Membedah Plagiarisme

Ilustrasi

Oleh Vika Klaretha

Saya tak hendak menyoal Afi. Juga tak ingin beropini tentang dia juga. Saya hanya ingin menyoal tentang plagiat. Awalnya saya membaca artikel tentang plagiat. Menemukan kutipan berikut:
"plagiarism is a construct of ethics. Most broadly, plagiarism is defined as the taking the original work or works of another and presenting it as your own."

Frasa 'mengambil karya orang lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri' itu sangat mengusik saya. Plagiat berkait dengan ketidakjujuran. Dalam benak saya, plagiat juga bentuk kejahatan yang sebangun dengan pencurian. Berawal dari ketidakjujuran.

Menjadi pelik urusannya saat kita hidup di negeri yang tidak peduli pada karya dan milik orang lain. Pencurian harta terjadi dimana-mana, bukan cuma milik pribadi, tetapi juga korupsi, pencurian milik negara. Dan banyak kita tidak menganggapnya masalah moral.

Di sisi lain, sejak kecil kita terbiasa dengan sesuatu yang serupa plagiat. Saat sekolah, kita terbiasa menyalin PR teman pintar yang rajin. Tanpa sedikit pun menghargai betapa dia telah susah payah mengerjakan PR, dan kita hanyalah si pemalas yang mau enak sendiri. Mencontek saat ujian pun seperti itu. Lebih buruknya lagi, mereka yang tak mau memberikan contekan atau tidak meminjamkan PR akan dibenci. Bahkan diintimidasi.

Konon katanya, terkait korupsi juga begitu. Yang tidak mau ikut justru dibenci, dan ditendang ke luar system. Apalagi yang akan memberantasnya.

Berpikir hal itu, saya merasa ada yang salah tentang konsep 'jujur' di negeri ini. Seperti bukan moral utama yang harus dimiliki setiap orang. Kelihatannya sebagian besar kita lebih memilih untuk tampil santun atau relijius daripada jujur. Hingga kita sering dengar ungkapan seperti 'jujur ajur'...

Padahal di masa modern ini, jujur itu perangkat utama untuk survive. Karena teknologi telah sedemikian rupa canggihnya untuk mengungkap ketidakjujuran. Juga ketidak konsistenan berbicara. Apa yang kita ucapkan bertahun lalu, akan dengan mudah ditelusuri. Untuk kemudian diperbandingkan dengan ucapan kita saat ini. Demikian pula dengan kamera CCTV yang bertebaran, teknologi forensik yang makin maju, digitalisaai yang membuat segalasesuatu terekam baik dan terhubung.

Di masa modern ini, kita tak perlu lagi menjadi seorang ksatria pemberani yang siap mati melawan semua angkara murka. Memberantas angkara murka telah menjadi ranah polisi. Sebagaimana mempertahankan negara jadi tugas tentara. Kita hanya diminta jujur. Jujur dengan perbuatan, pun jujur mengakui semua kesalahan.

Kembali pada masalah plagiat, saya kira dengan mengajarkan anak untuk tidak melakukan plagiat bisa jadi cara untuk menanamkan kejujuran. Atau justru sebaliknya, mengajarkan kejujuran agar tak ada lagi plagiatisme ataupun korupsi. 
Caranya.... Mungkin dengan menunjukkan betapa ketidakjujuran selalu terungkap, dan dalam waktu yang makin singkat.

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha

 

Sunday, June 4, 2017 - 17:00
Kategori Rubrik: