Memilih Narasi yang Edukatif, Soal Gerakan Melepas Jilbab

ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Tanggapan:

Pertama, istilah "gerakan melepas jilbab" maupun "dejilbabisasi" saya pikir itu pada dasarnya sama. Jilbabisasi itu ada unsur pemaksaan, bedakan dengan mendidikan anak mengenakan jilbab. Ini bukan jilbabisasi dalam arti pemaksaan. Ini tidak lain dalam rangka upaya kita untuk saling menghargai antara yang berpendapat bahwa jilbab itu wajib dan yang meyakini tidak wajib. Kalau saya, silakan saja pilih sesuai keyakinan dan tanggung semua konsekuensinya masing-masing. Kalau mau mengajak orang lain mengenakan atau melepas jilbab (baik yang hanya 15 menit maupun permanen), ajaklah dengan ajakan yang baik, bukan dengan nyinyir, gagah-gagahan dan narasi yang tidak edukatif.

Kedua, penjelasan "gerakan melepas jilbab" dalam maksud "gerakan melepas jilbab selama 15 menit setiap hari", pemotongan antara "yang dimaksud" dan "yang menjadi nama gerakan" akan berakibat kontra-produktif. Saran saya, kalau keperluannya hanya 15 menit melepaskan jilbab sementara, kita tidak perlu menarasikan seolah-olah gerakan melepas jilbab itu sama saja dengan menolak dan membenci jilbab dan benci orang yang memakai jilbab. Kalau kita bicara kesehatan memang penting. Buktinya para Muslimah yang berjilbab tidak semuanya kena penyakit hanya karena gara-gara berjilbab. Para Muslimah berjilbab juga tetap punya cara untuk perawatan rambut dan kulit, selain berjemur selama 15 menit.

Ketiga, kalau benar ada pelarangan total walau hanya 15 menit bagi Muslimah yang berjilbab, silakan disebutkan pelakunya siapa, dari Ormas mana? Karena sependek yang saya tahu, para Muslimah yang bercadar pun paham bahwa mereka perlu sinar matahari atau berjemur, kalau mereka di rumah cadar dan jilbabnya dibuka. Jadi soal jilbab/cadar dan aurat ada yang mengatakan wajib syar'i, kalau saya tidak masalah. Sekalipun bagi saya jilbab atau cadar itu dikembalikan kepada keyakinan masing-masing. Yang penting prinsipnya tidak boleh ada pemaksaan dan merasa paling benar sendiri. Konsep aurat bagi perempuan dan laki-laki dalam fikih sudah jelas malah.

Keempat, kalau benar masih ada perempuan yang dipaksa berjilbab (kalau bisa disebutkan pelakunya siapa?), ya kita beri penjelasan, kita edukasi. Jangan dibalas dengan perlawanan keras dan gagah-gagahan. Berbeda kalau ada perempuan yang sakit lalu atas saran dokter agar melepas jilbab dan berpakaian dengan bahan tertentu, ya kalau ini namanya darurat, ada pengecualian. Bahkan bisa dihukumi wajib mengikuti saran dokter alias melepas jilbab dan memakai pakaian sesuai anjuran medis. Soal anak perempuan yang masih kecil tapi sudah dibiasakan pakai jilbab atau cadar, kalau menurut saya ga masalah, para orang tua juga tidak berlebihan dan apalagi memaksakan. Jadi sekali lagi, khusus perempuan yang sedang sakit, lalu atas anjuran dokter lebih baik melepas jilbab saat di dalam maupun keluar rumah, ya nggak ada masalah. Semoga dengan begitu sakitnya segera sembuh. Dan nggak perlu gengsi, ketika nanti sembuh, bisa pakai jilbab lagi. Keperluan melepas jilbab sehari kan hanya 15 menit, iya kan?

Kelima, aturan berpakaian, aturan makanan, aturan seks, bagi saya tetap menjadi bagian dari hal-hal yang juga diatur oleh ajaran agama. Sampai pada hal-hal sepele, misal berpakaian tidak transparan, makan pakai tangan kanan, berhubungan seks tidak seperti binatang, dst, tetap harus ada ketentuan dan adabnya. Iya kan? Kalau soal sepele saja menjadi satu bagian dari yang diajarkan agama, apalagi soal pola pikir (agar husnuzhan), spiritualitas, moral, dll. Ada hadits yang berbunyi "antum a'lamu biumuri dunyakum" (kalian lebih mengerti urusan dunia kalian), kalau hadits ini dipahami sebagai pemahaman "yang sekuler" ya nggak masalah juga. Contoh: model pakaian itu bebas, tetap ajaran agama atau fikih deh mengatur (ini secara umumnya ya, tidak berlaku bagi orang yang sedang sakit) agar bahan pakaiannya tidak transparan, tidak terlalu panjang sampai terinjak-injak, dlsj. Bagaimana kalau misalnya ada Muslimah yang tetap berpakaian serba terbuka, ya itu urusan ybs, kewajiban kita hanya mengingatkan bukan memaksakan.

Keenam, jilbab biarawati dianggap sebagai simbol ketaatan, lah di Islam juga begitu. Muslimah yang berjilbab itu selain kesadaran sendiri, tetap proporsional, juga sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Adapun ada kesan sebagai politik identitas ya saya juga memahami soal itu, tapi sekali lagi bukan dalam rangka pemaksaan. Jilbabnya para santriwati dan jilbabnya para aktivis hijrah misalnya, itu motifnya bisa jadi berbeda. Tapi spiritnya sama sebagai salah satu bentuk ketaatan. Kalau ada yang nyinyir dan belum paham terhadap Muslimah yang tidak berjilbab, itu bagian saya dan kita untuk mengingatkan. Maka pemakaian jilbab bukan berarti mendiskriminasi perempuan yang tidak berjilbab. Kalau ada yang nyaman tidak berjilbab ya silakan saja.

Ketujuh, kalau ada bahaya--bahaya terkait apapun--ya diedukasi bagi yang belum paham. Tentu dengan sabar dan perlahan, bukan dengan gagah-gagahan dan merasa paling hebat sendiri. Saya juga mengamati perkembangan jilbab sampai hari ini, mulai dari pemilihan bahan jilbab yang dipakai, supaya tidak merusak kulit dan lain sebagainya. Bahkan perlu ada peringatan juga untuk pabrik tekstil yang memproduksi jilbab dengan bahan yang membahayakan. Misal terjadi ada Muslimah yang karena alasan ideologi sekalipun (ideologi ekstrem sekalipun) memakai pakaian dan cadar tebal, pengap, padahal kondisi rumahnya sangat tidak layak huni, ya kita jangan memusuhi, mari kita edukasi, salah satunya melalui media sosial, bukan muas-muasin. Intinya edukasi ke arah, bagaimana berjilbab tetap sehat dan terhindar dari penyakit. Kan begitu?

Kita harus berpikir jauh ke depan, kita ini manusia beragama, bersosial dan bernegara. Nggak hanya mikirin seorang dua orang. Kita jangan egois. Pola pikir kita harus merangkul dan menyeluruh, jangan memaksakan urusan yang konteksnya pribadi, dipaksakan agar orang lain kebanyakan juga dipatok harus sepertu diri kita. Ya nggak bisa. Dan yang paling penting juga adalah kita jangan kelewat "baper", ada yang ngatain sedikit, dibalas sewot, padahal biasa saja. Hidup ini kita yang jalanin, orang lain yang komentarin! Hahaha.

Semoga bermanfaat.

Wallaahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Sunday, August 9, 2020 - 16:30
Kategori Rubrik: