Memperjuangkan Hak Perempuan

ilustrasi

Oleh : Kalis Mardiasih

Setelah menyeduh air lemon, saya merasa aura negatif belum hilang juga. Betul, seharian kemarin saya agak mood untuk berbalas komentar di instagram. Membaca komentar-komentar buruk memang tidak bagus untuk kesehatan mental, tapi sesekali waktu, saya masih juga melakukannya.

Bagaimana aku bisa tahan membaca komentar, misalnya: "perempuan mau disetarakan, tapi galon maunya diangkatin hahaha...". Tentu saja komentar itu ditulis oleh laki-laki. Lalu, dibawahnya, segerombolan perempuan relijius ikut meramaikannya, "iya nih, feminis halu...saya sih maunya dimuliakan aja, disetarakan nggak enak."

Bagaimana cara menyampaikan kepada orang-orang ini bahwa kita tidak hanya sedang bicara urusan angkat-mengangkat galon. Saya bahkan tidak hanya mengangkat galon, hampir tiap hari saya mengangkati kardus-kardus besar Akal Buku dan untuk urusan seremeh itu, saya tidak perlu berpikir pembagian pekerjaan berbasis gender.

Lebih dari galon, ada 60% lebih anak Indonesia yang menikah di bawah umur dengan tantangan risiko kematian setelah melahirkan, KDRT, stunting dll. Lebih dari galon, ada perempuan-perempuan korban KDRT dan kekerasan seksual yang balik dilaporkan pelaku dengan tuduhan pencemaran nama baik sampai tuduhan melarikan uang, dan RUU yang akan melindungi mereka juga masih ditolak oleh sesama perempuan sendiri. Lebih dari galon, ada perempuan buruh yang terancam hak-hak dasar yang selama ini sudah berhasil diperjuangkan karena revisi RUU ketenagakerjaan. Lebih dari galon, ada RKUHP yang dalam posisi amat bahaya, mengancam demokrasi kita.

Bagaimana caranya mengajak sesama perempuan beranjak dari pikiran tidak berdasar, "nanti istri bisa ngelaporin suaminya kalau disuruh bikin kopi." Mengajak berhenti berpikir kepentingan sendiri, untuk becermin pada bingkai yang lebih besar.

Saya berusaha sebisa mungkin menjaga enerji ketika berhadapan dengan komentar-komentar yang negatif kepada eksistensi kemanusiaan perempuan. Sebab, saya harus menabung enerji itu untuk kerja-kerja yang lebih berdampak.

Kerja-kerja itu sederhana saja. Agar tidak ada keraguan bahwa manusia diciptakan setara. Bahwa manusia tidak boleh mengalami ketidakadilan dan diskriminasi karena identitas gendernya.

Kerja-kerja itu makin menampakkan hasil. Suara semakin riuh. Keyakinan semakin terpancang.

Kelas selalu dimulai dengan dialog. Perempuan-perempuan bertanya perihal teks Islam yang seringkali jadi alat untuk mendiskriminasi perempuan atau pengalaman diskriminatif yang mereka alami. Lalu, menumbuhkan sekadar keberanian untuk mempertanyakan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Jawaban tak selalu seketika terang. Akan tetapi, untuk berani mempertanyakan sebuah persoalan tetap sebuah progres. Mengapa? Sebab, perempuan, untuk sekadar bertanya dengan suaranya sendiri, pun sering tidak diizinkan.

Sumber : Status Facebook Kalis Mardiasih

Thursday, August 29, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: