuk bersekolah, tentu, itu mengundang empati netizen.

Mereka mau membantu dan peduli terhadap si penerbit curhatan tersebut. Namun jika curhatan bersifat pribadi dan emosional justru akan membuat orang lain menjadi risih dan emoh menunjukkan kepeduliannya. Itulah yang bisa dikatakan sebagai "serangan balik" akibat kecerobohan diri sendiri dalam bersikap.

Sikap emosional di medsos juga akan membuat orang mempertanyakan kesantunan orang tersebut di ruang publik. Orang akan menjauh, sehingga terkadang membuat si tukang curhat itu bisa saja kesal "merasa diacuhkan, merasa diserang" dan perasaan sensitif lainnya.

SBY harusnya sadar diri oleh serangan the Invisible Group, berkeluh kesah di medsos secara terus menerus dan cenderung memuat emosi pribadi bukanlah cara yang santun dan elok sebagai pengguna media sosial, terlebih ia merupakan seorang negarawan yang "harusnya" disegani dan dihormati.

Medsos bisa digunakan untuk menawarkan solusi dari sang mantan, sebagai upaya membantu pemerintahan sekarang menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang ada sekarang ini. Dengan begitu, the Invisible Group tadi niscaya akan mendukung, peduli dengan SBY.**

Sumber : qureta.com

Tags: 
Wednesday, February 15, 2017 - 19:45
Kategori Rubrik: