Mencari Pancasila Di Riuhnya Politik

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Kang, Dimana Tempat yang Layak untuk Falsafah Pancasila

Hening terasa di Pakandangan. Buzzer dan Banser, Cebong dan Kampret seperti peselancar yang kehilangan ombak. Laut teduh. APBN sudah dibungkus. Mari kita purak makanan ini. Biar rakyat cari jalan sendiri.

Dul Kampret :Kang, dimana tempat yang layak untuk filsafat Pancasila ini ?

Kang Mat : Di ruang dimana guru tauhid memdedah ilmu kepada para pencari ilmu dan makrifat. Falsafah itu wilayah rasionalitas. Puncak piramida perjalanan akal yang mencoba mencari mafhum eksistensi. Bangunan ilmu representatif yang dapat maju di arena diskursus keilmuan. Sejajar bahkan jadi induk disiplin keilmuan lain. Siapa saja, tanpa pandang apa agamanya, asal dia berakal, dapat mengikuti pembahasannya. Berbeda sekali dengan wahyu, ia datang dari ketinggian Ilahiyyah melalui seorang nabi. Ilmu teologia menurunkannya menjadi doktrin dan dogma.
Falsafah Pancasila tak dapat secara umum dibahas memakai teologia ini. Teologia hanya berlaku di lingkup yang meyakininya. Tidak bisa dipaksakan pada lingkup di luarnya.

Jadi pihak yang selama ini membuat berhadap-hadapan antara falsafah Pancasila dan Islam sama sekali tak memahami mana yang hasil rasionalitas dan mana yang wahyu.

Karena ketuhanan yang maha esa adalah menyangkut materi dan non-materi, maka kebutuhan akan filsafat metafisika dalam membahas diskursus filsafat Pancasila sangatlah urgen. Kita tak bisa seperti di masa lalu membahas falsafah Pancasila hanya memakai filsafat antropologi, filsafat sosiologi, filsafat sejarah dan filsafat etika.
Tak akan terfahami. Seperti mau mencari matahari di siang hari memakai lampu petromaks.

Berilah ruang pada generasi baru, untuk menemukan fahaman yang lebih seksama dalam mengudari pusaka kita falsafah Pancasila.

Dul Kampret :
Apa yang hendak Kang sampaikan dalam tafsir yang lebih holistik atas falsafah Pancasila ?

Kang Mat :
Pancasila sebagai falsafah dan sebagai pandangan dunia manusia Indonesia harus terfahami sebagai celupan (sibghah) bangsa Indonesia. Bahwa manusia Indonesia adalah manusia delapan sisi. Manusia yang berkesadaran delapan tingkat.

Ditingkat pertama adalah manusia dengan kesadaran bahwa eksistensi adalah realitas tunggal. Dalam kesadaran ini, manusia tak terpisahkan dari realitas tunggal itu. Manusia ada dalam persaudaraannya dengan unsuriah, nabati, hewani dan basariah/ manusia, juga dengan penghambaan dalam tauhid. Tak ada ruang bagi ketiadaan dan jawaban dari pertanyaan apa itu. Kesadaran keterhubungan diri dengan realitas tunggal wujud inilah dasar pertama manusia Indonesia. Ini ruh Sila pertama.

Dasar kedua adalah kesadaran diri bahwa manusia Indoneaia adalah terhubung dan bagian tak terpisahkan dengan peradaban dunia. Lawan peradaban adalah kebiadaban. Ruh dari peradaban adalah hadirnya keadilan Ilahi dimuka bumi. Dibangun melalui hakikat dasar kemanusiaan yakni rasionalitas yang terverifikasi oleh wayhu Tuhan. Ini ruh sila kedua.

Ketiga adalah kesadaran kebangsaan. Bahwa kita sebuah bangsa. Namanya bangsa Indonesia. Kekuasaan sistem kerajaan sisa sedikit di muka bumi. Yang banyak negara bangsa. Nation state. Bangsa Iran, punya negara Repubkik Islam Iran penduduknya beragama apa saja tidak harus Islam. Karena konsepnya negara bangsa. Bangsa Jepang punya negara Jepang. Dan lain-lain. Ini ruh sila ketiga.

Yang ke empat manusia Indonesia harus memiliki kesadaran sebagai rakyat, rain (pemimpin), pemilik kedaulatan dan pemilik suara (distributor mandat).

Manusia Indonesia harus disiapkan menjadi rakyat yang berhikmat. Karena pemimpin berhikmat diambil dari rakyat juga. Manusia Indonesia harus sadar bahwa kedaulatan rakyat ada di tangannya, dan didistribusikan mandatnya kepada wakil-wakilnya di legeslatif maupun pemimpin politik melalui Pemilu sistem demokrasi. Rakyat berhikmat adalah kunci utama yang harus dipelihara dengan baik. Dari rakyat berhikmat akan menghasilkan pemimpin berhikmat, demokrasi berhikmat, sistem politik berhikmat dan ulil amri atau pemerintahan berhikmat. Ini ruh sila ke empat.

Sisi atau tingkat ke delapan adalah kesadaran manusia Indonesia sebagai rakyat yang berhak mendapat keadilan sosial. Ini ruh sila ke lima.

Dul Kampret :

Wah kalai begini sederhana tapi jelas Kang. Ini akan membantu sekali dalam membentuk manusia Indonesia. Revolusi mental harus dibangun dari sini. Bangunlah jiwanya. Jiwa bangsa, patriot proklamasi. Ini baru garuda Pancasila dapat pendukung yang kuat. Oyo maju maju, ini baru Indonesia maju. Baru ada pandu buat ibu pertiwi. Kang, Kang Mat
kemana samoeyan Kang.

Pakandangan kembali sunyi. Dul Kampet mencari Kang Mat yang tiba-tiba menghilang. Mungkin ke kambing-kamningnya yang kehausan. Pakandangan belum turun hujan.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Wednesday, November 6, 2019 - 09:00
Kategori Rubrik: