Memetik Hikmah dari Virus Corona

ilustrasi

Oleh : Hari Purwanto

Mengambil hikmah di balik bencana, menjadi tabiat orang2 yg berakal. Karena setiap bencana adalah ayat (sign/code) bagi masing2 individu. Hikmah apa yg didapat, tergantung kondisi ruhani seseorang dg Allah swt. Tergantung jauh dekatnya seseorang dg Allah swt. Dan tergantung ikhlas dan tulusnya hubungan seseorang dg Allah swt.

Hikmah paling hakiki dari pandemi virus corona adalah mengetahui bagaimana positioning kita di hadapanNya. Pada posisi kontra terhadap-Nya kah? Jauh, dekat, amat dekat atau melebur?

Di antara indikasi posisi kontra terhadap-Nya adalah menolak bencana virus corona sebagai qadla-Nya. Menganggap fenomena tersebut berjalan secara alamiah menurut hukum2 materi.

Kemudian menjadikan bencana virus corona sebagai isu untuk menyudutkan, membenci dan melecehkan orang lain yg berbeda keyakinan, aspirasi politik dan pendapat fiqih dg nya.

Waktu virus corona masih endemi di Wuhan Cina, ada yg berkomentar, tentara Allah swt sedang menyerang musuh umat Islam. Seolah2 itu ibrah, ilmu dan hikmah. Lalu virus corona menjadi pandemi di negeri2 Muslim. Fakta ini membantah hikmah "tentara Allah". Contoh ngawur memetik hikmah dari suatu bencana karena sentimen ideologis.

Negeri Indonesia ternyata juga "terinfeksi" virus corona. Lalu menjadi isu untuk menyudutkan pemerintah. Seolah2 salah pemerintah. Ini contoh ngawur mengambil hikmah akibat perbedaan aspirasi politik.

Virus corona ternyata juga menjadi isu dalam sengketa ikhtilaf fiqhiyah. Kelompok Wahabi merasa menemukan kebenarannya tentang pendapat mereka dalam masalah cadar, berjabat tangan antar lawan jenis, keluar rumah bagi wanita dan status negara Islam atau kafir.

Padahal, anjuran memakai masker, salaman jarak jauh dan lebih banyak tinggal di rumah terkait dg doktrin hifdz an-nafs (menjaga keselamatan jiwa). Hifdz an-nafs adalah salah satu tujuan syariat Islam (maqashisy syari'ah).

Hifdz an-nafs kewajiban yg pasti yg penerapannya berdasarkan akal atau ijtihad politik pemerintah jika terkait dg keselamatan warga negara.

Adapun masalah cadar, bersalaman lain jenis, diam atau keluar rumah bagi wanita dan status negara Islam atau kafir, itu semua masalah dzanniyah. Hukum wajib sunnahnya masih debatble. Jadi tidak ada hubungannya bencana virus corona dg pendapat Wahabi tentang hal2 tadi.

Setiap bencana pasti ada hikmahnya. Setiap orang akan mendapatkan hikmahnya. Asal tidak ngawur.

#AyikHeriansyah
#NahdliyinOnline
#DejaVu

Sumber : Status facebook Hari Purwanto

Wednesday, June 3, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: