Membela Ahok Sama dengan Membela Ajaran Islam

Oleh : Muhammad Nurudin

Dari sejumlah tulisan terkait Ahok yang saya posting beberapa hari belakangan ini saya menerima beragam pesan dari para pembaca yang cukup banyak dan memberikan suntikan. Sebagian besar di antaranya memang berisikan hinaan, cacian, kata-kata yang merendahkan, menyesatkan, mengancam, bahkan ada di antara mereka menyuruh saya untuk segera bertaubat atas "kesesatan" yang selama ini saya sebar-luaskan.

Tapi di sisi lain, yang cukup memberikan ketentraman, sebagian dari mereka juga ada yang mengapresiasi sekaligus memberi saya motivasi dan dukungan.

Yang terakhir ini memang tak terlalu banyak ditemukan. Karena memang manusia zaman sekarang, baik Muslim maupun non-Muslim, faktanya lebih suka menempuh cara-cara orang yang hidup di zaman kegelapan untuk meruntuhkan orang yang berbeda pandangan, ketimbang harus merangkai sebuah tulisan dengan cara yang santun dan penyampaian yang elegan.

Saya sendiri heran. Kenapa bisa terjadi demikian. Padahal Islam jelas sekali mengajarkan kesantunan dan kesopanan dalam mengomentari orang yang berbeda pandangan, hatta dengan orang yang tak beriman kepada Tuhan.

Dalil-dalil keagamaan yang memuat tuntunan demikian cukup melimpah dan rasanya tak perlu saya sebutkan. Tapi itulah fakta memilukan yang sekarang ini kita saksikan. Orang dengan mudah sekali menyudutkan orang yang berbeda pandangan dengan kata-kata yang menyakitkan.   

Namun demikian, di tengah gempuran kata-kata yang menyakitkan dan hinaan yang melemahkan tersebut ternyata ada setetes embun yang mampu melecut motivasi dan memberikan kedamaian. Setidaknya ada dua pesan pembaca yang membuat saya semakin termotivasi menulis dan yang hampir membuat saya menangis dengan air mata keharuan.

Pesan pertama saya terima dari salah seorang Profesor di Fakultas Sastra di UIN Sunan Kalijaga. Dan yang kedua saya terima dari salah seorang pembaca yang saya sendiri belum tahu lebih jauh identitasnya seperti apa. Pesan kedua inilah yang hampir menumpahkan air mata keharuan. 

Pesan tersebut akan saya kutip bukan untuk dibanggakan, tapi justru untuk kita jadikan pelajaran.

Pesan ini saya sampaikan bukan dengan tujuan agar anda memandang saya dengan puji-pujian, tapi saya hanya ingin menyampaikan bahwa di balik pesan ini ada pelajaran penting yang selama ini seringkali kita lupakan:

"Saya gak pernah belajar tentang agama Islam, sejak kecil sampai besar saya gak pernah sekolah di sekolah Islam, dan setelah membaca tulisan anda yang benar2 telah belajar agama Islam, saya jadi makin yakin bahwa agama Islam itu agama yang sangat indah. Tidak pernah menebarkan kebencian kepada siapapun.

Dan saya juga jadi yakin bahwa orang yang memahami agama ini tidak harus berjidat hitam, berjanggut panjang dan berjubah putih, tapi orang yang memahami agama ini seperti ulama-ulama yang anda sebut itu dan termasuk anda. Terima kasih atas ilmunya.

Terus menulis mas Nuruddin biar orang seperti saya yang tidak mengerti apa-apa tentang Agama ini bisa tercerahkan dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh orang yang mengatas-namakan agama demi nafsu pribadinya."

Hilangkanlah seketika asumsi bahwa saya adalah orang hebat dan pantas untuk mendapatkan pujian. Tidak. Saya tidak merasa demikian. Saya hanya melakukan sesuatu dengan dorongan nurani dan ingin menyampaikan apa yang saya anggap sebagai sebuah kebenaran.

Tak pernah terpikir di kepala saya bahwa ketika saya menulis tulisan yang secara lahiriah tampak "membela" non-Muslim—yang berkonsekuensi pada tumpahan cacian dan hinaan itu—akan ada orang yang mengirim pesan demikian.

Ini adalah pesan yang tak disangkakan sebelumnya dan pada akhirnya semakin memotivasi saya untuk tak berhenti menulis dan menyampaikan kebenaran. Persis pada titik inilah saya betul-betul mendapatkan pelajaran yang perlu untuk sama-sama kita renungkan.

Coba kita renungkan, wahai saudara-saudaraku yang beriman, saban hari kita menyudutkan non-Muslim bernama Ahok dengan kata-kata nista dan menuduh dia telah menghina al-Quran.

Tapi kita lupa bahwa di balik prahara yang menerpa Ahok itu ada pihak yang hendak mengambil kepentingan dan keuntungan. Kita lupa bahwa Ahok adalah non-Muslim yang sedang dizalimi demi kepentingan dan syahwat politik suatu golongan.

Kita lupa bahwa Ahok adalah non-Muslim yang harus kita hormati karena dia adalah bagian dari Indonesia dan sudah mengutarakan kata maaf dengan penuh ketulusan.

Kita lupa bahwa Ahok adalah hamba Allah yang sama-sama harus kita perlakukan secara adil dan penuh kejujuran. Kita lupa bahwa Ahok adalah hamba Tuhan yang telah memberikan kita kehidupan dan telah menganugerahi kita kenikmatan.

Kita lupa bahwa Ahok adalah non-Muslim yang harus kita maafkan, karena dia sudah meminta maaf dengan cara-cara terbuka dan elegan.

Kita lupa bahwa Ahok dan kita memang berbeda keyakinan, tapi ingat, Tuhan Ahok dan Tuhan kita sama, meskipun soal konsepsi ketuhanan kita jelas berbeda pandangan.

Kita lupa bahwa Ahok secara konstitusional berhak untuk dipilih dalam kontes pemilihan, meskipun MUI mengharamkan pemilihannya berdasarkan ayat suci al-Quran.

Kita tahu bahwa Ahok tak berniat untuk menghina al-Quran dan dia sendiri berterus terang bahwa dia tak bertujuan demikian.

 

Dan kita pun tahu bahwa Ahok dengan status kenon-Musliman-nya termasuk salah satu golongan yang tak selamanya dinistakan oleh al-Quran.

Menistakan Ahok dengan alasan yang masih kabur dan tak memiliki kepastian itu artinya sama saja kita mengabaikan kemuliaan Tuhan yang telah memuliakan Ahok dan telah menganugerahi kita kehidupan.

Menzalimi Ahok yang sudah jelas-jelas meminta maaf, sama saja artinya kita lebih mendahulukan keduniawian ketimbang tuntunan Tuhan yang memerintahkan kita untuk saling memaafkan.

Inilah kejernihan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Bahwa semua manusia itu pada dasarnya setara di hadapan Tuhan sebagai anak cucu Adam. Tak ada yang membedakan antara yang ini dengan yang itu kecuali ketakwaan dan amal perbuatan.

Tapi sayang, keindahan tuntunan ajaran Islam ini perlahan mulai tertutupi oleh syahwat keduniawian. Kesejukan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Saw telah dikotori oleh sejumlah pihak yang lebih mendahulukan kepentingan kelompok ketimbang kepentingan yang dapat menunjang kebersamaan.

Perbuatan semacam ini jelas harus kita kutuk dan tak boleh kita biarkan. Kita tak ingin agama kita dipandang sebagai agama kebencian hanya karena persoalan sepele yang terus menerus dibesar-besarkan. Karena yang kita inginkan ialah dunia memandang bahwa Islam Indonesia itu bersih dari ajaran kekerasan dan tak pernah mengajarkan kebencian kepada orang-orang yang berlainan.

 Islam tak pernah mengajarkan kebencian hatta kepada orang-orang yang melakukan kezaliman. Yang dikutuk oleh Islam itu kezaliman, bukan pelaku kezaliman. Kezaliman semuanya terkutuk, tapi orang yang melakukan kezaliman pada dasarnya adalah makhluk yang dimuliakan oleh Tuhan.

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa semakin kita menebar kebencian kepada Ahok, semakin buruklah citra agama kita di mata orang-orang yang memiliki agama berlainan.

Semakin kita mengungkit-ngungkit kembali masalah Ahok yang dituduh menghina al-Quran, semakin hilanglah tuntunan Rasulullah Saw yang memerintahkan kita untuk saling menghormati dan saling memaafkan.

Semakin kita menzalimi Ahok, semakin buruklah tuntunan agama kita di mata mereka yang merindukan adanya keadilan.

Ahok tak menghina al-Quran, saudara-sadaraku sekalian. Untuk membuktikan bahwa Ahok tak menghina al-Quran anda tak perlu buka-buka tafsir al-Quran. Cukup analisis perkataannya dengan kejernihan kepala dan singkirkan kecurigaan.

Kita jangan mau digiring dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang berkepentingan. Kita jangan mau mengamini pembodohan yang dibalut dengan kata-kata penghinaan terhadap kitab suci al-Quran. Kita jangan mudah tersulut emosi dan kecurigaan, padahal orang yang kita tuduh sudah meminta maaf dengan penuh keterbukaan.

Saya ingin mengajukan pertanyaan: kesimpulan apa yang paling tepat kalau ada orang dituduh menghina al-Quran, padahal dia sendiri tak bermaksud demikian, kemudian setelah itu dia meminta maaf dengan penuh keterbukaan, tapi pada akhirnya masih saja diungkit-ungkit, disalah-salahkan oleh salah satu lembaga keagamaan, dan belakangan didemo secara besar-besaran?

Tafsiran apa yang paling tepat untuk memandang hal demikian? Jawaban saya: inilah syahwat keduniawian yang najis dan tak pantas kita lestarikan! Kita sudah dibodohi oleh orang-orang yang berkepentingan.      

Tanya hati nurani anda saudara, relakah anda jika agama anda dikatakan sebagai agama kebencian? Relakah anda jika agama anda dituduh sebagai agama yang bisanya hanya memfitnah orang?

Relakah anda jika agama anda dipandang sebagai agama yang tak memiliki belas kasihan? Relakah anda jika agama anda dipandang sebagai agama yang tak mengajarkan sikap saling maaf-memaafkan padahal Rasulullah Saw sudah mengajarkan hal demikian?

Relahkan anda jika al-Quran yang kita baca dengan penuh kekhusyuan itu dipandang sebagai kitab suci yang sarat akan kebencian? Relakah kita dengan itu semua sementara kita tetap bersikeras menuntut seorang Ahok untuk dihukum dengan penuh kezaliman?

Keliru kalau anda berpendirian bahwa ketika kita membela hak-hak konstitusional Ahok kita berada dalam kelemahan. Keliru kalau anda berpandangan bahwa jika kita memaafkan Ahok maka kita sudah membiarkan kemungkaran.

Keliru kalau anda berpandangan bahwa membela Ahok adalah membela kekufuran. Bukan kekufurannya yang kita perjuangkan, tapi hak-hak konstitusional dan kemanusiaannyalah yang ingin kita berikan. Inilah keadailan yang diajarkan oleh Islam.

Membela sisi kemanusiaan dan hak-hak konstitusional Ahok justru menjadi kesampatan bagi kita untuk memperkenalkan agama ini sebagai agama yang penuh dengan kedamaian, bukan kebencian.

Memaafkan kesalahan Ahok dengan penuh kedewasaan akan membuat citra agama kita di mata non-Muslim lebih baik dan lebih menarik perhatian. Memaafkan kesalahan Ahok tak akan sedikitpun mengurangi kehormatan al-Quran.

Alih-alih mengurangi kehormatan al-Quran, justru dengan memaafkan Ahok kita sudah mengamalkan apa yang diajarkan oleh al-Quran. Maafkan Ahok dan berhentilah membenci Ahok jika kita masih berharap agar agama kita dipandang baik dan dihormati oleh seluruh kalangan.

Berhentilah menghujat Ahok dengan alasan yang masih bisa diperdebatkan jika anda tak ingin dibenci oleh Tuhan yang telah melahirkan Ahok dan telah menganugerinya kemuliaan sebagai anak cucu Adam.

Biarkan Ahok bertarung dengan lawan-lawannya secara fair tanpa harus mengungkit-ngungkit lagi kesalahannya yang dituduh telah menghina al-Quran. Ini baru namanya keadilan.

Inilah Islam yang saya pelajari dari al-Azhar. Islam yang mendamaikan dan memberi kedamaian. Islam yang memaafkan, bukan Islam yang mengungkit-ngungkit kesalahan. Islam yang ramah, bukan Islam yang marah-marahan. Islam yang memberi ketenangan, bukan Islam yang menebar kerusuhan. Islam yang menjunjung tinggi keadailan, bukan Islam yang menebar kezaliman.

Islam yang mempedulikan hak-hak Tuhan, bukan Islam yang dikotori oleh syahwat politik dan syahwat keduniawian. Islam yang tenang, bukan Islam yang suka mengganggu ketenangan. Islam yang damai, bukan Islam yang mengganggu perdamaian. Inilah Islam yang saya pelajari dari ulama-ulama al-Azhar. Inilah Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Dan inilah Islam yang kelak akan kita bawa di hadapan Tuhan.

Ketimbang kita harus sibuk memperkarakan seorang Ahok yang sudah meminta maaf dengan penuh keterbukaan, lebih baik kita merajut kembali persatuan dan melupakan semua kebencian yang dapat mengancam keutuhan negeri yang sama-sama kita muliakan.

Semoga kita tersadarkan dan semoga kelak kita bisa kembali kepada Tuhan dengan penuh keridaan. Tidakkah kau sadar, wahai orang-orang yang beriman?

(Kairo, Zahra-Medinat Nasr 16 Oktober 2016)   **
Sumber : qureta.com

Monday, October 17, 2016 - 09:30
Kategori Rubrik: