Menang atau Kalah Tetap Mencintaimu, Sepakbola Indonesia!

Oleh: Dwi Klik Santosa

Ingin bergembira dengan terpilihnya Sir Alfred Riedl sebagai pelatih kepala timnas sepakbola Indonesia. Seperti dikatakan tuan arsitek pertandingan sepakbola yang pernah menangani timnas Austria dalam cabang ini akan dipantau dalam beberapa bulan ini dari perhelatan ajang Indonesia Soccer Championship untuk memilih pemain-pemain terbaik. Tak diragukan lagi selera pak tua ini sebagaimana ditunjukkannya ketika merekrut pemain sebagai sekuat timnas dan nyaris juara di ajang AFF tahun 2012 yang lalu.

"Pemain muda berbakat dan utamanya yang antusias ingin mempersembahkan yang terbaik bagi negaranya adalah prioritas," begitu katanya.

Sangat menyentuh batin menurut saya yang sangat memerhatikan dan fanatis terhadap sepakbola Indonesia ini, sebagaimanapun keadaannya, kalah atau menang, bahkan dalam setahun ini diblack-list oleh FIFA. Tapi asalkan dijauhkan unsur dan entitas kebanggaan kita ini dari proses dan mekanisme kotor yaitu pengaturan pertandingan hanya demi untuk meraup kepentingan sepihak oleh para-para yang bermain, saya rasa sampai kapan pun dan siapa pun timnas yang terbentuk dan akan dilatih, akan tetap menjatuhkan kecintaan dan antusias mendukungnya.

Sudah benar menurut saya, apa yang dilakukan oleh pemerintah kita saat kini melalui keputusan Kemenpora untuk membekukan PSSI. Memang ironi jika lanjut dipikirkan. Karena bernada pemerintah yang terlampau jauh ikut mengurusi rumah tangga cabang olahraga ini. Tapi bagaimana pun harus dilakukan, karena itu menyangkut hal kebanggaan sebagai bangsa. Bagaimana bisa juara, kalau bisa diatur-atur sedemikian rupa itu, jauh melampaui kaidah semangat olahraga yaitu fairplay dan sportivitas. Masuk akal belaka, jika ada selentingan isu bahwa kekalahan di final AFF 2012 itu adalah proses dari jual beli pengaturan itu. Memang bola itu bundar, tapi toh, segar dalam ingatan kita tentang statistik pertandingan dari babak awal hingga sampai final dan harus bertemu dengan jiran seteru, yaitu Malaysia, tentunya adalah hal yang prestisius dan sangat laku kalau seandainya ini dijadikan barang dagangan. Akan mahal harganya dan bisa meraup untung yang sebesar-besarnya. Oh, tapi sebesar apapun untung dalam nilai nominal, tapi takkah nasionalisme yang berdentum di dada-dada para pecinta lambang garuda di dadaku ini jauh lebih mahal dan prestisius keberadaannya. Betapa tega! Kenapa bisa kebanggaan diperjual-belikan?

Tentu dengan penunjukan dan tekad yang telah disampaikan Sir Alfred itu sangat menggembirakan menurut saya, andai ia mau menambahkan lagi komitmennya. "Saya anti suap dan tidak ada yang saya pikirkan dari sepakbola, kecuali mendapatkan kemenangan melalui proses yang fairplay dan menjunjung tinggi sportivitas." Moral atas kebanggaan itu dedikasi, jika sudah terlampau jauh campur tangan urusan yang di luar kaidah-kaidah normatif maka logika saya pun cenderung membenarkan, untuk apa sepakbola Indonesia dicairkan lagi agar bisa bergulir kembali merumput di laga-laga prestisius internasional. Hanya akan menambah malu saja.

Mungkin tak harus menunjuk ke hidung Sir Alfred untuk hal-hal seperti ini, tapi kepada PSSI yang semestinya karena kepada merekalah hal-hal yang terkait mekanisme dan manajemen timnas itu diselenggarakan dan direalisasikan. Tidak akan pemerintah ikut campur terlampau jauh, kiranya, hingga harus membekukan jika saja tak ada praktek premanisme yang menggulir sebagaimana isu-isu santar yang berkembang. Toh, seandainya kabar akan ketua umum PSSI yang buron dan terlibat perkara pidana itu belum cukup, untuk meyakinkan adanya sesuatu yang tidak baik di tubuh PSSI, seharusnya kemana lagi kita akan berharap bahwa sepakbola kita boleh menggulir lagi, meski harus kalah dan belum juga juara, tapi janganlah dinodai lagi perihal kebanggaan itu dengan nista tentang moral yang rendah itu.

Secara pribadi saya berharap, pembekuan PSSI dan sanksi FIFA itu seperti semacam terapi, agar kiranya, sepakbola Indonesia bisa mewujud pula sebagai kristal-krsital nasionalisme, tak hanya sekadar nilainya diartikan sebagai sumber profesi bagi mereka yang mencari kenyang belaka dan mapan dari jalur olahraga ini. Gempita Piala Eropa dan PIala Amerika di bulan Ramadhan ini bukankah gambaran bagaimana masyarakat dunia di dua benua itu demikian fanatik mencintai sepakbola atas nama kebanggaannya sebagai bangsa. Maka, jelas bahwa urusan sepakbola pun ternyata bisa dianggap sebegitu pentingnya. Sepenting para suporter atau maniak sepakbola yang rela meninggalkan jadwal-jadwalnya dan rela menabung bahkan menjual benda kesayangannya hanya demi ingin bisa datang dengan membeli tiket agar dapat menonton serta mendukung timnas kesayangannya. Betapa suci dan relijius perasaan masyarakat yang tulus mencintai negara dan bangsanya melalui sepakbola, maka hendaknya praktek premanisme yang menjual-belikan kebanggaan itu harus diperangi, dianggap najis senajis-najisnya yang harus dicuci berkali-kali jejaknya agar tak mengotori semangat dan fitrah elan vital olahraga yaitu fairplay dan sportivitas!

Bravo sepakbola Indonesia!

 

(Sumber: Facebook Dwi Klik S)

Sunday, June 19, 2016 - 06:45
Kategori Rubrik: