Memimpin Ala Umar

ilustrasi

Oleh : Johan Wahyudi

Suatu tengah malam, Umar bin Khattab ingin mengetahui kondisi rakyatnya. Karena itu, beliau blusukan pada saat orang-orang sudah tertidur. Ia ingin tahu secara detail bagaimana keadaan rakyat yang dipimpinnya.
.
Setiba di pinggiran kota, tiba-tiba terdengar tangisan bayi. Beliau tersentak. Kaget. Ada apa ini kok ada bayi menangis saat tengah malam. Langkahnya pun dipercepat.
.
Setiba di pintu rumah yang terdengar suara bayi menangis, Umar mengetuk pintu. Tentu saja tuan rumah kaget. Ada apa tengah malam begini ada orang bertamu. Mungkin ada orang tersesat. Didasari ingin tahu juga, dibukalah pintu rumahnya.
.
Begitu rumah dibuka, Umar melihat-lihat isi rumah itu. Kotor. Jorok. Dan sangat miskin. Di pojok rumah itu, ada tungku yang apinya masih menyala. Di atasnya ada periuk yang terdengar suara air mendidih.
.
"Ada apa kok si bayi menangis?" tanya Umar kemudian.

"Anakku kelaparan" jawab tuan rumah sambil menimang-nimang bayinya.

"La tungku itu masak apa?" tanya Umar lagi.

"Batu. Biar anakku merasa aku sedang masak makanan hingga ia tertidur" jawabnya sedih. Umar kaget. Sedih. Menangis. Ditahannya derai air matanya.

"Apa pendapatmu tentang Umar, khalifahmu?" tanya Umar ingin tahu.

"Halah, Umar. Kholifah itu pasti duduk manis dan tidur nyenyak di istananya. Mana mau tahu kondisi rakyatnya" jelas tuan rumah sambil menahan marah. Sambil menahan tangis dan kecewa yang teramat sangat, Umar pamit.

Setiba di baitul mal, Umar minta kepada penjaga untuk meletakkan dua karung gandum di pundaknya. Penjaga kaget. Ada apa ini? Tengah malam begini, Kholifah Umar mau membawa dua karung gandum sendirian.
.
"Wahai Kholifah, mau dibawa kemana gandum ini? Biarlah aku yang memikulnya" tanya penjaga itu penuh curiga dan was-was.

"Apakah kamu sanggup memikul dosaku juga karena lalai dengan rakyatku?" tanya balik Kholifah Umar. Tanpa banyak cakap, Umar memanggul dua karung gandum itu hingga ke rumah si miskin tadi.

-----

Kemarin malam, di Bogor, ada pemandangan yang bikin air mata meleleh. Di tengah malam yang cukup dingin, ada seorang lelaki kurus berjalan menuruni jalan licin. Lelaki itu cuek dengan status dan keselamatannya.
.
Setiba di rumah orang miskin, lelaki itu menyerahkan sedikit oleh-oleh dan uang. Tidak hanya satu atau dua rumah. Lelaki itu ingin memastikan rakyatnya baik-baik saja. Lelaki itu adalah Jokowi, Presiden Republik Indonesia.

Sumber : Status Facebook Johan Wahyudi

Monday, May 4, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: