Membela Abu Janda dan Publik Speaking Yang Bagus

Ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Orang yang bernama dan menggelari dirinya sendiri dengan nama dan gelar: Ust. Dr. Miftahurrahman El-Banjary, MA menurunkan tulisan yang menonjok dan menjatuhkan Abu Janda (nama aslinya Permadi). Saya mengenal Mas Miftah dari Facebook (namun kemudian saya diblokir) dan buku-bukunya. Sebab saya dan Mas Miftah menulis buku secara rutin dan berkala di Penerbit Elex Media Komputindo, Kompas-Gramedia, Jakarta.

Mas Miftah menulis dengan penuh emosi dan benci, menolol dan mendungukan Abu Janda dengan bahasa yang vulgar. Sampai-sampai nama samaran 'Abu Janda' dianggap serius, sebagai upaya perilaku mendungukan dirinya sendiri. Harus saya jelaskan, orang dengan kepribadian seperti Abu Janda itu orang yang punya kekhasan melakukan kritik dengan gaya satire dan guyon. Melancarkan kritik sosial dengan diselingi hiburan. Karakter ini jugalah yang biasa ditradisikan oleh warga nahdliyin (NU), terutama para dai-dai NU.

Abu Janda memang harus lebih hati-hati. Tulisan-tulisan pendeknya di media sosial sangat menohok. Tetapi kita lihat ketika Abu Janda tampil perdana secara live di televisi, masih terpancing emosi dan dengan kemampuan public speaking yang masih belum bagus. Saya akan membela Abu Janda dalam konteks kegigihannya melakukan kritik sosial kepada--terutama--para penganut Islam radikal.

Orang yang pandai menulis, ternyata belum tentu pandai berbicara. Begitupun sebaliknya, orang yang pandai berbicara, belum tentu pandai menulis. Kita membutuhkan orang-orang moderat yang pandai menulis, sekaligus pandai berbicara. Sebab dakwah Islam dalam konteks sekarang ini mesti bervariasi dan multi-metode.

Nah persoalan mendasar ini yang dipahami betul kelompok radikal. Mereka sadar, dari segi kuantitas mereka masih sedikit. Maka mereka mengerahkan para orator dan motivator untuk memompa semangat jamaah agar mereka militan. Maka dipilihkan istilah-istilah instan seperti 'jihad', 'kafir', 'munafiq', 'hijrah' dan sejenisnya. Mereka berusaha untuk menguasai media sosial dan media nasional.

Lihat saja kelompok radikal dan intoleran (meskipun mereka menolak dianggap radikal dan intoleran) seperti Rizieq Shihab, Bachtiar Nasir, Felix Siauw, Al-Khattath, Arifin Ilham dan para tokoh agama Islam penganut 212 yang lainnya, punya kemampuan public speaking yang bisa memukau jamaah, bisa menulis dengan daya yang menggerakkan. Mereka ini pandai dalam metode tapi kosong dalam isi.

Isu-isu seperti penerapan syariat Islam, khilafah Islamiyah, NKRI bersyariah, tahfidz Al-Qur'an, sambil meracuni publik dengan fitnah kemunculan PKI, China dan lain sejenisnya adalah cara paling ampuh untuk mempengaruhi persepsi dan opini publik. Mereka, terutama para tokoh panutannya, adalah mereka yang dianggap ulama tetapi tidak punya keilmuan dan tradisi kepesantrenan. Mereka hanya menang pasar, mereka paling pandai membaca kebutuhan pasar.

Tidak ada jalan lain, kecuali kita harus kompak untuk memberangus gejala radikal dan intoleran ini. Para ulama moderat dan kita umumnya masyarakat harus saling mengisi. Memberikan dakwah-dakwah sejuk lewat media sosial, media nasional dll. Wahid Fondation, Setara Istitute, Alvara Institute, PPIM UIN Jakarta dan lembaga lain sejenis selalu melaporkan bahwa angka intoleransi selalu melonjak tajam. Siapa coba pelaku intoleran? Ya mereka yang kebanyakan berada dalam barisan penganut 212.

Wallaahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang Haerudin

Thursday, December 7, 2017 - 15:15
Kategori Rubrik: