Mencari Keadilan Semu

Oleh: Vinanda Febriani
Ah.. Indonesia
Kemarin sempat ramai debat pro-kontra terhadap kasus Felix Nesi (selanjutnya akan saya tulis FN), sastrawan muda yang terlibat kasus pengrusakan kaca jendela Pastoran SMK Bitauni.
Saya sempat beberapa kali membaca tulisan keluhannya ketika terpaksa harus "menginap" di kantor kepolisian setempat. Dari tulisan itu, sangat terlihat secara jelas bahwa FN tengah kesal dengan kelakuan pihak Gereja yang seolah membiarkan Pastor A tetap "eksis" meski terlibat kasus pelecehan seksual di tempat lama (sebelum dipindahkan).
 
Saya mencatat ada setidaknya dua kubu yang bertentangan. Kubu pertama menyatakan mereka pro terhadap tindakan FN yang berada di tingkat kemarahan akibat tuntutannya tidak digubris oleh pihak terkait (Pimpinan Gereja). Menurut mereka, wajar jika FN marah, sebab kasus pelecehan yang melibatkan Pastor Gereja Katolik (yang mana para pastor tidak boleh menikah dan kawin) sudah parah.
Di banyak kasus sebelumnya, kasus semacam itu hanya berhenti pada tindakan pemindahan Pastor yang terlibat ke lokasi lain yang berbeda. Hal itu kemudian menimbulkan asumsi bahwa Gereja Katolik membiarkan pelaku kriminal tetap eksis.
Kubu kedua beranggapan bahwa tindakan FN keliru. Mereka mendukung upaya sigap aparat kepolisian dalam menerima laporan atas perusakan fasilitas Pastoran. Dari kubu ini pun, tercatat beragam opini yang berbeda. Opini satu mengatakan, pemindahan Pastor A ke tempat lain itu sudah merupakan hukuman dari pihak Gereja. Opini dua mengatakan, Pastor dan FN sama-sama salah dan harus sama-sama diganjar sesuai kesalahannya. Opini tiga bahkan melazimkan tindakan Pastor, mereka beranggapan bahwa Pastor juga manusia yang memiliki hawa nafsu. Sehingga kasus pelecehan seksual ini dinilainya tidak ada masalah. Toh, Pastor A sudah diganjar hukuman yang "setimpal".
Dalam sedikit catatan ini, saya tak akan membahas pro-kontra FN (meski mungkin akan sedikit menyinggung). Namun lebih pada tindakan-tindakan pelecehan seksual yang sering kita hadapi, bahkan kita lazimkan.
Pelecehan seksual sangat beragam. Seperti yang sudah kita kenal, ada jenis pelecehan verbal dan non verbal, pun keduanya memiliki banyak jenis yang tidak mungkin saya jelaskan satu persatu. Setiap manusia yang hidup di dunia ini punya peluang melecehkan dan dilecehkan, menjadi pelaku atau menjadi korban. Sehingga setiap individu harus memiliki prinsp teguh untuk tidak menjadi keduanya dan syukur-syukur ikutserta dalam membela hak-hak para korban.
Pelecehan seksual di Indonesia sangat kerap terjadi. Perdetik, permenit, perjam bahkan perhari. Mulai dari pelecehan sepele mengunggah foto sexy perempuan dengan mengomentari salah satu bagian tubuhnya, atau yang lainnya hingga pelecehan paling biadab yakni memperkosa. Para korbannya pun tak terhitung jumlah pastinya. Sangat banyak. Yang terdata hanya yang berani menyuarakan haknya, yang tidak bersuara justru lebih banyak.
Mereka tidak bersuara bukan karena menikmati pelecehan itu, ataupun membenarkan. Namun karena mereka tidak tahu harus menyuarakan dengan apa dan bagaimana, sedangkan mungkin luka trauma itu terus membayang-bayangi pikirannya. Bahkan jika mereka bersuara, tidak akan selantang suara penghakiman lingkungan sekitar yang seringkali lebih membela pelaku dibanding berpihak kepada korban, lebih suka menghakimi korban karena pakaiannya, penampilannya bahkan hingga kualitas imannya.
Saya mengamati beberapa korban pelecehan seksual di sejumlah daerah, termasuk daerah saya. Dimana sering terjadi perundungan terhadap korban, bahkan korban seakan dijauhi dan dianggap sebagai "penyakit" dalam masyarakat. Sedangkan pelaku tidak. Ganjaran paling sering, pelaku diharuskan menikah dengan korban, yang membuat korban seringkali justru merasa tertekan.
Seorang perempuan korban yang pernah saya temui, dia mengisahkan kepedihan hidupnya. Sebut saja namanya Y, dan laki-lakinya sebagai X. Y diperkosa oleh X karena mereka sudah berpacaran cukup lama, kurang lebih 4 tahun. Y kala itu duduk di bangku SMA, karena beberapa minggu kemudian dinyatakan positif hamil. Keluarga siapa yang tak terkejut mendengar kabar tersebut? Keluarga Y langsung menduga X sebagai pelaku, dan benar. Selang beberapa lama kemudian, mereka dinikahkan.
Alih-alih kehidupan Y dan X setelah menikah berlangsung bahagia, X justru kerap berlaku kasar kepada Y. Saya menduga sebab faktor ekonomi. Mengingat Y dan X masih usia-usia pelajar yang di Drop Out dari sekolahnya sebab kasus tersebut. Mereka masih labil. Kandungan Y bermasalah, rahimnya tidak kuat. Risiko besar akan terjadi kepadanya. Entah bayinya cacat atau dia yang menderita bahkan hingga merenggut nyawa. Sedangkan suaminya, si X, tak sedikitpun menghiraukan keluhan-keluhannya. Belum lagi kondisi masyarakat sekitarnya yang seakan mengucilkan dan mendiskriminasinya. Y menyerah, lalu ia pasrahkan semua kepada Tuhan.
Saya belum paham bagaimana cara melapor korban kepada pihak-pihak seperti YLBHI kala itu. Sehingga cerita ini hanya saya simpan sendiri. Pun sudah sangat lama kami tidak bertatap muka. Saya tak tahu bagaimana kabar Y, yang saya tahu dia bekerja di luar kota. Entah dimana dan entah bagaimana kondisi bayinya.
Kasus X dan Y ini sering terjadi. Karena terlalu lama berpacaran, seringkali suatu pasangan menganggap dirinya berhak mendapat "keuntungan" dari pasangannya. Mereka tahu itu salah, namun tetap nekat dilakukan karena adanya dorongan hasrat atau hawa nafsu yang sangat kuat. Ini contoh hubungan yang tidak sehat. Jika anda mengalami, langsung saja tinggalkan tanpa banyak pilihan. Sebab jika diteruskan, bisa jadi anda akan mengalami seperti yang terjadi pada X dan Y.
Kekeliruan dari masyarakat kita adalah tindakan penghakimannya kepada korban. Harusnya, korban adalah orang pertama yang wajib dilindungi dan diberikan semangat. Perjuangannya amat pedih. Ia akan mendapat cibiran dari orang lain, belum lagi jika ia melapor ke kepolisian setempat seringkali ia justru diremehkan. Apalagi, korban tak punya bukti-bukti yang bisa dijadikan landasan untuk menjerat pelaku dengan pasal, mungkin karena kejadiannya sudah agak lama dan ia baru bisa melapor.
Terkait kasus Pastor A. Seharusnya pemuka agama adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya. Pelecehan seksual tidak hanya dilakukan oleh Pastor, namun juga terjadi kepada beberapa oknum pemuka agama Islam, dan agama lainnya. Apapun itu, pelecehan seksual tak pandang agama, namun pandang kesempatan. Pun ia tak pandang pakaian.
Seringkali orang menganggap pelecehan terjadi akibat pakaian perempuan yang minim. Sebenarnya, seminim apapun pakaian perempuan, tak akan berpengaruh selama tidak ada pikiran buruk dan porno di otak. Perempuan berpakaian panjang dan "syar'i" pun juga memiliki cepah untuk dilecehkan. Lagi-lagi saya katakan, pelecehan seksual tak pandang SARA ataupun pakaian, namun pemikiran dan kesempatan. Pelecehan tak hanya berlaku pada perempuan. Laki-laki juga memiliki peluang untuk dilecehkan dan diperkosa, meski risikonya tak seberat perempuan yang punya rahim dan bisa hamil.
Perjuangan para korban pelecehan seksual dalam mencari keadilan sangatlah berat. Jika kita menemukan korban disekitar kita, dekatilah dan doronglah dengan semangat agar ia tak putus asa mencari keadilan.
Kemarin wajah lesu yang berbulan-bulan mencari keadilan namun tak dihiraukan itu sempat bernafas lega. Mereka hampir merdeka dengan dirancangnya UU Penghapusan Kekerasan Seksual. Namun wajah yang mulai bercahaya itu kembali redup seketika, setelah mendengar Pak-Bu Parlemen yang disebut-sebut "mewakili rakyat" mencabut pembahasan RUU PKS tersebut. Para orang jenius yang ada di Parlemen itu, mereka acapkali mengklaim pihaknya mewakili rakyat, padahal faktanya seringkali mereka acuh bahkan tak sama sekali merasakan pedihnya perjuangan rakyat.
Dimana UU Minerba disahkan, Omnibus law dibahas, RUU HIP diusulkan, Revisi UU KPK diketok palu. Namun RUU PKS boro-boro disahkan, bahkan dibahas saja tak perlu karena tidak mampu. Sungguh jeniusnya para wakil rakyat (baca: wakil Partai) kita.
Subhanallah, saya sangat terharu
Jadi tidak mau banyak berharap kepada mereka. Males. Digantungin mulu.
Ah mbuhlah...
Magelang, 8 Juli 2020.

(Sumber: Facebook Vinanda F)

Wednesday, July 8, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: