Menafsir

ilustrasi

Oleh : Efron Bayern

Beberapa hari lalu saya menulis status yang mengutip Ayub 16:2 “Penghibur sialan kamu semua!” yang kemudian dibagi oleh Ina Nadi. Seorang komentator lulusan sekolah teologi evangelikal memertanyakan tafsir saya yang menurutnya keluar konteks.

Saya sebenarnya mau merendah dan tentu saja tak mau menghabiskan energi berdebat. Saya menjawab bahwa menafsir adalah memasukkan makna ke dalam teks. Atas jawaban itu eh saya malah diolok-oloknya melakukan eisegese, yang harusnya eksegese (menggali keluar). Saya jawab lagi, tidak ada namanya menafsir menggali keluar makna teks, menafsir tetaplah memasukkan makna ke dalam teks apa pun metodenya karena teks benda mati. Teks baru bunyi sesudah dibunyikan oleh penafsir yang memberi makna ke dalam teks. Eh, orang itu makin sombong ngatain bahwa saya tidak tahu apa-apa soal tafsir.

Saya kemudian minta membuktikan kekuatan eksegesisnya untuk menjawab dua ayat klasik berikut ini:

Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya:”Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.” (2Sam. 24:1; TB LAI, 1974)
Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel. (1Taw. 21:1; TB LAI, 1974)

“Siapakah yang menghasut atau membujuk Daud untuk menghitung orang Israel? TUHAN atau iblis?” tanya saya. Ia menjawab hal itu mudah dijawab lewat Google. Saya menanggapi lagi paling-paling mengandalkan tafsir Gleason Archer. Dia menjawab “Sudah tahu, malah ngetes.” Nah, di sini dia terkena perangkap offside Bayern München.

Archer adalah seorang evangelikal yang berideologi ketidakbersalahan Alkitab. Ia harus membela dan memertahankan ideloginya. Jadi dengan prapaham inerrancy of the bible ia memasukkan makna ke dalam teks. Dalam buku “Encyclopedia of Bible Difficulties”Archer menulis “Why would Satan get himself involved in the affair if God had already prompted David to commit the folly he had in mind? It was because Satan found it in his own interest to do so.” Ha ha ha kan lucu bianget? Dari mana Archer bisa tahu niat iblis ikut-ikutan menyuruh Daud menghitung orang Israel? Ya, tentu saja dari ideologi inerrancy of the bible kemudian ia masukkan ke dalam teks agar teks Alkitab tampak tidak keliru.

Dalam menafsir suatu teks terjadilah apa yang disebut dengan lingkaran hermeneutik. Lingkaran di sini harus dibayangkan sebagai spiral atau pegas di dalam bolpen. Berputar melingkar, tetapi tidak bertemu atau tidak berakhir di titik yang sama. Orang membaca teks sudah memiliki prapaham dan kemudian paham atas suatu teks atau cerita. Mengapa disebut lingkaran? Ia pertama-tama (a) paham terhadap bagian cerita digunakan sebagai (b) prapaham terhadap keseluruhan cerita dan (c) prapaham atas keseluruhan cerita ini kemudian menjadi (d) paham atas keseluruhan cerita dan paham ini akan menjadi (e) prapaham terhadap bagian-bagian cerita yang kemudian menjadi (a) paham terhadap bagian-bagian itu. Demikian seterusnya berjalan melingkar seperti spiral menurut perjalanan waktu dan pengalaman pembaca.

Sehubungan dengan lingkaran hermeneutik di atas Hans-Georg Gadamer, raksasa hermeneutik, mengatakan makna cerita dapat berubah-ubah, sedang maksud penulis tetap. Penulis cerita bermaksud dan bertujuan tertentu. Ia membekukan maksud dan tujuannya dengan tulisan. Akan tetapi sesudah cerita selesai ditulis, maka cerita itu menjadi mandiri dan lepas dari penulisnya. Makna cerita menjadi menjadi jamak bergantung pada prapaham pembacanya termasuk prapaham dari dogma atau doktrin gereja. Pada dasarnya membaca adalah menafsir. Misal, seorang yang sejak kecil memahami dunia dan seisinya diciptakan dalam enam hari, maka ia akan menggunakan pahamnya sebagai prapaham untuk membaca Kejadian pasal 1. Dalam pada itu orang yang memahami Kitab Suci bukanlah buku sejarah (apalagi buku sains), maka ia menggunakan pahamnya sebagai prapaham untuk membaca teks yang sama. Kedua orang itu menghasilkan tafsir yang berbeda. Jika orang terakhir itu makin banyak berpengetahuan tentang teks-teks kuno, maka tafsir atau makna yang didapatkannya makin terbarukan atau berubah.

Saya membaca sedikit sejarah Israel Kuno. Orang-orang Israel Kuno sebelum masa pembuangan belum mengenal namanya iblis, setan, jin, neraka. Orang-orang Israel baru mengenal iblis, setan, jin, neraka pada/pasca pembuangan ke Babel saat semangat Yudaisme tumbuh. Generasi ini mengecam praktik beragama para pendahulu mereka yang berselingkuh dengan dewa-dewa bangsa lain sehingga umat Israel (tepatnya Yehuda) dibuang ke Babel.

Nah, sedikit pengetahuan itu menjadi prapaham saya saat membaca teks. Prapaham itu saya masukkan ke dalam teks. Dengan demikian penulis Kitab Tawarikh mengoreksi penulis Kitab 2Samuel. “Bukan ADONAI, tapi iblis yang menghasut Daud.” Begitu kira-kira dalam sidang diskusi para penulis Kitab Tawarikh. Cara beribadah secara lebih tertib pun ditulis. Muncullah Kitab Kejadian 1 – 2:4a untuk mengingatkan liturgi Yahudi.

Dari prapham saya tentang sejarah Israel Kuno juga membuat saya memasukkan makna ke teks Kejadian 3, karena ditulis sebelum pembuangan ke Babel. Ular yang menggoda perempuan dalam perikop itu memang ular. Dalam dunia fabel ular adalah binatang cerdas. Namun kalangan Kristen tertentu lewat ideologinya juga memasukkan makna ke dalam teks bahwa ular itu jelmaan iblis.

Memiliki sedikit pengetahuan, tetapi sangat menguasainya jauh lebih baik daripada memiliki banyak pengetahuan, tetapi tak berdaya menguasainya. Membaca adalah menafsir. Menafsir adalah memasukkan makna ke dalam teks.

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Sunday, June 28, 2020 - 12:45
Kategori Rubrik: