Mememekan Setnov Pun Dihukum

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Setiap mengritik (tepatnya; memojokkan) pemerintah, Fadli Zon dan Fahri Hamzah sering mengatakan hukum kita tajam ke bawah tumpul ke atas. Penegakan hukum jaman Jokowi buruk. Hanya menjerat rakyat kecil.

Bagaimana komentar keduanya, juga penilaian para anggota DPR, mengenai Dyan Kemala Arrizzqi, yang diciduk polisi gara-gara membuat meme Setya Novanto, saat mengenakan masker alat bantu tidur di RS Premier dulu itu? Perempuan berumur 29 tahun itu, ditangkap (31/10) Badan Reserse Kriminal Polri, berdasar laporan Fredrich Yunadi kuasa hukum Novanto pada 10 Oktober. Dyan kini berstatus tersangka (1/11). Dijerat pasal 27 ayat 3 UU-ITE.

 

 

Adilkah? Hukum konon seperti dua wajah dalam satu koin dengan keadilan. Mungkin benar, menyatu tapi bertolak-belakang. Jika hukum ditegakkan tapi bermasalah dalam nilai keadilan, hukum itu cacat mental, meski secara procedural formal adalah legal. Kenapa? Karena kebenaran lebih karena keberpihakan.

Kebenaran memang relative. Lebih relative lagi dengan reputasi Setnov, meski lawyernya akan bilang praduga tak berduit. Kita lihat betapa sulitnya KPK menuntaskan kasus korupsi e-KTP. Bagaimana orang bisa mangkir berkali-kali padahal ‘hanya’ sebagai saksi. Setelah alasan sakitnya sembuh, kini alasan karena sedang masa reses. Reses apa reseh? Negara ini tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan soal etika.

Dalam dongeng-dongeng, Sang Raja selalu punya keputusan optional, lebih tinggi dari keputusan hakim sebagai wakil tuhan. Sayangnya Jokowi hanya rakyat jelata, yang kebetulan jadi presiden. Palingan Jokowi akan ngomong; “Itu ranah hukum, judikatif, jangan dilempar ke saya.” Terus, saya mesti bilang, “Jok, apakah kamu nggak bisa ngomong sama Setnov, tolong lepasin Dyan Kemala, minta Setnov ngomong ke Yandri, Yandri suruh nyabut laporan, dan polisi bikin berkas pembatalan. Selesai!”

Pasti dikira kethoprak. Padahal, apakah yang terjadi di Indonesia ini bukan kethoprak? Apakah ini yang dimaksud F n F, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas? Pasti omongan mereka akan lain lagi. Asal ngeles. Lagian, kenapa polisi tertib banget, dalam 20 hari langsung tangkap. Sementara sudah 6 bulan lebih, nangkap pencidera Novel Baswedan saja tak becus. Di mana hukum? Di mana keadilan?

Keadilan tanpa sistem hukum, mungkin bisa jadi tak adil. Tapi hukum tanpa keadilan, tak bisa disebut hukum, jika kita setuju bahwa cacat mental adalah penyakit bersama. Rasanya negeri ini memang dikuasai para vampire. Kekuasaan hanya untuk dipertontonkan dengan cara rendah, dan rakyat harus tertib hukum. Membully koruptor pun bisa melanggar hukum, wong hukum lebih berpihak pada hukum daripada keadilan. Apakah Setya Novanto orang mulia? Tak boleh dibikin meme? Karena ketua DPR?

Pantesan mahasiswa nggak berani ndemo Setnov. Braninya ‘sama’ Jokowi yang hobi bilang ‘aku rapopo’. Popo minto sohom!

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

 

Friday, November 3, 2017 - 01:00
Kategori Rubrik: