Memprihatinkan, Konflik Akar Rumput Soal Politik

Ilustrasi

Oleh : Cristian Pundulay

Kejadian ini cukup mengagetkan, betapa konflik perbedaan pilihan politik di akar rumput sudah masuk pada kategori yg memprihatinkan.

Juga sebagai bukti tidak dewasa nya sebagian kita dalam berdemokrasi. Lantas ini salah siapa?

Banyak hal yg menjadi pandangan saya pada sistem politik di indonesia, kurangnya pendidikan politik, tidak matangnya demokrasi pluralis yg kita anut, sistem politik adu domba, politisasi agama pada ranah politik, politik issue sara serta para petinggi partai politik yg juga belum mampu memberikan contoh teladan dalam berpolitik yg baik dan benar.

Sialnya lagi, masyarakat akar rumput yg awam ttg politik itu selalu di manfaatkan oleh para stakeholder, mereka sengaja di adu domba dgn berbagai hal dan issue, sebuah polarisasi dalam berpolitik yg sangat kurang ajar dan tidak terdidik.

Kejadian atau konflik akibat perbedaan pilihan politik bukan kali ini saja, namun kejadian ini, adalah tragedi terburuk dalam demokrasi politik kita.

Bukti bahwa konflik politik kita sudah masuk pada garis merah dan di luar batas.

Siapakah yg rugi?

Kembali, rakyat bawah, akar rumput lah yg menelan kerugian terbesar,mereka gaduh, hiruk bahkan konflik akar rumput tidak hanya merugikan secara materi dan moril, bahkan kehilangan nyawa.

Sekiranya, para petinggi politik itu mampu menunjukan bahwa ajang kontestasi, bahwa ajang pemilihan adalah kegiatan demokrasi yg sejatinya di penuhi gelak tawa riang gembira.

Tapi apa nyana, para petinggi politik kita juga mempertontonkan aksi aksi yg memperuncing dan memperlebar eskalsi konflik di akar rumput.

Sekira demikian terus berlanjut.

Berapa nyawa kah yg mesti kita korbankan agar demokrasi politik kita dewasa?

Akankah kita hancur dan mati hanya karena perbedaan politik?

Dewasalah demokrasi negara ku,
Dewasalah anak bangsa indonesia ku.

Titip salam rindu dari ku
"bhineka tunggal ika bukan sebatas semboyan dan ucapan, mari terapkan dalam tindakan dan perilaku hidup"

Sumber : Status Facebook Cristian Pundulay

Sunday, November 25, 2018 - 16:00
Kategori Rubrik: