"Menakar" Kealiman Kyai : Pak Moqsith dan Gus Baha

ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Beginilah cara saya menilai kiai. Terlepas mau menggunakan perspektif apapun: fikih, filsafat, tasawuf, dll. Perspektif fikih kalau paradigmanya saklek, yang ada fikih yang dihasilkan nantinya "hitam-putih." Begitu juga misalnya dengan tasawuf, kalau tasawufnya tasawuf falsafi, ini akan melahirkan pemikiran progresif. Karena ada tasawuf falsafi, kelihatannya mungkin sekali ada pendekatan fikih-falsafi juga.

Silakan cek dan bandingkan antara Pak Moqsith (KH. Abdul Moqsith Ghazali) dengan Gus Baha (KH. Bahauddin Nur Salim). Kedua kiai NU ini alim dalam fikih dan ushul fikih. Pak Moqsith lebih bergelut pada dunia kampus sebagai dosen, sementara Gus Baha bergelut di Pesantren sebagai pengasuh. 

Perhatikan kedua kiai ini dalam mengupas pemikiran soal kesetaraan gender, LGBT, pluralisme, nikah beda agama, memakai jilbab/hijab/cadar, dll, saya yakin akan ada dua hasil pemikiran yang berbeda, padahal perspektifnya sama pakai perspektif fikih-ushul fikih.

Untuk memudahkan lagi begini:

- Pak Moqsith: suport kesetaraan gender, LGBT dan pluralisme, memakai jilbab tidak wajib dll

- Gus Baha: sangat memungkinkan sekali menolak kesetaraan gender, LGBT dan pluralisme, memakai jilbab hukumnya wajib dll

Saya menghormati kedua kiai NU ini. Saya menghargai kedua perbedaan pendapat ini. Tetapi saya tetap harus menyatakan bahwa pendapat Pak Moqsith yang saya ambil. Karena apa? Ada banyak konsekuensi dan pertimbangannya. Terutama agar kita terhindar dari konservatisme dalam beragama. Di sinilah saya merasa bahwa berbagai pemikiran Gus Baha sangat dekat dengan pemikiran komunitas hijrah.

Sumber : Status Facebook Mamang Haerudin

Wednesday, February 5, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: