Memilih Anggota DPR di Indonesia Bagai Memilih Kucing Kurap Dalam Karung

ilustrasi
Oleh : Tito Gatsu
Rakyat memilih anggota DPR hanya melihat populeritasnya saja bahkan partaipun Tak bisa menentukan prioritas yang terpilih karena yang dipilih langsung adalah figur , sebenarnya ini adalah akal-akalan Political mainstream sejak pemilu.tahun 2004 untuk menjegal PDI-P tapi akhirnya menular juga ke PDIP.
Minggu ini Kita dibuat heboh oleh seorang anggota DPR yang menolak vaksin padahal dia anggota DPR dari PDIP yang mendukung pemerintah bahkan dia menggurui mentri Kesehatan yang bukan dari kalangan dokter .
Sebenarnya tidak aneh melihat Fenomena seperti ini para anggota parlemen yang tak faham Politik dan tak beretika karena dia hanya figur yang dipilih dari emosional masyarakat saja .
jika bisa saya tegaskan bahwa Ribka Tjiptaning bisa menjadi anggota Dewan karena dia bisa menempatkan diri sebagai orang yang mampu membuat people's emotional struggling , apakah itu?
Dia bisa menggerakkan emosi masyarakat yang merasa senasib , Kita tau peristiwa kekejaman Orde Baru membantai para anggota PKI dan simpatisan Bung Karno di era Tahun 1965-1966 , walaupun pada Masa Orde Baru mereka diam dan tertekan tapi setelah Reformasi merekapun bisa mulai bersuara karena ketiadaan figur mereka akan lebih cenderung menggunakan emotional struggling atau perasaan senasib bersimpati pada orang yang dianggap dizolimi apalagi Ribka membuat buku mengenai riwayat diri sendiri dan keluarganya yang bisa membangkitkan perasaan emosi bagi pembacanya apalagi yang merasa senasib, sehingga bersimpati dan memilih dia.
Walaupun Ribka seorang dokter , Kita tidak Perlu percaya intelektual seseorang melalui pendidikannya apalagi dia tidak Pernah menjalani profesinya, gelar pendidikan Itu mudah diikuti asal rajin belajar dan Punya biaya untuk sekolah , jadi bukan sesuatu hal yang luar biasa ! , Jika Saya analogikan misalnya seorang insinyur Sipil yang tidak berpengalaman pasti kemampuannya jauh dibawah lulusan STM Sipil yang sudah berpengalaman kerja selama 5 tahun dalam membangun Rumah.
Jadi gelar Sarjana di Indonesia hanya merupakan tolok ukur untuk standarisasi manajemen dan jabatan apalagi Kita tau Ribka seorang dokter yang tidak Pernah Praktek atau dokter yang sudah bertahun-tahun jadi anggota Parlemen. Kemudian karena dia sudah dalam zona nyaman karena menjadi anggota Parlemen , timbul pertanyaan untuk kepentingan siapa ? Untuk Partai , pasti Bukan ! Karena partainya mendukung pemerintah , untuk kedaulatan rakyat ? Jelas tidak, kenapa dia bicara tanpa etika dan mengabaikan situasi genting dengan adanya pandemi.
Nah berarti dia bekerja untuk kepentingan diri sendiri dan siapa?
Kemudian anggota Parlemen juga ada yang bersifat individual struggle atau bagaimana mereka memilih jalan hidup untuk kebutuhan pribadi yang akhirnya menjadi profesi bagaimana menguntungkan diri sendiri terlebih dahulu , misalnya Fadli Zon dan yang merintis karir dari mulai menjadi pemburu Bea siswa melalui AFS bahkan terjun dalam program tersebut menjadi pengurus dan mempunyai kedekatan dengan pemerintah.Amerika Serikat hingga terlibat dalam program -program USAID dan organisasi yang ditenggarai bekerja sama antara pemerintah Amerika dan Indonesia yang pada akhirnya politik sudah menjadi profesi , tapi yang harus dipertanyakan adalah untuk kepentingan siapa? Begitu Juga Ibas Yudhoyono dan AHY mereka terjun ke Dunia politik karena terfasilitasi oleh keluarga , kembali ke pertanyaannya adalah untuk kepentingan siapa?
Kondisi yang Paling parah adalah situasi terakhir banyak Artis, seperti Mulan Jamila, Eko Patrio, Rachel Maryam dan Desi Ratnasari ,kemudian anak Pejabat dan pengusaha kaya menjadi anggota Dewan mereka hanya memanfaatkan populeritas dan uang untuk menjadi anggota DPR , Apakah mereka professional?, Apakah mereka faham politik? justru kalangan ini yang tidak bisa dipungkiri menimbulkan money politics dan mereka jelas tujuannya untuk mendapatkan uang dari profesi tersebut lalu mereka bekerja untuk siapa ?
Dari ketiga segment diatas Kita bisa menjawab tujuan mereka bekerja adalah untuk para political mainstream karena mereka menganggap pekerjaan sebagai profesi , belum lagi para Ustad serta orang -orang yang pandai mengolah sentimen agama sebagai konsituennya
Hmmm terlihat kan begitu hancur leburnya anggota Parlemen di Indonesia yang Paling parah adalah beberapa anggota DPR , misalnya dari PKS dan Fadli Zon yang terang -terangan membela organisasi fasis dan Intoleran di Indonesia dengan provokasi ala teroris untuk menjatuhkan pemerintah!
Pertanyaannya kembali apakah mereka membela kedaulatan rakyat?? Bahkan seseorang yang bekerja dengan tulus dan beradab seperti Tririsma Harini saja mereka cemoohkan ? Pelaku teroris dan musuh negara mereka bela- bela . Sungguh perilaku yang biadab dan amoral
Memilih figur yg populer tanpa melihat prestasi seperti memilih kucing dalam karung yang ternyata hampir semuanya kucing kurap karena memilih figur tanpa prestasi kerja yang bisa dirasakan masyarakat adalah omong kosong!
Perlu diadakan evaluasi baik bagi Parlemen , Partai maupun pemerintah bagaimana menjaga kualitas anggota DPR yang dipilih oleh rakyat karena mereka melaksanakan amanat Undang-undang yang berat dan dibayar dari uang rakyat.
Salam kedaulatan Rakyat
Sumber : Status Facebook Tito Gatsu.
Sunday, January 17, 2021 - 12:30
Kategori Rubrik: