Membentuk KPK Baru Sama dengan Makar

Ilustrasi

Oleh : Saiful Huda Ems

Membentuk KPK baru dengan skala daerah tidaklah ada dasar hukumnya, meskipun kepanjangan KPK DKI itu berbeda dengan KPK yang sudah ada. KPK DKI kepanjangannya Komite Pencegahan Korupsi, tapi KPK Nasional kepanjangannya Komisi Pemberantasan Korupsi. Ini adalah duplikasi yang bermotifkan kriminal, yang jika diselidiki lebih lanjut akan menjurus pada tindak perbuatan pidana dan dapat membawa mereka ke penjara. Kalau tujuan membentuk KPK daerah dimaksudkan untuk mencegah dan menelusuri korupsi, di setiap birokrasi sudah mempunyai inspektorat yang bertugas untuk mengawasi dan menelusuri korupsi hingga memberi sanksi atas berbagai pelanggaran. Jadi membentuk KPK DKI adalah tindakan yang mengada-ada.

Selain daripada itu sayapun berpikir bahwa KPK daerah yang dibentuk Pemprov DKI itu merupakan langkah antisipasinya untuk suatu saat bila mereka tertangkap KPK maka mereka akan memunculkan KPK barunya sebagai tandingan untuk membentuk opini baru yang menyesatkan, karena bertentangan dengan apa yang diputuskan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Langkah-langkah dari otak kriminal seperti ini sangat mudah terbaca. Ia memanfaatkan militansi masyarakat yang sudah dibutakan dan dimabukkan oleh dogma-dogma agama yang bersumber dari ajaran-ajaran murni agama yang sudah dimanipulasinya terlebih dahulu.

Perlu kiranya ada tindakan tegas dari Pemerintah Pusat untuk menyikapi pemberontakan sistemik terselubung dari Pemerintah Provinsi seperti ini, jika tidak maka wibawa Pemerintah Pusat akan terdegradasi secara cepat. Rakyat Indonesia akan terkacaukan oleh adanya negara dalam negara, atau setidaknya terkacaukan oleh Gubernur yang merasa dan bertindak layaknya sebagai presiden. Ini negara Republik Kesatuan, dimana suruh pemimpin pemerintahan di level daerah harus tunduk pada kebijaksanaan pemerintah pusat. Mereka yang menolak kenyataan ini adalah sebuah bentuk pembangkangan yang bisa dianggap sebagai perbuatan makar !...(SHE).

Sumber : Status Facebook Saiful Huda Ems

Sunday, January 7, 2018 - 16:45
Kategori Rubrik: