Memetakan Sistem Negara Dalam Atasi Corona

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Kalau lihat China dan Vietnam dalam mengatasi virus Corona, mereka berhasil. Sistem komando, sentralistik, ketaatan pada pimpinan punya peran penting dalam hal ini. Sistem komunis yang terpusat memang kelihatan unggul dalam kondisi seperti ini.

Tapi yang tidak sentralistik seperti Korea Selatan ternyata juga berhasil. Namun perlu dicatat bahwa rakyat Korea juga disiplin dan pemerintahnya tegas. Salah satu ibu yang disinyalir menularkan virus ke banyak orang dikenai hukuman karena tidak mentaati larangan untuk stay at home.

Di sini sejauh ini masyarakat masih terlalu sembrono dengan masih sering datang ke pusat2 kerumunan untuk hal2 yang mungkin kurang urgen.

Dulu para pemimpin AS sering mengkritik bahwa China berada pada sisi sejarah yang salah karena tidak mau menerapkan kapitalisme ala AS. China tidak akan bisa maju jika mempertahankan sistem politik komunisnya. Clinton pernah mengatakan itu. Bahkan Bush dan Obama percaya dunia masih lebih butuh lebih banyak lagi kebebasan (liberalisme) untuk berada pada kehidupan yang lebih baik.

Ternyata China dengan perpaduan sistem satu partai dalam hal politik dan ekonomi liberalnya mampu menjadi negara adi daya, Artinya tidak ada satu sistem politik ekonomi yang terbaik. yang cocok untuk semua budaya masyarakat.

Orang terbaik di China adalah orang yang mengalahkan hampir semua yang terbaik dalam satu partai komunis China. mereka harus melalui saringan partai dari bawah naik ke , propinisi hingga nasional. Sementara di Indonesia saking banyaknya partai, orang yang muncul belum teruji. Karena yang baik dalam satu partai belum tentu lebih baik jika ada di partai lain, artinya para tokoh di sini hanya bersaing secara lokal di partainya masing2. Banyak partai yang dikuasai sekelompok orang dan keluarga hingga tokohnya tidak teruji dari bawah.

Sistem dwi partai masih jauh lebih baik daripada multipartai dari sisi mekanisme kompetisi.
Indonesia ke depan harus semakin dewasa dalam berpolitik, salah satunya adalah mengecilnya jumlah partai. Jika tujuannya sama2 membangun Indonesia kenapa harus ada puluhan partai? Jika misalnya hanya ada 2 partai maka orang dipaksa bersaing lebih awal secara ketat di partainya sebelum muncul di permukaan dan ditawarkan kepada masyarakat.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Thursday, March 26, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: