Memisahkan Dogma dan Akal Soal Corona

ilustrasi

Oleh : Budi Mulya

Begini..

Covid-19 ini harus dipahami secara ilmiah, tidak boleh campur aduk dengan sentimen keagamaan, adat, local wisdom, dll. Baru saja di RSIA Budhi Mulia ada Bapak2 yang marah ke petugas security yang menekankan pentingnya dilakukan prosedur screening/pre assessment sebelum memasuki RS dalam upaya mencegah penyebaran virus Corona.

"Musyrik kalian semua! Tidak ada itu korona2! Seperti orang tidak punya iman saja kalian semua..!".

Atau seperti beberapa hari yang lalu, sewaktu ada pasien yang dianjurkan untuk cuci tangan dengan sabun, dianya jawab : "Saya baru saja habis berwudhuk di mushalla, jauh lebih bersih dan suci dari cuci tangan ini lagi".

Begini ya, Pakbapak dan Bukibuk..
Prinsip penyebaran Covid-19 yang disebabkan virus Corona ini, adalah bahwa virusnya dibawa oleh manusia. Jadi, tadinya dia tidak ada. Tadinya tidak ada di Indonesia, sekarang ada karena ikutan numpang lalu lintas manusia internasional. Tadinya tidak ada di Pekanbaru, sekarang ada karena dibawa/numpang ke manusia, baik orang-orang dari LN maupun dari provinsi lain. Begitu juga, tadinya virus ini tidak ada di mesjid/mushalla, sekarang ada karena dibawa orang. Virus ini akan nebeng ke semua orang, tak peduli apa agamanya, taat/tidaknya beribadah, alim/preman, murid/guru, pasien/dokter, ustad/jamaah atau berwudhu/tidaknya orang itu.

Lama hidup virus Corona ini di luar tubuh manusia bervariasi mulai dari 3-4 jam sampai 1 minggu. Virus Corona ini akan mati jika tidak ada manusia sebagai inangnya, atau mati dalam tubuh manusia yang punya daya tahan/imunitas yang baik dalam 14 hari. Virus juga akan mati jika bereaksi dengan sabun selama sekitar 20-30 detik atau sanitizer beralkohol >60%. Apakah wudhu bisa mematikan virus? Sayangnya, tidak bisa. Air saja tidak bisa mematikan virus.

Itulah pertimbangan ilmiah untuk meniadakan dulu shalat berjamaah/Jumat di mesjid. Dengan tetap datang ke mesjid, beramai-ramai pengajian atau shalat berjamaah, sebetulnya yang kita lakukan adalah : mencemari mesjid/mushalla dengan virus Corona yang seharusnya tidak ada di sana, selain potensial penyebaran virus antar jemaah. Sulitkah mematikan virus yang sudah ada di mesjid atau mushalla? MUDAH SEKALI. Jika tidak ada lalu lalang orang di mesjid/mushalla dalam waktu minimal 3 hari, semua virus Corona yang ada di sana akan mati dengan sendirinya karena tidak menemukan manusia sebagai inangnya. Itu juga dengan syarat garin/marbot mesjidnya juga stay-at-the-mosque minimal 14 hari, batas waktu yang dianggap seseorang yang terpapar virus Corona sudah berhasil mematikan virus tersebut dengan imunitas tubuhnya.

So, jangan campur aduk lagi ya Pakbapak dan Bukibuk.. Keras kepala kita, pada akhirnya bisa berakibat fatal bagi orang lain, terutama para petugas medis yang tidak bisa menghindar dari tugasnya melayani pasien..

Sumber : Status Facebook Budi Mulya

Saturday, March 28, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: