Memimpin dengan Hati

Oleh: Denny Siregar

 

Saya tidak menyangka bahwa hanya karena “kartu kuning” dari seorang mahasiswa, Jokowi mendapat perhatian luar biasa..

Ribuan orang membelanya. Bahkan mereka2 yang terlibat di Papua, serentak bersuara. Mereka yang selama ini bekerja dalam diam, sontak membuka tabir bagaimana sesungguhnya situasi di Papua sekarang, terutama di medan yang ganas seperti Asmat sana.

 

 

Apakah mereka dibayar ? Apakah mereka penjilat ?

Tidak. Mereka berbicara dengan hati nurani mereka. Bahkan seorang dokter lulusan UI yang mengabdi disana, yang bahkan dulu tidak memilih Jokowi saat Pilpres kemarin, terpaksa harus keluar memberitakan situasi yang sebenarnya..

Saya teringat perkataan seorang teman, yang tidak pernah saya ceritakan.

Ia dulu dengan beberapa orang bertemu dengan Jokowi di tempat tertutup dan jauh dari pemberitaan. Pertemuan waktu itu sesudah aksi massa besar yang dinamakan 411..

Temanku bercerita betapa terlihat geramnya Jokowi waktu itu. “Kalian tahu ?” Katanya. “Untuk pengamanan aksi itu saja, negara harus mengeluarkan puluhan miliar rupiah..” Kalau tidak salah sekitar 70 miliar rupiah untuk berjaga-jaga supaya aksi tidak menjadi keributan yang tak terarah..

Dan temanku berkata, saat itulah ia melihat seorang Jokowi wajahnya perlahan dari marah menjadi terlihat sedih.

Matanya memerah dan ia bercerita, “Seandainya dana puluhan miliar rupiah itu dipakai untuk membangun jalan2 di pedesaan Papua, membangun listrik2 di Papua, puskesmas2, air bersih, sudah berapa ribu orang di Papua yang tertolong ?”

Dan aku mendengarkannya sambil geram pula.

“Kalian tahu ?” Temanku menceritakan apa yang Jokowi katakan pada saat pertemuan itu. “Di Papua, banyak desa yang sangat sulit transportasi. Bahkan hanya untuk membawa orang sakit saja, mereka harus berjalan berhari2 di hutan dan sungai yang ganas.. Hal yang tidak pernah terpikirkan oleh kita sebagai orang kota dengan semua nikmat dan fasilitas yang ada..”

Tidak banyak pemimpin yang bekerja dengan hati. Seandainya Jokowi mau saja, ia bisa memperkaya dirinya, keluarganya dan kroni2nya. Ia punya kekuasaan untuk itu.

Tapi ia tidak mau. Buatnya, memimpin itu amanah, bukan kesempatan duniawi. Ia ingin berbakti membangun negeri yang dipercayakan di pundaknya saat ini.

Jadi ketika banyak sekali orang yang membelanya, sejatinya wajar saja. Karena mereka juga punya hati. Mereka tidak bisa membohongi hati nurani mereka yang bersih, bahwa masih ada pemimpin yang perduli.

Ah, Pakde. Seandainya aku didekatmu saat ini, ingin kuseduhkan secangkir kopi tanda rasa hormatku yang tinggi..

“Orang yang suka berkata jujur akan mendapat tiga hal, kepercayaan, cinta dan rasa hormat..” Imam Ali.

(www.dennysiregar.com)

Tuesday, February 6, 2018 - 22:45
Kategori Rubrik: