Membongkar Modus Pembunuhan Bulutangkis Indonesia

Oleh: Eko Kuntadhi

 
Adakah olahragawan sukses yang merokok? Atau adakah orang yang suka olahraga sekaligus perokok berat? Kayaknya gak ada. Artinya kalau mau mengurangi populasi perokok, salah satu caranya, budayakan olahraga.

Bagaimana cara budayakan olahraga, bikin event olahraga besar yang melibatkan banyak orang. Khususnya anak-anak. Agar mereka menjauhi rokok.

 

Tapi bagaimana jika yang membuat event itu justru perusahaan yang berafiliasi dengan pabrik rokok? Itulah, kerennya industri rokok.

Di bungkus rokok, sudah ada peringatan dengan gambar menyeramkan. Kata-katanya kasar. Tapi para perokok gak juga berhenti membeli. Piye?

Sebab yang menyebabkan orang merokok adalah lingkungan. Merokok adalah kebiasaan. Tanpa iklanpun, orang akan tetap saja merokok. Bahkan dengan iklan buruk sekalipun --seperti dalam gambar bungkus rokok-- gak ngaruh bagi mereka. 

Untuk memerangi rokok, tidak ada jalan lain selain dengan pendekatan kebiasaan. Buoan dengan koar-koar. Kebiasaan berolahraga salah satunya.

Tapi apakah di dunia ini hanya rokok yang berbahaya? Asapnya merusak tubuh? Ohh, gak juga. Asap kendaraan juga bahaya. Asap pabrik juga bahaya. Buktinya Jakarta jadi kota dengan udara terburuk. Tapi gak ada batasan iklan untuk jualan mobil dan motor.

Bagi anak-anak, yang berbahaya juga makanan ber-SMG tinggi. Zat pewarna. Racikan kimiawi menyedap rasa dalam berbagai snack dan mie instans. Jenis zat ini sama adiktifnya dengan nikotin. Sama-sama menganggu kesehatan.

Bedanya dalam nikotin banyak juga manfaatnya bagi tubuh. Banyak pabrik farmasi memanfaatkan nikotin untuk pengobatan. Termasuk untuk menghentikan kebiasaan merokok.

“Tembakau melancarkan pencernaan, meringankan encok, sakit gigi, mencegah infeksi melalui bau-bauan. Tembakau menghangatkan yang kedinginan, sekaligus menyejukkan mereka yang berkeringat. Tembakau juga bisa dijadikan asap untuk penyakit tuberkolusis, diuapkan untuk sakit rematik dan semua penyakit hawa dingin dan lembab.” (John Joseslyn 1675, dikutip C.A. Weslager, Magic Medicines of the Indians, 1974)

Sejak 1988 terbit laporan Surgeon General AS untuk pertama kalinya menyatakan bahwa nikotin adalah zat yang menyebabkan kecanduan, mendorong kebiasaan (habituating) dan ketagihan (addiction).

Karena itu perlu ditangani dengan terapi. Sejak saat itu kampanye anti tembakau meluas di AS. Disambut hadirnya produk farmasi untuk berhenti merokok.

Sebut saja Johnson & Johnson, GlaxoSmithKline, Pharmacia & Upjohn, Advanced Tobacco Products, Inc, Hoechst Marion Roussel, Novartis, dan Pfizer. Mereka mendukung kampanye anti rokok sambil mendulang uang milyaran dolar.

Semua produk mereka berbasis nikotin. Ada yang berbentuk obat, koyo, atau permen karet. Sebab nikotin memang punya efek terapi bagi tubuh.

Pada akhir 2000, penjualan obat 'berhenti merokok' berbasis nikotin di Amerika mencapai US$ 700 juta. Tidak termasuk penjualan Zyban obat berhenti merokok non nikotin. Belum lagi di luar AS. Agar penjualannya laku, disasarlah pasar-pasar perokok seperti di Asia termasuk Indonesia.

Kampanye antirokok digalakkan. Dana marketing dikerahkan. Dampaknya pendapatan industri farmasi meningkat terus. Jangan kaget kalau Yayasan Lentera Anak pendukung KPAI juga dapat kucuran dana dari Blommberg untuk memerangi semua unsur rokok.

Bahkan event olahraga seperti audisi bulutabgkis Djarum --yang justru sebagai kegiatan paling efektif mengurangi kebiasaan merokok-- ikut diperangi. Tujuannya bukan untuk mengurangi orang terpapar rokok. Sebab event olahraga justru berdampak orang menjauhi rokok. Tetapi agar diskursus soal bahaya merokok meluas. Agar industri farmasi dunia di belakangnya bisa menangguk untung.

Begini. Salah satu produk grup Djarum memang rokok. Tetapi even olahraga justru kampanye paling efektif untuk menjauhi rokok. Protes pada audisi bukutangkis Djarum, bukan bertujuan untuk menghindari anak terpapar rokok. Tapi lebih sebagai efek kampanye bahaya merokok. Sekaligus iklan buat industri farmasi.

Dan ketika kehebohan melanda publik karena penghentian audisi bukutangkis, justru itulah letak keberhasilan program yang diinisiasi Blommberg. Kehobohan itu yang dicari. Soal prestasi bulutangkis, tidak termasuk dalam agenda mereka.

Sebetulnya wajar PB Djarum menghentikan aktivitasnya. Buat apa buang-buang duit membangun prestasi bangsa tapi justru malah dituding mengeksploitasi anak. Wong, eventnya saja sudah paradoks dengan produk rokoknya. Artinya Djarum menggelar event olahraga justru sebagai bagian dari kampanye anti rokok. Anak-anak menggemar olahraga otomatis mereka menjauhi rokok. Artinya Djarum keluar duit ratusan miliar untuk 'membunuh' produknya sendiri. 

Saya amat yakin, dari event audisi bukutangkis itu lebih banyak anak yang dijauhi dari rokok. Bisa disurvei kepada para peserta yang saban tahun meningkat. Apakah setelah itu mereka jadi giat merokok atau malah menjauhi rokok karena bermimpi jadi atlet?

Yang patut dipertanyakan justru KPAI dan Lentera Anak. Seberapa banyak anak-anak yang dijauhi dari rokok akibat program yang mereka hela.

Beginilah kalau orang hanya melihat bungkusnya saja. Mereka mengira anak yang memakai kaos berlogo Djarum, itu sudah mirip dengan bungkus rokok. Nah, soal kemasan itulah yang dihebohkan. Sebab memang tujuannya hanya memerangi kemasan.

Djarum mah, nyantai. Mau nyumbang untuk pembinaan atlet dipersulit, ya sudah. Duitnya bisa buat yang lain. Atau dialihkan untuk program iklan rokok secara terang-teranga. Toh, gak dilarang. Kan, asyik. Menambah kocek mereka.

Yang bodoh ya, bangsa ini. Atau lebih tepatnya lembaga-lembaga norak itu. Yang sibuk dengan agenda kepentingan orang lain ketimbang prestasi bangsanya sendiri. 

"Mas, bagi rokoknya, dong," Abu Kumkum nyeletuk.

Hush! Nanti aku disemprot KPAI, Komisi Perlindungan Aki-Aki Indonesia...

(www.ekokuntadhi.id)

Monday, September 9, 2019 - 19:30
Kategori Rubrik: