Membumikan Al Qur'an

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Sebagai keluarga 'baru', saya dan Nyonya dulu sangat amat bersyukur. Kami berdua masih berstatus pekerja, tentu tidak bisa diam di rumah 24 jam. Berangkat pagi, pulang lagi ke rumah menjelang petang. Tak jarang sampai malam.

Tentu saja ketika ada tambahan anggota keluarga baru, Anak Lanang dan Anak Wedok, pasti muncul banyak kerepotan. Keluarga jauh. Yang momong mereka siapa ?

Syukurlah, baik periode bayi sampai balita kedua Buah Hati kami, 'disediakan' Pemomong. Ya, saya pakai kata 'disediakan', karena nyaris musykil bisa dapat seorang Pembantu Rumah Tangga yang selain ngurusi rumah juga bisa ngëmong. Dan ini terjadi dua kali, masing2 berbeda person pada periode 'balita' kedua Buah Hati kami.

Sekitar 10 - 12 jam sehari Anak2 kami dalam asuhan mereka. Full. Bisa dibayangkan ndak, andai mereka, para pembantu itu, bukan orang yang baik. Baik 'adab' maupun 'akhlak' ?

Dalam budaya Jawa, posisi para 'Pembantu' ini memang unik. Meski digaji, terima upah, mereka bukan sekedar karyawan atau buruh. Karena 24 jam ada berada dalam 'lingkungan' kita. Jadi sikap, tingkah laku, bahkan mungkin sifat dan keinginan kita mereka sangat paham. Justru kita yang sering tak 'mengerti' mereka.

Posisi ini menyebabkan mereka peroleh sebutan sebagai 'rèwang' atau 'rèncang'. Teman. Tidak saja siratkan bermaksud sejajarkan posisi mereka, tapi juga untuk 'menghormati' mereka. Hasil kerja mereka.

Bahkan disebut juga sebagai 'Batur'. Dalam pelajaran boso Jowo, punya 'Jarwo-dosok', semacam mengurai, otak-atik kata, hingga bermakna, sebagai 'Êmbat-êmbate pitutur'. Tempat kita berkeluh-kesah, minta nasehat, dan lain-lain, pokoknya 'lay our trouble on their shoulder' . . .

Keren kan 'wong Jowo' ? Tentu saja ini bukan hanya milik budaya Jawa. Di seluruh pelosok Nusantara punya. Banyak 'folklore' dari Sabang sampai Merauke, yang tutur-tularkan ini . . .

Baca berita tentang salah seorang TKW kita di KSA, yang dihukum mati karena membunuh majikannya, membuat saya terheran-heran. Lebih heran lagi ternyata hukuman mati, bisa 'dianulir'. Dengan membayar 'diyat', semacam denda atau ganti-rugi pada pihak keluarga, sebesar 15,5 Milyar . . .

Itu bukan duit kecil bagi E bin T, si TKW asal Majalengka tadi, dan keluarganya. Itu jumlah yang 'sak hohah' juga bagi mayoritas penduduk Indonesia. Konon, LAZISNU, Lembaga Amil Zakat dan Sadakoh Nahdlotul Ulama, yang bayar sebagian besar dari jumlah itu, sejumlah 12,5 Milyar.

Kok sampai Ibu E bin T membunuh majikannya, versi resmi pengadilan dan pemerintah KSA, mesti memberatkan si Ibu. Pokoknya membunuh harus dibalas dengan dibunuh. Kecuali bisa bayar denda, si 'diyat' tadi. Sebagai ganti-rugi, mungkin karena dihitung si korban terbunuh ndak bisa lagi cari nafkah untuk keluarganya . . .

Ndak ngurus, jika membunuh itu karena bela-diri, atau sebab hal lain karena terpaksa. Orang Indonesia yang berstatus TKA, tenaga kerja asing, terutama perempuan, punya sosok tubuh yang jauh lebih 'mungil' dibanding para juragan 'pribumi' KSA, bisa dan berani membunuh, itu sudah 'amazing' sekali . . .

Jadi ingat waktu kami ber-haji beberapa tahun lalu. Ada seorang pelayan perempuan asal Sukabumi. Cantik berkulit putih bersih. Denok. Sempat ngobrol dengan kami.

"Enak ya, Teh. Kerja disini gajinya gede," satu saat Nyonya omong begitu pada si Teteh yang geulis. Ngobrol ngalor ngidul.

Dijawab oleh si Teteh dengan cepat, "Enak apa, Bu ! Tiap malam tidur di kamar mandi !". Nyonya nengok ke saya. Tanda ndak paham. Saya pura2 ndak dengar, pura2 ndak lihat juga, tapi wwk wk wk. Meski dalam hati . . .

Memang susah urusan 'beginian' di KSA. Orang nuduh 'berzina' tidaklah mudah. Harus ada 3 orang saksi. Dan harus jelas 'seterang benang masuk ke dalam lubang jarum'.

Kalau 'begituan', bisa ditonton oleh 3 orang dan seterang benang-jarum, memang kebangeten. Karena hukumnya dirajam, biar ndak setiap orang sembarangan bisa lapor, apalagi memfitnah. Kalau dirajam cuma yang wanita, laki2 ndak jelas di-apain, itu di pilem2 . . .

Tapi, iya kalau berzina yang sukarela, kalau diperkosa ? Apalagi rame2, gantian anak dan bapak. Yang lapor siapa, yang jadi saksi juga siapa . . .

Lemah posisi si Teteh, mungkin karena 'disana', KSA, kadang cuma dianggap sebagai 'budak'. Dan dimana pun, sak dunia, budak itu ndak punya hak apa2 . . .

Makanya si Teteh lebih memilih tidur di kamar mandi. Tidur bareng teman laki2 yang asal Indonesia, meski beda ranjang, ndak bole oleh si juragan. Bukan muhrim. Tidur di kamar sendirian takut di 'hoho-hihèh' justru oleh si juragan. Jadi, paling aman ya tidur di kamar mandi . . .

Agama atau budaya, adab atau akhlak, yang sebabkan itu semua. Tak adil, aniaya dan dzalim ?

Nabi Mulia, Muhammad saw, diutus ke dunia salah satu tugas utamanya adalah untuk perbaiki akhlak. Berhasil atau tidak misinya, silakan jawab dan telaah sendiri-sendiri.

"Sebaik-baik abad adalah abad generasiku" dawuh Kanjeng Nabi. Di masa itu memang Nabi punya Hamzah, paman Nabi, Singa Padang Pasir yang berani, setia, dan berpostur raksasa. Ada Ali bin Abi Thalib, remaja nan cerdas yang pertama untuk berani berikrar syahadat. Atau Orang Tua Bijak, Abu Bakar. Kita kenal Salman al Farisi, ahli perang muallaf asal Persi . . .

Tapi ada juga Abu Jahal. Ada pula Hindun, pemamah hati jenasah Hamzah. Hadir sosok Abu Sufyan, sahabat 'baru', karena baru jadi 'muallaf' setelah Mekkah ditaklukkan, tapi kemudian dengan cerdik bisa raih kekuasan. Anak turunnya jadi khalifah. Di masa awal ke-khalifahan, dinasti Umayyah, kedua Cucu kesayangan Nabi justru dibantai. Satu diracun, yang satu kepalanya dipenggal . . .

Pemahaman agama cuma lewat kulit sekarang jadi 'tren'. Jidat hitam. Jubah. Jilbab bahkan cadar. Celana Cingkrang. Ucapan 'syafakallah', 'happy milad'. Juga ber 'akhi-ukhti' . . .

Bangunan mesjid berornamen segi delapan pun seakan 'mewakili' arsitektur islam. Kubah dan menara pun di salah-pahami sebagai 'budaya' Islam.

Bener atau ndak, ya terserah saja . . .

Namun bagi saya pribadi, lebih 'nyês' kalau ke mesjid pakai sarung dan kopiah. Terasa lebih 'adêm' masuk mesjid beratap limas susun tiga.

Saya pun masih bisa nikmati nuansa religius, dari tembang 'Kidung Rumekso Ing Wengi, atau 'Tombo Ati' atau bahkan lagu 'Rindu Rasul' punya Bimbo . . .

Lebih senang sebut 'Langgar' daripada mushola . . .

Dan yang tak kalah penting, dalam rumah saya ndak ada dan tidak mengenal kata 'budak', perempuan atau laki-laki. Apalagi di kantor.

Yang ada cuma Rewang, Rencang, atau Batur. Embat-embate pitutur . . .

Saya memang merasa lebih 'nyês' dan 'srêg' ikuti kata Prof. Quraish Shihab, 'Membumikan Al-Qur'an'. Dan yang kami sebut bumi itu, kami pahami sebagai bumi 'Nusantara' . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Saturday, July 11, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: