Mempertanyakan Kehabiban Rizieq Shihab

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Secara bahasa habib artinya orang yang dicintai. Bentuk jamaknya habaib. Ia adalah gelar atau sebutan yang diberikan pada keturunan Rasulullah tertentu. Habib tidak bisa diobral atau diaku-aku, untuk modal ceramah, agar terlihat wah. Ia gelar yang diberikan komunitas dengan beberapa syarat.

Menyebut keturunan Rasul dari kebiasaan orang Arab sebenarnya agak sulit. Dalam tradisi Arab, yang meneruskan nama marga, trah, kesukuan, adalah laki-laki. Sementara keturunan Nabi muncul dari putrinya yang bernama Fatimah. Dari putrinya ini lahir dua orang putra, Hasan dan Husein. Keturunan Hasan banyak tersebar di Timur Tengah seperti Jordania, Maroko, dll. Sedangkan keturunan Husein banyak berada di Indonesia, selain Yaman tentunya.

Keturunan Hasan lazimnya disebut assyarif, sedangkan keturunan Husein disebut sayid. Orang-orang secara keliru menyebut keturunan Husein sebagai habib. Atau sayidnya sendiri yang sibuk menggelari dirinya habib. Sehingga setiap sayid kemudian disebut habib, bahkan sejak lahir.

Sebenarnya tidak ada persoalan besar ketika semua sayid disebut habib. Hanya saja, ketika ada oknum yang tidak mencerminkan sikap kehabiban yang mestinya dicintai, menyejukkan, menjadi panutan, malah bersikap keras, gelar habib itu yang terkena akibatnya. Orang-orang tidak suka dengan sikap sayid tertentu, tapi seluruh habib terkena dampaknya. Satu orang berbuat, satu juta lebih sayid (di Indonesia) yang menanggungnya.

Mendudukkan arti habib sesuai definisi, fungsi dan syaratnya menjadi sangat krusial. Agar marwah habib tidak dirusak oleh oknum yang belum layak menerimanya.

Lalu syarat apa saja bagi seorang sayid layak disebut sebagai habib?

Menurut Ketua Umum Rabithah Alawiyah, (organisasi pencatat keturunan Nabi) Sayyid Zen Umar, ada beberapa ketentuan gelar habib diberikan pada seorang sayid.

Pertama, cukup matang dalam umur.

Seorang habib adalah sayid yang dituakan, tempat meminta pendapat. Ada beberapa orang yang diberi kecakapan soal ilmu sejak kecil. Pandangan batin mereka awas. Akal mereka cerdas. Kita bisa membaca kisah ini dari para nabi, misalnya Sulaiman kecil, Yahya kecil, Isa kecil. Mereka memiliki pemahaman luar biasa sejak kanak-kanak.

Namun umumnya manusia, memiliki kebijaksanaan setelah berumur. Pengalaman mengajarkan mereka untuk hati-hati dan senantiasa berbuat adil. Proses mengantarkan mereka pada batas bijak bestari. Meskipun kita juga mengenal istilah tua-tua keladi.

Kedua, memiliki ilmu yang luas.

Seorang habib adalah panutan. Ia simbol dari tuntunan agama. Mengaji di rumah tentu baik, beberapa sayid melakukannya. Tiba-tiba kemudian mereka muncul sebagai penceramah atau ahli agama. Namun ilmu, sebagaimana yang dikataan Imam Syafii, mestinya ditimba dari banyak guru. Karena menurutnya, kita tidak tahu hikmah itu keluar dari bibir guru yang mana. Keluasan ilmu bisa dilihat dari proses berguru itu.

Ketiga, mengamalkan ilmunya.

Hal ini sebenarnya berkaitan dengan ilmu, yang dengan sendirinya tak terpisahkan. Namun ada dua pengertian dari istilah alim. Pertama, alim yang mengamalkan ilmunya. Kedua, alim yang tidak melakukannya (ulama su). Persoalannya kemudian, mengamalkan ilmu tidak mesti harus mengajarkannya. Ilmu yang bermanfaat dimulai dari diri sendiri. Kecuali jika tak ada lagi yang lain. Maka maksud mengamalkan ilmu di sini, tentu yang berkaitan dengan kehabiban tadi. Dengan istilah gampangnya, seyogianya ia punya jamaah.

Keempat, ikhlas.

Kadar ikhlas sulit untuk diukur. Ikhlas itu rahasia di atas rahasia. Ikhlas tentu kembali pada diri masing-masing. Meskipun prilaku seseorang bisa mencerminkan ketidak-ikhlasan. Jadi mengutip Sartre, untuk membuktikan eksistensi sesuatu bisa dilakukan dengan cara menidakkannya (negasi). Ikhlas sulit diukur, tapi ketidak-ikhlasan bisa. Seperti ujub, riya, sum’ah, takabur. Orang yang membangga-banggakan dirinya, kelompoknya, organisasinya, jelas menunjukkan ketiadaan ikhlas tadi.

Kelima, wara’ yaitu berhati-hati.

Wara’ ini umumnya berkaitan dengan perkara halal dan haram. Artinya orang disebut wara’ ketika ia sangat berhati-terhadap dua hal ini. Namun antara halal dan haram ada perkara abu-abu bernama syubhat. Karena syubhat berpotensi jatuh kepada perkara haram, seseorang yang wara’ harus menjauhinya. Misalnya hati-hati dalam menerima sumbangan untuk pribadi atau organisasi. Harus jelas dari mana sumber dana itu. Perkara bersih tidak boleh bercampur dengan perkara kotor. Hal ini pernah dijelaskan Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga sewaktu masih jadi berandal.

Keenam, bertaqwa.

Taqwa adalah cahaya batin. Ia memancar dari dalam dan terbias pada perbuatan seseorang. Taqwa berarti menjaga diri. Ciri-cirinya banyak sekali disebutkan dalam Alquran. Di antaranya, menjaga rukun iman dan rukun islam, tidak sombong, berdakwah, bersabar ketika mendapat musibah. Orang yang bertaqwa sudah pasti memelihara keimanan dan keislamannya. Tentunya hal itu tercermin dari ucapan dan perbuatannya.

Ketujuh, berakhlak baik.

Akhlak dari bahasa Arab, yaitu khuluq yang berarti tabiat, watak, perangai, budi pekerti, kebiasaan, kelakuan. Dalam pemahaman islam, menyebut akhlak saja belum cukup. Karena ada akhlak baik (mahmudah) dan akhlak tercela (madzmumah). Akhlak ini mencakup wilayah lahir dan batin. Yang bersifat lahir terkait pada adab dan sopan santun. Yang bersifat batin terkait hati dan keimanan.

Jadi kalau Aa Gym sering menyebut, yang penting akhlaknya, kalimat itu sebenarnya belum lengkap. Dan cenderung berbahaya.

Di Indoensia, ada orang yang mestinya disebut habib, tapi menolaknya. Dengan alasan tidak pantas menyandangnya. Contohnya seperti Prof. Quraisy Shihab. Mufasir yang namanya mendunia. Ilmunya luas. Orangnya santun dan rendah hati. Ada beberapa sayid muda yang buru-buru diberi gelar habib. Contohnya, pencermah-penceramah di Jakarta. Gayanya justru terlihat menterang bak artis ibukota.

Dan salah satu yang terkenal tentunya, Rizieq Shihab.

Dari ketujuh syarat kehabiban tadi, Rizieq Shihab terkendala beberapa syarat untuk digelari habib. Dengan tanpa mengurangi hormat pada habib yang layak, Rizieq Shihab jelas arogan, kata-katanya pedas, sikapnya angkuh. Sebutan habib tidak cocok dia sandang.

Habib mestinya mengayomi, menjadi tempat mengadu. Bukan berbangga dengan kehidupan mewah. Habib petentang-petenteng naik Rubicon dengan nomor cantik. Habib sibuk bergaul dengan para taipan konglomerat. Habib memusuhi pemerintah dan ulama. Ini habib model apa?

Mempertanyakan kehabiban Rizieq Shihab adalah persoalan yang mendesak. Dan itu dimulai dari sikap masyarakat yang mulai gerah dengan tindak-tanduknya. Rizieq barangkali terinspirasi Khomeini, ulama kharismatik yang getol memberikan perlawan pada diktator di negaranya, di Iran sana. Namun perlu dicatat, Khomeini hidup dalam kekangan rezim diktator. Sementara Rizieq hidup di alam penuh kebebasan. Sehingga dengan leluasa ia bisa memaki Pemerintah toghut, Menteri Agama sesat, ulama-ulama su.

Perangai Rizieq ini sangat berbahaya jika dibiarkan, apalagi ia diberikan gelar habib oleh banyak orang. Jangan sampai cinta membutakan kewarasan. Cinta harus dibangun dengan cara kritis dan sehat. Termasuk kecintaan pada habib.

(Sumber: https://seword.com/…/mempertanyakan-kehabiban-rizieq-shihab/ & Status Facebook Kajitow Elkayeni)

Monday, December 26, 2016 - 11:45
Kategori Rubrik: