Mempertahankan Pesantren

ilustrasi
Oleh : Alim
 
Beberapa pekan ini saya ikut rapat maraton yang membahas bagaimana mempertahankan pesantren dari serangan Covid-19, yang sayangnya terjadi karena sebelumnya tidak mengindahkan peringatan mengenai bahayanya mendatangkan para santri.
Sebelum itu, lebih dari dua bulan lalu saya ngisi sebuah seminar dan mencoba memetakan bentuk-bentuk pesantren dan masing-masing risikonya, serta bagaimana mencegah covid masuk pesantren.
Saya menyampaikan, pesantren itu ada yang tertutup, semi terbuka dan terbuka. Terbuka itu maksudnya mudah akses dengan dunia luar. Mayoritas pesantren di Indonesia itu semi terbuka dan terbuka. Santri dan para gurunya hidup di masyarakat, baik di rumah sendiri maupun asrama yang kemudian kumpul saat kegiatan belajar-mengajar.
Sesungguhnya, pesantren yang tertutup lebih mudah dikendalikan, paling tidak melindungi dari covid masuk. Tapi ini hampir tidak ada karena tidak ada pesantren yang bisa memenuhi kebutuhannya secara mandiri dan terisolir dari dunia luar.
Karena semi terbuka atau terbuka, tentu covid bisa masuk dari lini mana saja. Bisa dari santri, bisa dari orang tua yang antar/jenguk anaknya, bisa dari ustadz, bisa dari suplier bahan makanan, tukang laundri, tukang bangunan dan lain sebagainya.
Ketika santri yang jumlahnya ratusan atau ribuan sudah terlanjur masuk, apalagi tanpa screening yang ketat, risiko covid sangat besar. Ini karena di pesantren hampir mustahil dilakukan jaga jarak fisik. Dulu saya di pesantren satu kamar santri bisa diisi 20 santri.
***
Beberapa rapat yang saya ikuti membahas bagaimana mendatangkan santri untuk pesantren yang belum buka, dan membahas pesantren yang sudah mendatangkan santri, dan satu lagi... pesantren yang kena covid
Untuk pesantren yang baru mau buka, kita rapat maraton: menghitung kapasitas maksimum, mempersiapkan prosedur, fasilitas dan sistem penjagaannya: screening, karantina sementara, sistem perlindungan, protokol harian, menu makanan hingga rencana kontijensi bila ada yang kena. Setelah itu pesantren menyiapkan segala sesuatunya, melakukan re-asesmen, kemudian uji coba atau simulasi. Dokumen-dokumen dan check list disiapkan sedemikian banyaknya. Di luar itu, menyiapkan jaringan kerjasama antara pesantren dengan pejabat setempat dan fasilitas layanan kesehatan yang siap menangani bila ada yang positif covid. Panjaaang...
Untuk yang udah kena... lha in, repot sekali. Banyak simalakamanya. Tracing yang rumit karena melibatkan ratusan santri dan puluhan ustadz. Belum lagi kalau santri tinggal di asrama yang ada di tengah masyarakat dan bisa menyebarkan ke masyarakat atau mendapat virus dari masyarakat.
Kedua, menjaga agar yang belum kena tidak kena. Mendadak membuat dan memberlakukan protokol kesehatan di mana fasilitas sulit sekali, karena tidak ada ruang atau gedung cadangan untuk membuat para santri tidak saling berkumpul.
Ketiga, testing. Kita tahu, testing paling akurat untuk yang kontak erat dengan seseorang yang positif adalah menggunakan PCR. Biaya PCR 1,7jt. Bisa dihitung berapa yang harus dikeluarkan kalau yang ada dalam jejaring kontak erat itu 500 orang, 700 orang atau 1000 orang? Belum lagi test lanjutan setelah perawatan. Dana segitu bisa untuk bangun pesantren baru.
Keempat, memutuskan memulangkan santri, melihat infeksi makin meluas. Ini harus dilakukan dengan menjamin santri tidak membawa virus pulang ke rumahnya masing-masing dan menulari orang tuanya, kakek-neneknya dan keluarga yang lain. Caranya dengan test dan karantina sebelum pulang. Uangnya, ruangannya... hmmmm.
Kelima, waktu. Semua hal di atas berkejaran dengan waktu. Makin lama, potensi penularan makin banyak sehingga perasaan kita menjadi seperti dikejar-kejar. Sementara itu fasilitas rumah sakit makin menipis.
Keenam, ini yang bikin sangat sedih.. adalah pertentangan dari dalam pesantren sendiri untuk dibantu. Kenapa? Karena sebagian dari mereka tidak percaya adanya covid meski sudah di depan mata. Saya tidak tahu apa status dosa menyebarkan informasi bahwa covid itu fiktif adalah termasuk dalam dosa jariyah? Kalau iya... mengerikan.
Di luar semua usaha dan tantangan itu, kita berharap perubahan sifat virus yang menurut laporan ada indikasi makin mudah menular tapi dengan tingkat sifat merusaknya yang lebih rendah, sambil menunggu vaksin.
Semua itu kita lakukan karena kita mencintai para santri.. serta mencintai para ulama dan kiai kita. Kita tahu, sudah banyak kiai, pengasuh pondok pesantren yang meninggal karena covid ini. Kita berdoa untuk beliau-beliau, sambil terus berusaha menjaga agar penularan tidak makin meluas.
Mari...
 
Sumber : Status Facebook Alim
Sunday, September 20, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: