Memotret Pesantren Secara Koruptif

ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

1. Ada postingan di sebuah akun dengan membuat diksi yang menggemaskan: “Tradisi Pesantren jangan dibawa ke Kementrian, camkan!” sembari disertai link berita berjudul ‘Skandal Bertubi-tubi di Kemenag, Kasirpun Bisa Korupsi Rp 3,3 Milliar! (baca: https://www.timesindonesia.co.id/…/lecehkan-tradisi-pesant…/)

2. Tentu simplifikasi pemahamam yang bersifat koruptif itu menuai banyak kritik. Eh ternyata ada orang yang membela dengan memposting berita https://www.jawapos.com/…/rommy-terima-suap-rp-325-juta-pe…/

3. Maka si pembela saya ingatkan, kalau ada orang mengklaim sesuatu, apa pasti klaim itu benar tanpa perlu diklarifikasi lebih jauh? Semisal ada seseorang teroris berniat merampok Bank dengan beranggapan itu harta fai (baca https://news.okezone.com/…/teroris-medan-berencana-rampok-w…).

Atau ada kelompok yg mengklaim mendirikan khilafah lalu mengesahkan jual beli wanita karena dinggap budak. Klaim mereka bahwa yang dilakukan itu sesuai dengan ajaran Islam, apakah langsung kita terima?

4. Sebetulnya sepintas "manajemen" pesantren dan masalah amplop udah saya singgung di https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=372326423564788&id=100023623007183 dan https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=408692329928197&id=100023623007183

5. Walhasil, membaca dan memotret pesantren tidak sesederhana yg ada dalam benaknya. Apalagi tidak pernah hidup di pesantren.

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

Saturday, July 6, 2019 - 22:45
Kategori Rubrik: