Membekali Suami Makan Siang

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Sekali-sekali pernah bikin bekal buat suami. Bukan niat sih, kalau kebetulan lagi bikin sarapan nasi goreng, trus dia buru-buru terlambat ke kantor. Dia biasanya request di wadah saja biar bisa sarapan di kantor.

Dulu seorang teman pernah cerita dia ngejatah duit buat makan siang suaminya. Semua gaji suami masuk rekeningnya setelah mampir beberapa menit di rekening si suami. Dia terdengar bangga bisa menjatah jajan si suami yang menurutnya bisa membahayakan kestabilan keluarga kalau jajannya sampai tidak dikontrol. Aku dengarnya kayak ibu lagi ngasih duit jajan ke anaknya. Bagaimana kalau tiba-tiba ketemu teman lama (yang mudah-mudahan bukan cewek trus pengin nraktir? Kan kasian. Tapi seiring waktu kupikir itu bukan urusanku, toh bukan duitku, toh sampai sekarang mereka tetap awet saja. Tidak saling mengkhianati, terlihat bahagia. Beda-beda cara orang mengelola rumah tangganya.

Lelaki dibekali makan siang itu ada. Ya ada, ayah bangsa misalnya pernah cerita kotak makannya jatuh, kadang kasih tau isi bekalnya apa. Yakali beliau nggak suka dibekali makan siang, ndak mungkinlah sampai dikisahkan di ruang publik. Mungkin mau menginspirasi ibu-ibu biar tambah romantis ke suami, mungkin mau menyentil suami-suami yang gengsi bawa tupperware dari rumah. Atau bisa juga karena beliau bersyukur punya istri yang telaten. (Ciyee Desaaann...)

Lelaki ndak mau dibekali makan siang juga ada. Kalau tiga anak lelakiku sudah terbaca. Hilmi itu paling ogah bawa kotak makan, nggak tahu nanti kalau sudah menikah. Orang kan bisa berubah. Beda Hisyam dan Ocan. Mereka ndak kuatir dicap kurang keren, mereka ini lebih berpikir dari sisi ekonomisnya. Bawa bekal artinya duit jajan selamat, bisa dipakai jajan yang lain. Atau modal nongkrong. Trus ibunya yang tekor.

Miii... besok mau bawa bekal, nah?

Oh, anak gantengmu lagi kere, Mi.

Mbak yang bahasanya kasar betul di thread twitter memaki-maki istri yang mau repot bikinin bekal untuk makan siang suami itu sedihnya ya perempuan juga. Ndak tau ya pernah mengalami trauma apa sampai menggoblok-goblokkan kaum sendiri untuk sesuatu yang biasa banget, wajar saja. Dan bukan urusan rumah tangga kau juga, ngga pake duitmu juga. Kau juga yang emosi, bah!

Membuat bekal untuk pasangan sendiri bukan semacam penindasan, pembabuan atau apalah istilahnya. Mbaaakkk yang mulutnya comel, jaman dulu toohh nenek buyutmu tiap pagi ngasih rantang ke kakek buyutmu pas mau ke sawah. Itu istri yang bikinin bekal untuk suaminya itu hanya meneruskan tradisi masa lampau. Melayani pasangan dengan baik sesuai kemampuannya. Bukan merelakan dirinya ditindas atau dijadikan budak.

Aku pun sering pulang cepat supaya bisa masak untuk suami. Itu bukan mau cari muka, bukan karena diintimidasi, bukan karena kalah gengsi, murni kesadaran saja sebagai pasangan. Ya kamu toh juga cari uang, mbak... ngapain repot ngurusin dapur? Yaaa ini yang pendapat yang kadang menggiring perempuan pinter cari uang jadi bablas. Dikiranya kalau sudah berpenghasilan, kita harus jadi pribadi angkuh. Aku ya cari uang kusimpan sendiri, kupakai sesuai mauku. Tapi pulang masuk dapur itu seperti sedang melakukan perjalanan menuju hati keluargaku. Karena itu dapurku dan aku senang saja berada di sana, bisa eksperimen meramu bahan makanan. Bisa melayani keluarga sendiri kenapa harus dibayar? Dikasih kesempatan sebesar itu justru sebuah perasaan yang tidak terbeli dan sangat tidak pantas dihina-hina orang lain yang tidak tahu rumah tanggaku seperti apa.

Kalau ditanya pribadi apa aku setuju suami dibekali makan siang? Ya balik lagi silakan tanya suami masing-masing. Kalau tidak nyaman, ya jangan dipaksakan juga. Bukan juga tanda dia tidak sayang, mungkin kepribadiannya yang kurang sreg, pemalu. Atau suami yang punya jadwal makan siang yang sering dengan relasi-relasinya, ya lebih baik ndak usah.

Tapi sejujurnya aku sendiri kalau disuruh menyiapkan bekal makan siang suami bakal repot. Bukan repot di persiapannya yang harus bangun lebih pagi, atau proses masaknya.

Aku repot membayangkan nanti kotak makannya terlupa ditinggal, aku pasti panjang ngomelnya kalau dia pulang.

Dia pulang pertanyaan pertama bukan; capek ya, Pi? Tapi; Kotak makannya ada? NGGAK HILANG, KAN?

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Friday, July 3, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: