Mencari Kebahagiaan

ilustrasi

Oleh : Teguh Arifiyadi

Sepulang mondok dari pesantren, saya sowan ke kakek saya (almarhum), seorang kiyai dan alim di kampung kami. Sebelum sempat saya bicara, kakek saya tanya, "sebenarnya, apa sih yang manusia cari dalam hidup ini?" Saya gelagapan, tak siap dengan pertanyaan seperti itu, saya jawab sekenanya.
.
"Sukses..", kata saya singkat. "Bukan..", kata kakek saya datar. "Mengamalkan ilmu.." kata saya merevisi. "Bukan..", kakek saya masih berkata sama. "Ibadah dan beramal..", jawab saya tak menyerah. "Bukan..!!", kakek saya mulai sedikit mengeraskan suaranya. Rupanya jawaban saya bukan jawaban yg diharapkan.
.
Lalu beliau berujar, "begini, sebenarnya yang manusia cari dalam hidup itu adalah bahagia, baik bahagia di dunia maupun di akhirat. Perihal sukses, ibadah, atau amal itu hanya cara masing-masing manusia untuk mewujudkan kebahagiaannya sendiri." Penjelasan beliau simpel. Saya manggut-manggut dengan tatapan kosong. 
.
Sekarang, belasan tahun kemudian, saya mulai paham lebih dalam esensi pesan tersebut, bahwa saya yang harus menentukan bahagia versi saya sendiri. Apapun caranya!
.

Ada orang yang bahagia dengan kesendiriannya, di sisi lain ada orang yang bahagia dengan selalu berkumpul. Ada orang yang bahagia dengan menabung dan investasi sebanyak mungkin, tapi ada juga orang yang berbahagia hanya karena mampu membeli sepasang sepatu untuk anaknya. 
.
Manusia mendefinisikan bahagia dengan caranya masing-masing, bukan perkara besar kecil sesuatu yang dicapai, tapi kedalaman syukur yang mengalirkan hormon endorfin bagi tubuh dan hati agar terus merasa bahagia. Jadi, jangan biarkan orang lain mengatur parameter bahagia menurut versi mereka.
.
Hari ini saya mudik, saya sempatkan ziarah ke makam almarhum kakek saya. Saya refleksikan kembali pesan indah tersebut. 
.
Al fatihah untuk beliau, kakek sekaligus guru mengaji saya.

Sumber : Status Facebook Teguh Arifiyadi

Wednesday, August 14, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: