Mencegah Solo Jadi Medan Pertempuran Syiah dan Wahabi

ilustrasi

Oleh : Ayik Heriansyah

Insiden penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang intoleran di kediaman Alm. Assegaf bin Jufri, Kampung Mertodranan, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo Sabtu (8/8) malam, pada acara acara midodareni atau upacara malam sebelum ijab kabul tidak bisa dibenarkan. Insiden ini mengakibatkan tiga orang anggota keluarga mengalami luka-luka. Tiga mobil dan dua sepeda motor rusak.

Motif massa pelaku diduga karena lantaran menganggap ada kegiatan yang berbau syiah, memang beberapa hari sebelumnya, banyak beredar di media sosial informasi dan undangan acara Idul Ghadir yang jatuh pada hari ke-18 Dzulhijjah/7 – 8 Agustus 2020. Idul Ghadir adalah hari raya terbesar kaum Syiah yang sangat ditentang oleh kelompok Wahabi.
 

Para pelaku masih dalam kejaran polisi. Kita belum tahu pasti, apa motif di balik penyerangan tersebut. Namun, insiden serupa beberapa kali terjadi di negeri ini. Sangat mengkhawatirkan, karena tingkat toleransi masyarakat makin menurut. Budaya tabayyun, duduk bersama membahas suatu hal secara baik-baik, mulai luntur.

Tidak bisa dipungkiri, ekses dari tsunami informasi mempercepat globalisasi, telah menghanyutkan sebagian kalangan ke dalam perbuatan anarkhi. Globalisasi mengancam identitas kelompok keagamaan terutama yang minoritas. Syi’ah dan Wahabi, dua kelompok minoritas di Indonesia yang sama-sama militan. Keduanya saling tarik menarik isu, kadang menimbulkan gesekan di tengah masyarakat. Masing-masing kelompok berjuang agar eksistensi identitas mereka tetap terjaga dengan baik menuju persaingan antar kelompok identitas yang memicu konflik dan krisis politik identitas yang baru.

Syiah dan Wahabi di Solo

Isu konflik Syi’ah dan Wahabi pemicu terhebat di dalam perang sesama Arab di Timur Tengah sejak 2011 hingga hari ini. Pemerintahan Bashar Assad dituduh syi’ah oleh Wahabi, mengundang pengikut Wahabi seluruh dunia ramai-ramai hijrah ke Suriah. Demikian juga, isu kekhawatiran Suriah jatuh ke tangan Wahabi, membuat kelompok syi’ah (Iran dan Hizbullah) merasa berkewajiban turut serta memerangi milisi Wahabi.

Perang Syi’ah-Wahabi, perang antara Imamah versus Khilafah. Perang ini perang ideologi dan identitas. Jika perang konvensional bertujuan untuk mempertahankan geo politik dan ideologi negara, maka perang ideologi dan identitas kelompok guna mendapat akses ke dalam negara bagi kelompoknya, bukan untuk kepentingan publik secara keseluruhan.

Jika aktor dalam perang konvensional adalah tentara regular dari angkatan bersenjata suatu negara, maka dalam konsep perang ideologi dan identitas, aktornya sangat banyak, kombinasi tentara reguler (state actor) dan aktor non negara (non state actor) seperti jihadis, relawan, para militer, tentara bayaran, ulama, tenaga medis, pekerja sosial, dll.

Kemudian masing-masing kelompok ideologi dan identitas membenarkan perjuangan politik mereka sampai ke tingkat negara. Ideologi adalah seperangkat ide koheren yang menyediakan basis bagi tindakan politik terorganisasikan untuk mempertahankan, memodifikasi atau menggantikan sistem kuasa yang sudah ada. Tiga ciri penting suatu ideologi: a) Menawarkan pemahaman tentang tatanan yang ada, biasanya dalam bentuk “pandangan dunia”; b) Mengembangkan model tentang masa depan yang diinginkan, visi tentang “masyarakat yang baik”; c) Menjelaskan bagaimana perubahan politik dapat dan sebaiknya dilakukan.

Ideologi-ideologi baru yang berbasis identitas yang memicu perang baru di kawasan Timur Tengah berimbas ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kemajuan teknologi informasi dan kemudahan migrasi penduduk dari satu negara ke negara lain, serta karakteristik perang baru yang desentralistik, menjadi ancaman baru bagi pertahanan dan keamanan suatu negara. Medan tempur dalam perang baru menyebar tidak terikat satu lokasi tertentu dan tidak dapat diprediksi dalam jangka waktu yang lama.

Kasus-kasus intoleransi, radikalisme dan terorisme di kota Solo menjadi indikasi ada jejak-jejak perang ideologi dan identitas antara syiah dan wahabi di sana. Hal ini harus dicegah jangan sampai meletus menjadi perang sipil sesama anak bangsa.

Pada prinsipnya, pertahanan paling kuat bagi suatu negara adalah rasa cinta tanah air warganya. Oleh karena itu, meski bagi pengikut syiah dan wahabi di Indonesia, perlu melakukan pribumisasi /nativikasi ajaran syiah dan wahabi, Syiah dan Wahabi mencoba mendialogkan ajaran mereka dengan ke-Indonesia-an.

Ini yang disebut Gus Dur dengan kosmopolitan Islam. Kosmopolitan Islam mengakui ada Islam “Anda” selain Islam yang “Aku” pahami. Sehingga ruang toleransi dan daya koeksistensi terhadap kelompok lain menjadi lebih besar. Demi menghindari konflik identitas seperti yang terjadi di Arab.

Sumber : Status Facebook Harakatuna.com

Tuesday, August 11, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: