Memulasara Jenazah

ilustrasi
Oleh : Pudak Nayati
Saya pemulasara jenazah. Satu2nya pemulasara jenazah perempuan di komunitas Muslim Indonesia ditempat sy tinggal. Memulasara jenazah - baik jenazah Indonesian Muslimah maupun non-Indonesian - sering sy lakukan.
Pd saat memulasara jenazah, meskipun saya yg melakukannya, saya tetap membutuhkan bantuan bbrp ibu (biasanya 3-4 org) utk membantu saya memiringkan dan mengangkat jenazah ketika dimandikan n dikafani. Meskipun ‘sekedar’ membantu, tidak mudah mendptkannya krn tdk semua org berani melakukannya.
Dlm kasus nakes di RSUD Pematangsiantar ini, diberitakan ada nakes non-muslim yg terlibat juga. Apakah salah? Belum tentu. Bisa jadi nakes non muslim ini yg membantu, bukan yg memandikan. Kenapa kok bukan org muslim yg bantu? Lah kan gak ada org lain. Darurat! Spy jenazah gak kelamaan terlantar.
Yg kedua, jenazah dlm kasus RSUD Pematangsiantar ini suspect COVID19. Dlm kondisi spt ini, prosedur medis tertentu hrs kami lakukan spy kami tdk tertular. Dan tidak semua org diijinkan utk melakukannya. Bahkan kalau di Victoria, kalau pemulasara tidak/belum pernah mengikuti workshop pemulasaraan jenazah suspect COVID19, kami tidak diijinkan menyentuhnya, alih2 memulasara.
Ketiga, secara fiqih, dlm kondisi darurat (dlm hal ini daruratnya dobel - tdk adanya nakes perempuan DAN jenazah suspect COVID19) dibolehkan utk dipulasara oleh org beda gender dg jenazah. Cara memulasara dg cara ditayamumkan dan menggunakan kaos tangan spy tdk langsung ‘skin to skin.’ Dan pasti jenazah tdk dibiarkan bugil tanpa selembar kain pun. Lha wong saat memandikan jenazah sesama gender saja jenazah hrs tetap tertutup kain kok, apalagi memandikan jenazah beda gender.
Jd kl dibilang kasus nakes memandikan jenazah di RSUD Pematangsiantar ini menistakan agama, IMHO berlebihan. Semua dilakukan dalam kondisi darurat (dobel) dan suami jenazah sudah diminta utk mencarikan orang (perempuan) utk memulasara istrinya krn tdk ada petugas forensik perempuan di RSUD ini. Tetapi ternyata tdk dpt menemukan sdgkan jenazah hrs secepatnya diurus spy tdk kelamaan terlantar. Suami pun sdh memberikan ijin kpd nakes yg ada utk memulasara jenazah istrinya, bahkan ada surat ijinnya. Kalaupun kmd berubah pikiran stlh jenazah selesai dipulasara, apakah memberikan keadilan kalau memperkarakan orang yg sudah membantu (pd saat tidak ada org lain yg [mau] membantu) dan bahkan sdh memberikan ijin utk membantu?
Sumber : Status Facebook Pudak Nayati
Thursday, February 25, 2021 - 10:00
Kategori Rubrik: