Menakar Kadar Keislaman Prabowo Subianto

Ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Pada saat kampanye di Garut, Prabowo sempat menghentikan pidatonya sejenak setelah berbicara soal impor. Kala itu waktu asar, maka berkumandanglah adzan "...Ini adzan? Adzan kita tutup sebentar, break. Dengan break saya bisa minum kopi," ucapnya. Kemudian dia menyempatkan diri selfie bersama sejumlah ibu-ibu.
------

Prabowo Subianto Sang Capres abadi untuk kesekian kali membuat blunder yang tidak perlu. Pada saat berkumandang adzan, harusnya dia berhenti pada kalimat : " ..... Ini adzan ? Adzan kita tutup sebentar, break". Tanpa harus ada embel-embel kalimat : ".....dengan break saya bisa minum kopi".

Mungkin dia sedang mencoba melucu sembari mencoba menghormati adzan. Tapi yang mungkin dia tidak tahu bahwa adzan adalah panggilan umat muslim untuk sholat, bukan break minum kopi dan selfie. Mungkin juga Tim Sukses pendamping Prabowo lalai saat itu atau mungkin takut untuk memberi tahu akan hal ini. Tapi peristiwa di Garut beberapa waktu lalu telah menunjukkan dengan jelas bahwa pengetahuan dasar Prabowo tentang Islam sangat memprihatinkan.

Prabowo sendiri dalam Ijtima Ulama ke-2 beberapa waktu lalu mengakui sendiri bahwa dia bukan seorang Islam yang baik. Presiden PKS Sohibul Iman juga mengatakan Prabowo bukan seorang Islam yang taat.

Tapi tingkat keparahan pengetahuan dasar tentang Islam dari Prabowo memang termasuk masuk pada level 10. Ada cerita lucu, pada saat bertemu Yenny Wahid di kantor PBNU beberapa tahun lalu, saat masuk waktu sholat dia diminta menjadi imam sholat. Apa yang terjadi ? Dengan tingkat kesantunan yang luar biasa Prabowo justru mempersilakan Yenny Wahid jadi imam sholat, dengan alasan Yenny Wahid anak Kyai. What ????

Tingkat kesantunan yang tidak dibarengi dengan pengetahuan yang memadai, hasilnya adalah kekonyolan yang memalukan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Prabowo Subianto memang tumbuh dan berkembang BUKAN dalam lingkungam keluarga yang Islami tapi dia dan saudara-saudaranya terdidik dalam aura keluarga Kristen yang sangat taat. Didikan Sang Ibunda Dora Marie Sigar sangat kuat sehingga suasana keluarga Soemitro Djojohadikusumo sangat kental dengan suasana Kristen yang indah. Konon Prabowo sendiri menjadi Islam pada saat mau menikah dengan Titiek Soeharto pada tahun 1983. Tapi harus diakui suasana toleransi beragama diantara anak-anak Soemitro Djojohadikusumo memang luar biasa bagus. Mereka saling menghargai satu sama lain.

Jadi menurut saya ada kesalahan strategi dari Tim Pemenangan Prabowo. Seharusnya kerukunan keagamaan dari keluarga Prabowo yang indah itu bisa dijadikan potensi untuk bahan kampanye kehidupan toleransi antar umat beragama di Indonesia. Tapi yang terjadi Tim Pemenangan Prabowo justru memposisikan Prabowo seolah lebih islami dibanding lawannya. Dan pendukung- pendukungnya malah dengan super ganas menyerang kadar keislaman Jokowi. Ini pilihan strategi yang konyol. Semua orang waras di Republik ini pasti mengakui, tingkat pengetahuan keislaman Jokowi jauh di atas Prabowo.

Terlalu banyak blunder tidak perlu yang dilakukan oleh Prabowo akhir-akhir ini. Kampanye Prabowo mulai ngawur gak karuan. Dia memberikan data dengan asal-asalan, dia memfitnah kesana-kemari. Dan itu terlalu mudah dipatahkan oleh kubu lawannya. Sungguh bukan perlawanan yang seharusnya diharapkan oleh Jokowi. Apalagi Cawapresnya hanya sibuk main di pasar dan sibuk membuat hoax harga cabe keriting, petai dan lainnya. Belum lagi pengetahuan adab Islami dari seorang Sandiaga Uno juga tidak kalah parah. Dia seenak sendiri melangkahi makam pendiri NU dan menabur bunga di makam sesepuh NU dengan tegak berdiri seperti sedang memberi makan ayam. Mengapa tidak ada Timsesnya yang membisiki bahwa adab berziarah ke makam itu dilakukan dengan jongkok ?

So, seberapa besar kadar keislaman seorang Prabowo Subianto ? Itu bukan wilayah kita untuk menilai kadar keimanan orang lain. Itu sudah masuk otoritas hak Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat. Prabowo hanya kurang pengetahuan mendasar tentang Islam. Ini yang harusnya menjadi PR besar bagi Timses Prabowo. Apalagi mereka terlanjur berani masuk pada segmentasi market yang dominan Islam. Dan kebetulan mereka juga didukung oleh PKS dan beberapa ormas Islam.

Saran saya buat Timses Prabowo, jangan biarkan Prabowo masuk pada wilayah yang dia tidak kuasai. Hal ini akan membuat dia tampak konyol. Jangan biarkan juga dia sok melucu dengan suara kebule-bulean sambil menari-nari suweeer dia tampak sangat menjijikkan. Biarkan dia apa adanya, menjadi Prabowo Subianto yang punya semangat tinggi untuk menjadi Presiden meskipun dia tidak punya kapabilitas dan kapasitas untuk jabatan itu. Jangan ijinkan dia untuk mengumbar amarah dan menghina orang lain. Jadikan dia sosok yang rendah hati. Kerendahan hatinya akan membuat dia dikenang menjadi Capres abadi yang santun dan rendah hati. Bukan Capres yang konyol dan emosional.

Paham kan Dul ?

Salam SATU Indonesia,
Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Wednesday, November 21, 2018 - 12:15
Kategori Rubrik: