Memperdebatkan Siapa "Penulis" itu

ilustrasi

Oleh : Ken Terate

Maju, mundur, maju, mundur. Begitulah. Saya ragu-ragu ketika hendak menuliskan ini. Karena tidak seperti AS Laksana, salah satu juri Sayembara Cerita Anak DKJ, saya takut dibully. Saya nggak takut berpolemik, tapi saya enggan berselisih atau kehilangan teman (yailah, itu namanya TAKUT).

Di antara sekian banyak paragraf pertanggungjawaban juri, paragraf pertama ini yang memicu reaksi keras dari para penulis, khususnya penulis anak.

"Anak-anak penting bagi banyak orang, dan bagi banyak kepentingan, kecuali bagi para penulis. Para penulis bagus yang kita miliki, atau setidaknya nama-nama yang dikenal sebagai penulis bagus, hampir tidak ada yang menulis buku cerita anak-anak. Mereka merelakan penulisan buku anak-anak kepada orang-orang yang bukan penulis. Mereka mengikhlaskan anak-anak menjalani masa kanak-kanak mereka, yang disebut-sebut sebagai masa emas pertumbuhan, untuk menggeluti buku-buku yang rata-rata ditulis dengan kecakapan seadanya."

Paragraf ini seolah mengatakan bahwa penulis anak yang bukunya banyak beredar di pasaran tidaklah kompeten. Masih kurang pedes? Kalimat selanjutnya seakan menuduh buku-buku itu ditulis oleh bukan penulis! Wedyan. Lalu yang nulis siapa? Aplikasi?

Wajarlah teman-teman penulis cerita anak gusar. Mereka sudah mencurahkan segenap daya upaya, ikut pelatihan ini itu, dibantai editor sampai terkapar, lalu bangkit lagi, dan terkapar lagi. Yang paling utama: mereka sudah menulis dengan sepenuh cinta!

Bukti karya mereka dicinta anak-anak sangat jelas. Buku mereka jadi best seller. Bahkan cetak ulang beberapa kali. Banyak testimoni dari orangtua yang bilang buku-buku itumengenalkan anak-anak pada agama dan budi pekerti. Ada yang berkomentar anak-anak membacanya berulang-ulang dan ikut terbawa emosi. Apa kayak gitu dibilang hasil kecakapan menulis seadanya?

Sik, bentar. Saya mikir dulu. Ada dua pihak yang sama-sama ngomongin penulis, tapi kok bisa ‘tlisiban’ gini? Kenapa nggak ketemu? Kenapa bisa yang satu ngomong ‘nggak ada penulis’ yang satu ngomong ‘ada banyak penulis’?

Rasanya ini berpangkal dari definisi ‘penulis’. Kita semua mafhum bahwa kata bisa punya definisi yang berbeda dalam konteks yang berbeda.

Sebagai sebuah badan penyelenggara sayembara, DKJ punya definisi sendiri. Baca saja karya-karya pemenang sayembara novel mereka. Nyaris semua mengangkat tema-tema krusial yang menggelisahkan. Tema itu disajikan dengan unik dan ‘indah’.

Bisa jadi jenis-jenis naskah semacam inilah yang diharapkan juri sayembara cerita anak. Para juri itu tidak punya urusan dengan label best seller atau ajaran agar anak makan sayur. Bagi mereka nilai sastrawi dan pemantik pemikiran kritislah yang utama.

Menyebut karya yang disebutkan sebagai contoh dalam teks pertanggungjawaban; Peter Pan, Pippi si Kaus Kaki Panjang, dan Alice in Wonderland, makin nyatalah siapa penulis yang dimaksudkan oleh para juri. J.M Barrie, pengarang Peter Pan, misalnya, adalah novelis sekaligus penulis naskah drama kenamaan dari Skotlandia. Para juri seolah ingin berseru agar penulis-penulis hebat (dalam bayangan saya ini sekelas Sapardi Djoko Damono atau Ahmad Tohari) menulis cerita anak, menghasilkan karya-karya sastrawi yang seharusnya diasup oleh anak-anak Indonesia. (Sayangnya, para penulis itu tidak ikut sayembara*eh.)

Komentar AS Laksana di laman Facebook Ade Kumalasari memberi penjelasan serta meminta maaf, “Ade Kumalasari, di luar sana, para penulis seperti James Joyce, Salman Rushdie, Umberto Eco, Antonio Skarmeta, Leo Tolstoy, e.e. cummings, James Baldwin, TS Eliot, Gertrude Stein, John Updike, Toni Morrison, Oscar Wilde, Hemingway, Aldous Huxley, dan bahkan dua ilmuwan besar Stephen Hawking dan Richard Dawkins--untuk menyebut beberapa nama yang saya ingat--menulis juga buku atau cerita untuk anak-anak. Kalau ternyata ada penulis buku anak-anak kita yang sehebat mereka, dan itu luput dari perhatian kami para juri, saya minta maaf atas kelalaian kami.”

Dari semua nama itu, sayangnya baru Oscar Wilde yang baca cerita anaknya. Dan… saya terpesona! Padahal saya membacanya waktu udah kuliah. Btw, kriteria cerita anak yang bagus menurut saya adalah orang dewasa pun suka membacanya. Ini salah satu paragraf dalam cerita pendek “the Young King” karangan Wilde.

'In war,' answered the weaver, 'the strong make slaves of the weak, and in peace the rich make slaves of the poor. We must work to live, and they give us such mean wages that we die. We toil for them all day long, and they heap up gold in their coffers, and our children fade away before their time, and the faces of those we love become hard and evil. We tread out the grapes, and another drinks the wine. We sow the corn, and our own board is empty. We have chains, though no eye beholds them; and are slaves, though men call us free.'

Tidak saya terjemahkan yak. Takut jadi jelek .

Itu Oscar Wilde banget menurut saya; membuat saya berpikir para penulis besar tetap menjadi diri mereka sendiri saat menulis cerita anak. Mereka tidak menyederhanakan konflik, tidak dengan sengaja memilih kata-kata gampang karena takut anak-anak nggak bakal ngerti, tidak selalu menyajikan akhiran baik untuk protagonis.

Ibarat desainer baju, saat merancang baju anak, mereka hanya mengecilkan ukuran, namun tidak berkompromi dengan detail payet, kancing, dan renda. Harus tetap sempurna. Apalagi soal bahan dan mutu jahitan: harga mati. Desainnya? Jelas gaya unik milik mereka sendiri.

Dengan standar seperti ini, wajar bila yang disebut ‘penulis’ oleh para juri jadi terbatas. Saya juga bukan penulis (apalagi penulis bagus) dalam kriteria mereka meski saya sudah menerbitkan buku. Para juri itu songong? Nggak juga. Sebagai juri lomba, mereka berhak menerapkan kriteria tertentu.

Saya pun, sebagai penulis buku, bisa dengan mudah mengatakan para penulis di medsos bukanlah penulis, meski tulisan mereka dishare ribuan kali. Alasannya bisa saja seperti ini, “Penulis itu ya harus mereka yang lolos seleksi editor. Kalau cuma nulis di medsos, semua orang juga bisa.” Sementara penulis medsos bisa tetap menyebut diri mereka penulis karena apa yang mereka tulis merupakan hasil usaha yang sama beratnya.

Ini bisa terjadi dalam segala bidang. Penyanyi seriosa bisa bilang penyanyi pop itu bukan penyanyi dan sebaliknya. Petani modern bisa bilang petani tradisional itu bukan petani dan sebaliknya.

Serius nih, saya sebagai penulis teenlit nggak bakal tersinggung andai ada juri sayembara lomba cerita remaja yang bilang, “Para penulis bagus yang kita miliki, atau setidaknya nama-nama yang dikenal sebagai penulis bagus, hampir tidak ada yang menulis buku cerita remaja.”

Selulus kuliah, saya sowan pada dosen pembimbing skripsi untuk berterima kasih sambil menyerahkan novel teenlit pertama saya yang baru saja terbit.

“Pak, saya malu sebenarnya,” kata saya, “lulusan sastra malah nulis novel pop, bukan novel sastra.”

“Tak perlu malu,” sahut beliau, “novel-novel Agatha Christie tidak pernah masuk daftar karya sastra. Tapi novel-novelnya tersebar ke seluruh dunia, dibaca lebih banyak daripada novel pemenang Nobel.”

Saya jadi mantap menapaki jalan sebagai penulis pop setelahnya. Saya sadar, semua jenis karya dibutuhkan. Setiap genre punya pembaca. Yang penting adalah jujur pada diri sendiri. Tulis apa yang kamu cintai, sebaik-baiknya. Tak perlu mengejar pengakuan dari juri sayembara, apalagi sayembara yang tak ingin kamu ikuti. Tak perlu memaksa jadi penulis ‘sastra’ bila itu bukan panggilan jiwamu.

Kepada semua pemenang harapan Sayembara Cerita Anak DKJ, selamat dan terima kasih. Jasa kalian besar dalam mengembangkan sastra anak. Aku akan membaca karya-karya kalian. Untuk semua penulis –apa pun definisinya—teruslah berkarya. Seseorang entah di mana akan menemukan tulisan kalian dan tersentuh karenanya.

Sumber : Status Facebook Ken Terate

Saturday, December 14, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: