Menakar Prabowo, Mengukur Yenny

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Tiga hari ini kita dibuat jantungan atas manuver PS yg meminang Yenny Wahid untuk dicalonkan sebagai Gubernur Jatim, padahal kondisi NU Jatim juga sedang meriang karena dua kader unggulannya bukan kompak malah saling menolak dan tak mau jinak. Penglihatan kita yg kadang tak bisa lebih dalam adalah bahwa posisi Gus Iful yg wakil Gubernur Jatim dua priode kan gak mau lagi dijadikan wakil, masak jadi wakil abadi. Sementara Kofifah yg menteri juga sama, masaklah menteri dijadikan wakil, dari sana secara manusiawi yg lumrah terjadi, semua masalah ego, karena kecap selalu tidak ada nomor dua, seolah menjadi nomor dua itu hina, tapi kalau ngomongin dirinya selalu untuk negara, katanya. Tapi positifnya dengan dua pasangan yg dimuati NU, maka pasangan yg akan bersaing lainnya bisa pusing, La Nyala ada disana coba2 dgn Kekuatan Pemuda Pancasila, ternyata malah tidak bisa NYALA, melempem.

Pinangan PS kepada YW itu gambling besar, bila YW menerima maka perpolitikan Indonesia, dan Jatim khususnya akan "geger", dan PS akan makin jumawa, untung YW bukan kelas rata-rata, anak Gusdur ini begitu menauladani ayahandanya, dan orang-orang sepuh NU yg kerap bisa dijadikan tauladan, bukan cuma gaya-gaya'an. PS salah jualan, kelas negarawan ditawari ngurus kecamatan, PS lupa mengganti kacamata kudanya dgn kacamata plus dua, dia selalu memakai kacamata minus 2, cukup baik untuk melihat yg jauh tapi tak bisa membaca yg dekat dgn mata, memang repot karena pawang spiritual politiknya sudah tua, ya AR boleh ngerjai Gusdur, tapi terlalu pede mau mengulangi untuk bisa menunggangi anaknya Gusdur.

 

 

Dari geliat itu kita harus makin menyatu. Bukan masalah NU atau Jatim 1, tapi negeri ini sedang berseteru dengan manusia-manusia kelas dua yg isi kepalanya cuma ingin berkuasa. Manuver PS dengan modal nafsu merebut kekuasaan tidak bisa dibiarkan, koloni koalisinya sudah jelas adalah partai penghujat pemerintah, penolak PERPPU ormas yg ganas penentang pancasila, jadi tidak ada alasan kita membiarkannya, setiap gerakan mereka dalam manuver pilkada yg sedang ada semua bermuara pada keinginan berkuasa saja.

Orang-orang buta hati dan rasa ini tidak bisa lagi melihat perbedaan antara kebenaran dan kebathilan, calon capres abadi ini akan terus makin menjadi-jadi, halusinasinya makin tinggi karena setiap hari dibisiki oleh para kroni bahwa dia diinginkan rakyat Indonesia mengganti Jokowi, dia lupa membedakan antara Djoko Widodo dgn Bambang Yudhoyono, yg satu berprestasi yg satunya cuma bisa nyanyi, sehingga kalau mau mengambil posisi Jokowi bukan cuma butuh energi, tapi prilaku dan akal budi harus diisi, tidak cukup cuap-cuap sana sini manas-manasi rakyat agar membenci Jokowi, itu namanya cuma ngakali dan tak bernyali.

Contoh Jakarta yg berhasil mereka kerjai, sekarang sedang berproses untuk dihancurkan, semua yg sudah ditata Jokowi-Ahok dihabisi, jalan saja dibuat jualan, pasar yg dibangun akan dibongkar, Sumber Waras tak akan diteruskan, bukan melanjutkan kebaikan, malah membentuk KPK=KPKan. Proses ini akan terus dikerjakan agar semua berbenturan, sekarang mereka menuju ke Medan, dengan jendral pongah mulai menunjukkan bahwa mereka dibutuhkan Indonesia, seru juga kita melihatnya, tapi tidak apa-apa, karena dengan kelakuannya kita makin bisa memetakan mereka ada dimana dan harus bagaimana KITA MENGHADAPINYA.

Pilkada serentak adalah warming up untuk kepentingan yg lebih besar, merebut kekuasaan dgn caranya itu pasti dilakukannya, kita tidak bisa membiarkannya. JANGAN SAMPAI RUMAH KITA MEREKA BAKAR DAN BARANG KITA MEREKA RAMPOK SEMUA.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Friday, January 5, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: