Memiliki Rasio dan Bermoral

ilustrasi
Oleh : Vika Klaretha Dyahsasanti
Akhir-akhir ini pikiran saya banyak terusik tentang rasionalitas dan moral. Terutama sejak polemik 'siap vaksin' atau tidak. Sebagai orang yang bersetuju, saya sedikit lelah dengan beberapa argumen yang menolak. Sebab argumen itu sering kali tak menyasar sesuatu yang berkaitan langsung dengan pandemi, tetapi seringkali hanya argumen emosional asal berseberangan dengan pemerintah. Celakanya lagi, yang berargumen seringkali mereka yang dianggap memiliki otoritas moral di masyarakat. Jadi apakah artinya moral, pertanyaan itu terus mengusik saya...
Kemudian saya bertemu buku The Righteous Mind tulisan Jonathan Haidt, tentang mengapa orang-orang baik terpecah karena politik dan agama. Mengapa kita sulit sekali akur. Bahwa manusia bukan hanya bermoral secara intrinsik, tetapi juga ekstrinsik, gemar mengkritisi dan menghakimi. Kita semua harus sadar bahwa kita munafik sok berbudi. Demikian tulis Haidt pada pengantarnya, saya pun mengelus-ngelus dagu tanda setuju.
Moralitas itu luas, berbeda-beda di seluruh dunia, bahkan dalam masyarakat yang sama. Haidt pun menunjukkan penelitian Elliot Turiel tentang konsep moral. Turiel mewawancarai sejumlah anak dengan pertanyaan-pertanyaan. Salah satunya pertanyaan tentang seragam sekolah, bolehkah anak-anak itu ke sekolah dengan pakaian bebas? Sebagian besar anak menjawab tidak. Lalu pertanyaan dikulik semakin dalam seperti: apabila pakaian basah atau hilang, bolehkah ke sekolah dengan pakaian bebas? Jawaban anak-anak mulai beragam. Lebih beragam lagi saat dikatakan bila ada sekolah yang tak punya aturan memakai seragam, bolehkah berpakaian bebas.
Namun menjadi berbeda ketika anak-anak tersebut diberi pertanyaan: bolehkah mendorong teman yang sedang bermain ayunan hingga jatuh? Jawaban mereka seragam: tidak boleh. Dikulik-kulik dengan apapun, jawaban mereka tetap tidak boleh. Dari sini Turiel menyimpulkan, anak-anak memahami bahwa menyakiti adalah salah dan tidak bisa dibenarkan. Moral dasar bisa jadi adalah aturan-aturan untuk mencegah bahaya, berhubungan dengan keselamatan. Selebihnya (seperti aturan berseragam) itu, adalah konvensi sosial. Bersifat manasuka dan sampai batas tertentu dapat diubah.
Cling... pikiran saya kembali teringat vaksin Covid. Tentang para kontra yang berargumen tak nalar itu. Bisa jadi mereka tak paham bahaya Covid, bahkan bahayanya bagi diri sendiri, alih-alih bahaya bagi orang lain. Maka mereka lebih sibuk menegakkan aturan-aturan yang bersifat konvensi, dan sebenarnya dapat dinilai ulang lagi. Konvensi ini kemudian disebut Haidt sebagai aturan sosial, untuk membedakannya dengan aturan moral. Bila tidak bisa melindungi seseorang dari bahaya, maka aturan tidak dapat dijustifikasi secara moral. Itu hanyalah konvensi sosial. Aturan sosial.
Haidt kemudian menjelaskan, pada masyarakat yang sosiosentrik (mengedepankan kebutuhan kelompok dan meminggirkan kebutuhan individu), ada banyak sekali aturan sosial. Mulai dari tatacara makan dan berpakaian, sampai aturan-aturan yang sebenarnya bertujuan untuk mempertahankan bahwa suatu golongan tetap murni dan tak bercampur-campur. Mungkin saja karena banyak aturan tersebut lahir dari masa kuno, saat informasi terbatas dan mobilitas masih rendah. Kehadiran orang asing selalu menjadi mencurigakan.
Di lain pihak, masyarakat dari budaya-budaya individualistik, mereka tidak terlalu banyak memiliki aturan sosial. Masyarakat dianggap cukup mampu bernalar, rasional, sehingga dapat menentukan sikap dan memutuskan sesuatu tanpa harus terlalu banyak merujuk pada aturan sosial. Masyarakat sosiosentrik dengan aturan sosial yang ketat itu mendominasi dunia kuno, budaya-budaya dari masa lalu. Semakin ke sini, aturan sosial tak lagi ketat, karena manusia dirasa cukup mampu menggunakan nalarnya.
Cling lagi... para kontra vaksin Covid mungkin memang orang-orang yang kurang mengandalkan nalarnya. Entah mengapa bisa demikian. Kegagalan sistem pendidikan dalam jangka panjang? Atau karena terbiasa hidup manja dengan uluran tangan saudara handai taulan sehingga tak mandiri seperti pada umumnya terjadi masyarakat sosiosentrik?
Menarik disimak adalah penelitian Haidt untuk masyarakat India dan Amerika. Kepada sejumlah orang di dua negara tersebut diberi pertanyaan yang sama. Baik orang-orang di India maupun Amerika sepakat menganggap menyiksa hewan adalah salah. Kemudian ketika diminta pendapat apakah suami berhak menyiksa istri hingga babak belur karena tidak pamit pergi ke bioskop, masyarakat India tak menganggap hal tersebut salah. Sedang orang Amerika dengan tegas menganggapnya salah. Di pihak lain, orang India akan menganggap salah seorang janda yang makan ikan dua kali seminggu, hanya karena anggapan bahwa ikan akan menaikkan gairah sex.
Membaca ini saya sungguh terpingkal-pingkal, sembari berspekulasi, aturan sosial yang ketat itu mungkin awalnya juga untuk menjembatani kelemahan masyarakat dalam bernalar. Pada masyarakat individualistik, kemampuan bernalar ini sangat diperlukan, karena tak dapat menggantungkan hidup dari siapapun.
Saya pun segera kaget mendapati fakta yang ditulis Haidt kemudian, justru jaring pangaman sosial yang kuat banyak terdapat dalam negara-negara yang tidak sosiosentrik. Saya teringat Eropa yang membuka tangan bagi para imigran korban perang saudara di negaranya. Teringat pula tentang pendidikan gratis, jaminan kesehatan yang ditanggung penuh pemerintah di negara-negara maju. Mengapa demikian, awalnya tentu saja kesadaran bahwa setiap individu harus mandiri, tak dapat bergantung pada orang lain, karena masing-masing telah menanggung beban hidupnya yang berat. Sehingga jaring pengaman sosial dirasa sebagai solusi untuk menjaga setiap individu-individu dari kerasnya kehidupan. Biarlah negara yang membantu, agar handai taulan tak perlu terbebani.
Duh saya kembali lagi teringat negeri kita. Indonesia sudah mulai berjalan menuju negeri dengan aneka jaring pengaman sosial bagi warganya, meski masih tertatih-tatih dan sederhana. Vaksin gratis salah satunya. Dan sebagian masyarakatnya tak mempu mengapresiasinya. Mendadak saya sedih....
Sumber : Status Facebook Vika Klaretha Dyahsasanti
Friday, January 15, 2021 - 10:45
Kategori Rubrik: