Menafsirkan Salam Ahok untuk Raja Salman

Oleh : Muhammad Nurudin

Timeline facebook saya sore hari ini basah kuyup dengan gambar Ahok yang tengah bersalaman dengan Raja Salman. Beberapa hari yang lalu kucuran tulisan para Ahokers sudah mulai reda. Tapi kini, Ahokers mulai bangkit kembali setelah jagoan mereka menyalami seorang raja yang baru saja tiba dari negeri Saudi Arabia.

Jabatan tangan antara para pejabat publik tentu adalah hal yang biasa-biasa saja. Namun, berhubung yang bersalaman ini adalah Basuki Tjahaja Purnama, maka tak heran jika jagad sosial media dengan seketika dibuat gempar-cetar-membahana.

Melihat Ahok bersalaman dengan Raja Arab, di antara Ahoker ada yang iseng berkomentar: “Kalau sekelas Raja Salman saja sudi bersalaman dengan Ahok, kenapa Habib Riziq tidak?” (Mungkin mereka masih baper dengan sikap Habib Riziq yang tempo hari tidak menyalami Ahok usai persidangan).

Kalau Raja Salman menyalami Ahok ya tentu wajar saja. Raja Salman kan mana tahu kalau orang yang ada di hadapannya adalah Kapir Cina dan Penista Agama. Ya nggak? Apalagi Ahok kan udah nyamar pake peci item. Melihat Ahok pake peci, ya bisa jadi Raja Salman mengira kalau orang yang menyalaminya itu adalah khotib Masjid Istiqlal yang saleh dan taat beragama.

Berhubung foto itu sudah tersiar luas di sosial media, saya mau iseng-iseng berkomentar hitung-hitung meramaikan suasana. Setidaknya saya punya tiga catatan, yang saya sendiri tidak tahu apakah tiga catatan ini nyambung dengan momen kedatangan Raja Salman atau tidak. 

Pertama, selama ini Ahok dizalimi oleh sebagian orang Islam dengan tuduhan penistaan Agama padahal dia sendiri tidak bermaksud untuk menistakan dan faktanya memang tidak ada penistaan yang dia lakukan. Secara psikologis, Ahok pasti merasa tertekan. Karena itu, saya berpandangan bahwa jika kelak Ahok menanam kebencian kepada umat Islam, saya kira itu adalah sebuah sebuah kewajaran. Meskipun saya tak berharap demikian.

Semua itu adalah buah dari ketidak-dewasaan umat Islam dalam menuntaskan persoalan. Anda harus sadar bahwa dizalimi oleh banyak orang dengan tuduhan yang kejam itu bukan perkara enteng yang bisa dihadapi dengan senyuman lebar. Kalau kelak Ahok jadi penista al-Quran sungguhan, Andalah yang menjadikan Ahok demikian. Tapi saya yakin. Ahok bukan tipe manusia pendendam. Ahok tak akan melakukan hal demikian.

Meski mendapat perlakuan berlebihan, selama ini saya lihat Ahok biasa-biasa saja, tidak baperan. Saya kok nggak pernah gitu ya melihat dia curhat di pesbuk ataupun twitter seperti yang dilakukan oleh Sang Mantan. Bahkan, ketika diwawancarai Aljazeera, Ahok masih sudi menyebut Islam di Indonesia sebagai Islam yang rahmatan lil 'alamin. Padahal yang dia terima selama ini adalah Islam yang laknatan li ghairil muslimin.  

Sikap Ahok ini saya kira patut dijadikan teladan oleh sebagian orang non-Muslim yang kadang memandang buram wajah Islam hanya karena perilaku sebagian orang Islam yang tidak mencerminkan ajaran Islam. Jika kelak Anda melihat perilaku orang Islam yang tidak mencerminkan ajaran Islam, maka yakinlah seyakin-yakinnya bahwa yang menjadikan orang Islam tidak berakhlak Islami itu bukanlah Agama Islam yang dipeluk oleh orang Islam, melainkan kesalah-pahaman orang Islam dalam memahami Islam atau ketidakmampuan orang Islam dalam menerjemahkan ajaran-ajaran Islam.   

Lantas apa hubungannya hal tersebut dengan foto Ahok bersama Raja Salman? Kayanya sih nggak ada hubungannya. Eh, tapi, kalau mau ditarik lebih jauh, salam Ahok untuk Raja Salman itu ya boleh jadi menyimpan pesan bahwa selama ini Ahok tak memendam kebencian kepada umat Islam, tokoh Islam, apalagi kepada Islam sebagai Agama yang ia pandang sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Meski kemarin tak mendapatkan uluran tangan dari seorang Muslim bernama Habib Riziq, hari ini Ahok tidak sungkan untuk menerima uluran tangan dari Muslim lain bernama Raja Salman. Uluran tangan Ahok adalah simbol kelegowoan dan keterbukaan, bukan dendam dan bukan kebencian.  

Kedua, dalam banyak kesempatan Ahok kadang tak sungkan untuk mengenakan atribut-atribut keislaman yang sering dikenakan oleh umat Islam, khususnya peci hitam. Menurut saya, peci hitam Ahok ini bukan peci hitam sembarangan (jadi lebay deh gue). Peci hitam Ahok adalah simbol toleransi dan kerukunan.

Ahok tak sungkan untuk mengenakan peci hitam yang selama ini dikenakan oleh umat Islam. Memakai peci hitam, bagi Ahok, tak secara otomatis merubah keyakinan yang selama ini ia jadikan sebagai pedoman. Dengan mengenakan peci hitam, Ahok tak merasa jadi orang murtad yang seketika itu keluar dari Kristen dan berubah menjadi orang Islam. Mengapa? Ya karena memang peci hitam tidak ada urusannya dengan keyakinan.

Ketika melihat atribut umat Agama lain, mestinya orang Islam juga berpandangan demikian. Kita harus tahu bahwa ada atribut umat Agama lain yang bertentangan dengan keyakinan kita sebagai umat Islam. Tapi ada juga atribut umat Agama lain yang sejujurnya tak ada sangkut pautnya dengan soal keyakinan. Saya tidak menganjurkan Anda untuk menggunakan atribut umat Agama lain.

Cuma kalau nanti Anda melihat orang Islam mengenakan topi sinterklas di hari natal, misalnya, Anda harus bisa membedakan antara mana atribut yang berkaitan dengan keyakinan, dan mana atribut yang tidak ada urusannya dengan keyakinan. Agar apa? Agar Anda tidak mudah mengafirkan apalagi sampe sweeping dan membuat keributan.  

Ahok juga biasa-biasa saja pake peci hitam. Peci hitam yang Ahok kenakan, dalam tafsiran saya, hendak berpesan bahwa atribut-atribut keagamaan hendaknya tak membuat seorang pemeluk Agama kaku ketika berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda keyakinan.

Melalui peci hitamnya Ahok berharap agar orang Kristen hidup rukun dan damai dengan saudara-saudaranya yang beragama Islam. Dan melalui peci hitamnya Ahok menunjukan bahwa dirinya tidak membenci umat Islam apalagi membenci Islam dan kitab suci umat Islam. Ia menghormati Islam dan umat Islam. Dan penghormatannya itu ia tunjukan dengan cara menghromati Raja Salman.    

Ketiga, melihat Ahok bersalaman dengan Raja Salman, saya teringat dengan salah seorang teman Kristen saya yang suatu hari menceritakan pengalaman anehnya ketika bersalaman dengan orang Islam. Pernah dia berjumpa dengan orang Islam yang enggan bersalaman dengan non-Muslim kecuali pake penghalang.

Kalau nggak salah waktu itu dia bilang pake kertas. Iya. Bayangin coba. Dia mau salaman tapi harus pake kertas! Udah kaya nyomot t*i ayam. Mungkin dia memandang teman saya yang Kristen itu sebagai orang musyrik. Dan karena dia musyrik, maka dia itu najis, seperti yang disebutkan dalam salah satu ayat al-Quran.

Dalam al-Quran, Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS 9: 28)

Ayat ini kadang dijadikan dasar oleh sebagian orang untuk melarang non-Muslim masuk masjid, menyentuh al-Quran, bahkan bersalaman, seperti kisah teman saya tadi. Halaman ini terlalu sempit untuk membahas penafsiran ayat tersebut. Tapi saya mau jelaskan sedikit.

Menurut Thahir Ibnu 'Asyur, penulis kitab al-Tahrir wa al-Tanwir, yang dimaksud najis dalam ayat itu adalah najis maknawi (najasah maknawiyyah). Dengan kata lain, kenajisan yang disinggung oleh ayat itu berkaitan dengan keyakinan, bukan dengan fisik. Dan kelompok yang dimaksud dalam ayat itu, seperti kata al-Razi, dalam Mafatih al-Ghaib, adalah para penyembah berhala (abadat al-Autsan), bukan orang seperti Ahok yang masuk kategori Ahlu Kitab.

Dengan demikian, berdalil dengan ayat tersebut untuk memandang najis orang non-Muslim, melarang mereka masuk masjid, apalagi cuma bersalaman—seperti yang dilakukan Raja Salman—tentu sangat tidak relevan. Orang musyrik itu satu kelompok, sedangkan Ahlu Kitab itu kelompok lain. Keduanya tak bisa dicampur-adukkan. Karena itu, ayat yang turun kepada kaum Musyrik Mekkah, tidak serta merta bisa Anda pakai untuk menghukumi Ahlu Kitab yang hidup berdampingan secara damai.

Intinya, bersalaman dan mengucapkan salam kepada orang non-Muslim itu tidaklah terlarang. Dan tambahan, sekali lagi, memilih pemimpin non-Muslim yang hidup berdamai dengan kita juga tidak terlarang. Saya tahu bahwa bagi sebagian dari Anda hal semacam ini sudah tidak lagi memerlukan penjelasan. Tapi, harus diakui bahwa di luar sana masih ada saudara-saudara kita yang masih terjangkit virus abad kegelapan dan perlu mendapatkan perawatan.

Akhirul kalam, melalui tulisan yang sedikit lebay-ngejeblay ini, dari Mesir saya cuma hanya ingin mengucapkan, salaman ala Ahok, wa salaman ala malik salman (salam sejahtera untuk Ahok, dan salam sejahtera untuk Raja Salman). Sekian.

Kairo. 1.3.17

Sumber : Qureta

Thursday, March 2, 2017 - 11:00
Kategori Rubrik: