Menangkal Hoax Berdalih Hoax

ilustrasi

RedaksiIndonesia-Sebelumnya pada posting FoF telah disebutkan bagaimana otak manusia bekerja dalam paparan propaganda berkesinambungan. Apa yang sebelumnya bisa ditangkal sebagai kebohongan, akan menjadi kebenaran yang berterima saat otak terus mendapat kebohongan yang sama. Oleh karenanya seorang manusia berakal sehat harus berdiri di luar garis pertempuran antara kebenaran dan kebohongan, dan tetap menjaga jarak agar tetap bisa melihat secara jernih.

Di masa teknologi berkecepatan tinggi ini, gempuran informasi menjadi sangat masif. Nyaris tidak terlihat garis batas pembeda kebenaran dan kebohongan. Oleh karenanya, penerima informasi cenderung mengikuti nalurinya untuk mencari selamat dengan melihat mana kumpulan dengan jumlah yang banyak.

"Jumlah yang banyak merepresentasikan kebenaran", itu yang ada dalam pikiran mereka. Pada kenyataannya, jumlah yang banyak juga bisa merupakan hasil propaganda atau "cuci otak". Yang paling miris adalah ketika jumlah banyak itu meliputi orang-orang yang diancam untuk ikut serta dalam barisan; "Anda ikut kami, atau anda musuh kami".

Pengungkapan kebenaran dan/atau pemberantasan hoax sayangnya masih rentan dengan pengaruh kelompok bersuara paling ribut. Kebenaran yang seharusnya bebas kepentingan menjadi terpolitisir, tersimpangkan dan menjadi semakin jauh dari pikiran. Manusia pun juga akan semakin tersesat, malas/bodoh dan akhirnya memilih untuk selalu disuapi informasi, meskipun itu adalah kebohongan.

 

Sebagai contoh, ketika muncul tayangan video pernyataan Aliansi Dokter Dunia (WDA) yang mengungkapkan kebenaran tentang status pandemik Covid-19, beramai-ramai sebagian anggota masyarakat menyebutkan hal itu sebagai hoax. Modal penuduhan hoax terhadap video tersebut adalah video lain yang menunjukkan penangkapan salah satu dokter WDA. Dengan arogan mereka menggiring opini bahwa dokter WDA tersebut ditangkap karena video pernyataannya bersama rekan dokter tentang status pandemik C19 tersebut.

Ketika ditelusuri, ternyata penangkapan yang terekam dalam video tersebut terjadi jauh sebelum video pernyataan status pandemik C19. Dengan demikian, penggiringan opini bahwa video pernyataan tersebut adalah hoax sehingga si pembuat pernyataannya ditangkap, adalah hoax yang sebenarnya. Hoax yang berdasar pada fallacy sebagian, di mana suatu video memang ada namun narasi yang diberikan adalah suatu kebohongan yang disengaja.

Oleh karenanya, kita harus kembali mengaktifkan nalar, akal sehat dan keingintahuan (skeptisisme) kita terhada suatu informasi. Kemampuan penalaran (literasi) yang mumpuni bukan didapat dengan sekejap mata, melainkan dengan latihan yang terus menerus untuk membedakan mana kebenaran dan kebohongan. Semakin masyarakat Indonesia terbiasa mengolah informasi dengan benar, maka akan semakin jelas arah kemajuan bangsa Indonesia.

Sumber : Status Fanspage HEALCommunity

Thursday, October 29, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: