Membersihkan Khilafah yang Menyampah

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Rasa haru menyelimuti perasaan kita melihat upacara pengibaran dan penurunan bendera di istana yg penuh warna pakaian adat dari pelosok nusantara. 

Kawan saya nyeletuk, kenapa baru sekarang. Saya menjawab lirih, sebenarnya kita puluhan tahun nyaris bukan Indonesia, syukur masih ada pancasila, puncak dari hampir lenyapnya kebhinekaan adalah 20 thn terakhir manakala kehadiran kaum intoleran yg ditoleransi oleh pemerintah yg tak punya marwah. 

 

Bersyukur kepada Tuhan, DIA mengirim Jokowi ditengah tercabiknya kebhinekaan dan rasa persatuan. Hampir disetiap sudut jalan kita mendengar makian yg ditujukan kepada pemerintahan, kenapa saat orba dimana hak rakyat disikat kita diam saja, ya karena kita tak bisa apa², jangankan protes, salah ketawa saja, besok pagi kita bisa gak liat dunia.

Hadirnya HTI dan kelompok berjubah agama berprilaku Srigala yg lama merajalela harus segera dibuat tak ada. Langkah Jokowi menghentikan HTI adalah langkah berani, karena sejak 1983 kelompok ini malah dierami orang² yg punya kepentingan, mereka lupa memelihara HTI sama saja seperti tidur denhan anak Singa, dia senang bau darah kita, tak perlu menunggu luka, mimisan saja hidung kita, bisa hilang bersama kepala karena semua dikremusnya.

17 Agustus, perayaan yg sudah lama hambar bak kopi kurang gula, hari ini terasa berbeda. Bukan hanya soal busana, tapi suasana kebhinekaan begitu kuat. Ada gerakan pakaian daerah dan kebaya belakangan ini adalah juga sikap kita yg tidak membiarkan ada banyak ninja dijalanan, kebaya, kain berwiron, sanggul nan anggun, yg lama disamun, kini mulai kita tenun dan rajut ulang agar Indonesia bisa kembali seperti sediakala.

Gangguan yg terus ada dari kelompok pekok, ijtimak ulama IV yg menghadirkan pemimpin HTI yg sudah dibuat mati adalah sebuah tantangan yg mengkhawatirkan, dan ini harus kita lawan tanpa memberi ruang. Pernyataan Menhan atas terpaparnya TNI atas paham radikal sebanyak 3% dan hadirnya Jendral pensiun yg mengatakan TNI bisa menurunkan pemerintah untuk menghadirkan khilafah adalah matinya Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, sungguh ini membahayakan. Kasus Enzo yg dianggap TNI kecolongan, kemudian diclosing dgn sedikit kekeruhan berideologi, tapi mungkin saja itu starategi, diangkat lalu dikebiri, biarlah itu urusan TNI. 

Kini suasana dipanaskan dgn mulut Somad yg berangasan, kita sdg membangun kuatnya kebhinekaan, dia menghujat salib yg dipakai teman beriman, walau lain ajaran tapi mereka punya keyakinan, jadi kenapa terus dicaci maki, apakah itu menandakan Somad manusia terpuji, atau dia sendiri yg sedang menebar ilusi karena justru setan sedang berkolaborasi memenuhi hatinya, makanya dia lupa dia sedang bicara apa. Ulama jenis apa dia, atau hanya meminjam nama, karena sejatinya dia tak paham sendi agama yg diharamkan mencela. Apa itu juga pancingan dari kelompok yg pengen Indonesia tetap jongkok dipojok.

DIRGAHAYU INDONESIA DIHARI KEMERDEKAAN YG KE 74, SEMOGA KESADARAN KITA BERNEGARA MAKIN KUAT. INDONESIAKU, INDONESIAMU, INDONESIA KITA, BUKAN MEREKA.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Monday, August 19, 2019 - 22:15
Kategori Rubrik: