Membuat Berita HOAX Bisa Membuat Kebodohan Atau Kegelapan Batin Bahkan Kekafiran Para Pendukung Capres

Karena kita ada di lingkungan dimana punya nama dan dikenal menjadi hal yang luar biasa. Ketika posisi mentok, bingung harus melakukan atau membuat apa, berita hoax yang dibuat akan viral, dan membuat popularitas naik. Terlalu memaksakan apa yang seharusnya tidak dipaksakan, tidak selamanya baik. 

Cari sensasi, dan sengaja bikin situasi chaos, kemudian menikmati dan mengambil keuntungan pribadi / sepihak dari hal tersebut adalah ciri para pembuat/penyebar berita hoax. Terkadang orang yang membawakan berita hoax atau membuatnya mereka mempunyai pemikiran yang sangat pendek mereka tidak tahu aja akibat dari membuat berita hoax. Dan orang lain dapat percaya bahwa mereka orang yang paling bener sedunia . Yang ujung-ujungnya berita hoax ini bisa membawa dampak buruk bagi si penerima berita tersebut, dan karena hoax juga manusia jadi saling fitnah memfitnah .

Oleh : Ester Nuria Surianegara

Jelang Pilpres 2019 ini di timeline FacebookTwitter, dan berbagai media sosial sering sekali ditemukan berita hoax yang dishare para pendukung capres kedua belah pihak. Semakin maju teknologi, semakin mudah orang berekspresi dan mencari informasi. Tapi rupanya tidak semua orang menggunakan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat. Ada banyak pihak yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk melakukan hal-hal jahat dan tidak bertanggung jawab, seperti menyebarkan berita palsu atau HOAX.

Ada banyak motivasi yang membuat orang menciptakan hoax:

  • Karena ada yang pekerjaannya dibayar untuk itu.
  • Karena dia percaya berita itu dan beritikad baik untuk membagikannya.
  • Karena dia melakukan eksperimen sosial untuk mengajar.
  • Karena dia butuh perhatian.
  • Karena awalnya berita hoaks itu dibuat sebagai sarkasme dia untuk mengritik pemerintah/organisasi tertentu.
  • Karena dia ingin membuat stabilitas nasional dan rakyat tenang.
  • Karena dia mau lawan politiknya kalah.
  • Karena dia mau pasar bergerak sesuai keinginannya.
  • Karena dia ingin agar umatnya sadar.
  • Dan sebagainya.

Intinya, dalam kehidupan, hoax itu pasti ada. Entah dari agama, negara, organisasi, atau pun diri personal. Lantas sadarkah kita bahwa membuat/menyebarkan berita bohong/hoax dalam kesadarannya namun tidak menyadari akan kedunguannya dalam persoalan tersebut.

Berusaha MENYADARI akan KEBODOHAN DIRI SENDIRI adakalanya bisa menjadi langkah yang lebih bijak daripada berusaha memahami akan kebenaran sejati ketika kita dihadapkan pada berbagai persoalan hidup yang acapkali datang menyapa di sepanjang perjalanan.

.
Ya, karena di saat diri menyadari akan kebodohan sendiri, sesungguhnya disitulah letak KEHORMATAN yang HAKIKI ... Dan kehormatan itulah yang akan menjadi MAHKOTA bagi yang dapat menyadarinya.
.
Ada salah satu pepatah bijak mengatakan bahwasanya "DIAM ITU EMAS"
Di satu sisi, diam mungkin bisa berarti mengerti/memahami.
Namun di lain sisi, diam juga bisa jadi karena sama sekali tidak mengerti/tidak paham.
.
Sebagaimana "benar" juga belum tentu berarti benar yang sesungguhnya ... Namun "benar" juga bisa jadi "salah/keliru"
Faktanya, dalam kehidupan ini banyak orang merasa benar sebab mereka tak merasa salah.
.
Manusia yang BERKETUHANAN tentu menyadari, bahwasanya kemuliaan budi pekerti dapat tercapai ketika diri bisa dan mau menyadari akan kesalahan akibat kebodohannya sendiri.
.
Suatu kebodohan atau KEGELAPAN BATIN itu bisa jadi disebabkan oleh karena TERTUTUPNYA atau BUTANYA MATA HATI, yang mana keadaan tersebut juga bisa disebut KAFIR. Bagi para pembuat/penyebar berita hoax termasuk di antaranya.
.
Sesungguhnya, pujian/ penghormatan/ pandangan positive/ maupun predikat "baik dan terhormat" dari orang lain, adalah bukan lagi sesuatu yang diperlukan ketika ia telah MERASA CUKUP DENGAN DIRI SENDIRI.
.
Bagi yang dapat menyadari akan hal tersebut, tentu akan membuat KEBENINGAN dan KEDAMAIAN yang tak terkira di dalam ... Sebab ia telah mengerti dan memahami berbagai KEINDAHAN yang terjadi di sekeliling kehidupan, sekalipun itu terbungkus dengan sesuatu yang terlihat buruk. Namun bagi para pembuat/penyebar hoax tidak mampu memahami berbagai keindahan/kebeningan/kedamaian dalam kehidupan ini.
.
Ketika dihadapkan pada perselisihan, sebenarnya tak perlu ngotot hingga urat leher mencuat keluar demi mempertahankan prinsip kebenaran sejati, apalagi membuat/menyebarkan hoax demi mempertahankan PEMBENARANNYA.
.
Karena sesungguhnya MENJAGA HATI itu lebih utama daripada mendapatkan pembenaran dari orang lain.
Oleh sebab itu, tak perlu berusaha untuk selalu menang di setiap perdebatan atau perselisihan yang terjadi.
.
Adakalanya justru dengan cara MENGALAH adalah langkah yang terbaik untuk MENDIDIK Jiwa atau #ego agar ia TIDAK SOMBONG atau merasa besar/tinggi.
.
Dan alangkah lebih baiknya bila perasaan panasnya hati dapat dikendalikan ... Sebab itu juga dapat menambah munculnya kebodohan-kebodohan yang lain. Salah satunya ya membuat/menyebarkan hoax itu.
.
Kalaupun harus menunjukkan kepada orang lain akan kebenaran pandangan kita, maka langkah itu perlu dilakukan dengan kearifan dan kebijaksanaan, TANPA harus membuat orang lain kehilangan muka.
.
ARIF dan BIJAKSANA.
Adalah dua kata yang memang tidak mudah untuk didapat dan dijalani, karena pada dasarnya perihal itu adalah buah KARUNIA dari-NYA.
Namun apabila diri mau mencoba/belajar, pasti bisa (insha allah).
~~~~~~~~~~~~~~~
.
#Note:
Diam memang emas.
Namun YANG TAU KAPAN WAKTUNYA untuk bicara dan kapan waktunya untuk diam ... Itulah BERLIAN. Ingin jadi berlian, jangan membuat/menyebarkan berita hoax, tapi diam sambil mencari fakta yang sebenarnya dalam diamnya tersebut.
.
.
.
#EsterNuriaSurianegara 
#PenaPendosa.

 

Saturday, September 29, 2018 - 02:30
Kategori Rubrik: