Membedah Pernyataan "Kitab Suci Adalah Fiksi"

Ilustrasi

Oleh : Arya Hadi Darmawan

*Kitab Suci = Fiksi*. Statement ini tidak tautologis. Ia secara *Logika Matematika*, Tertolak!

Saya hendak menanggapi gaduhnya suasana medsos soal kitab suci sebagai karya fiksi (setara novel, prosa, puisi, cerita-pendek, dst) dalam dua bagian. Intinya saya menolak statement bahwa kita suci = fiksi. Mohon berkenan membaca tulisan saya dalam dua tulisan di bawah ini.

1. Soal Semantik

Dalam ilmu bahasa, diksi *Fiksi* adalah wujud barangnya (noun), dan diksi *Fiktif* adalah sifatnya (adjective)". Ini statement penting menurut ilmu linguistik. Kedua kata berawal dari sifat *imajiner atau bayangan atau imajinasi atau rekaan*.

Sebuah Novel atau Cerita Pendek di Majalah adalah barang fakta yang kita bisa beli cetakannya di toko buku, tetapi isinya fiktif karena isinya adalah reka imajiner dari sang penulisnya. Apakah reka imajiner ini punya dampak terhadap perubahan perilaku bagi pembaca (setelah membaca novel atau cerpen tersebut), itu soal lain.

Apakah kitab suci adalah fiksi (setara novel dan cerpen) yang isinya berarti fiktif sebagaimana sedang banyak dibahas di medsos saat ini? Jawabannya bisa salah untuk seluruhnya bagi para penganut agama yang taat dan yakin akan eksistensi Tuhan. Tetapi bagi ilmuwan seperti yang disebut-sebut di medsos, kitab suci adalah fiksi. Berarti secara semantik, isinya fiktif.

Menurut saya, tanpa memandang bahwa pelontar ide *kitab suci = fiksi* adalah dari kelompok atau ormas tertentu, maka, melakukan generalisasi bahwa kitab suci sebagai ide fiksi adalah penyimpulan yang fatal:

(1) dengan menyebut kitab suci adalah fiksi, maka secara semantik-linguistik, isi sebuah fiksi adalah fiktif. Artinya semua kisah historikal tentang nabi dan bahkan eksistensi Tuhan adalah fiktif. Kesimpulan ini sangat berbahaya bagi peradaban. Artinya peradaban yang dihasilkan (seturut petunjuk sejarah para nabi dan seturut petunjuk Tuhan: tak boleh bohong, tak boleh korupsi, tak boleh berzina, tak boleh membunuh, tak boleh durhaka pada orang tua, bahkan hingga tak boleh mengurangi bobot-timbangan barang dagangan di saat seseorang berdagang, dst) selama ini pun sebenarnya hasil/produk sebuah karya imajiner-fiktif yang penuh tipuan. Benarkah?

(2) dalam kitab suci (apapun agamanya, terutama Islam), penuh dengan kisah-kisah nyata obyektif-faktual yang kemudian menjadi values bahkan menjadi norma pengatur kehidupan. Contoh ekstrim: kisah obyektif Nabi Ibrahim yang menyembelih putranya Ismail karena ikhlas, tetapi kemudian Ismail digantikan oleh seekor gibas sebagai bentuk pengorbanan Ismail yang juga ikhlas menerima takdirnya. Itu memberikan values tentang pengorbanan dan mewujud menjadi norma tentang sedekah/berkurban, dan dalam kehidupan modern mewujud dalam peraturan tentang Corporate Social Responsibility (CSR) dan bahkan UU Pajak yang mewajibkan setiap orang membagikan sebagian hartanya untuk publik.

Di dalam kitab suci (Islam), fakta obyektif seperti Ibrahim, Ismail, bahkan hingga fakta obyektif ibu Maryam yang melahirkan Isa tanpa (benih dari) seorang ayah, bukanlah kisah fiktif.

Jadi, mengeneralisasi kitab suci sebagai fiksi untuk seluruhnya adalah sebuah kesalahan besar.

2. Governance

Agama dalam ilmu manajemen modern bisa diartikan sebagai *governance system* dan kitab suci adalah *petunjuk tentang penerapan governance/tata-kelola* perilaku manusia dan masyarakat. Ia sebuah manual tentang bagaimana setiap pribadi *menertibkan dirinya" dan bagaimana pimpinan Negara "menertibkan masyarakatnya*. Karena berisi manual tentang tata-kelola ketertiban, maka pokok-pokok tuntunan yang ada di dalam kitab suci haruslah mendekati sedekat-dekatnya (baca: seobyektif dan sefaktual mungkin), bahkan sedekat mungkin konteksnya dengan kehidupan manusia dan warga masyarakat. Itulah mengapa banyak isi kitab suci (terutama dalam Islam) berisi norma/perintah keadilan material untuk si miskin melalui zakat, sedekah, dst. Perintah tentang takaran dalam perdagangan yang akurat serta ratusan tata-ketertiban lain ditulis dalam kitab suci.

Hasil dari governance system adalah sebuah *ketertiban hidup personal* dan *ketertiban hidup bermasyarakat*. Agama melalui kitab sucinya, dengan demikian membangun personal governance dan societal governance. Dia datang secara faktual-kontekstual dan digunakan secara obyektif dalam kehidupan. Perintah ketertiban itu, datang melalui kisah sejarah yang diungkap dalam kitab suci.

Dari dua argumen tersebut, jadi, secara akademis saya sulit menerima pernyataan bahwa kitab suci adalah fiksi. Kitab suci tepatnya berisi values dan norma yang dinarasikan melalui kisah sejarah perjalanan para nabi yang kemudian mengilhami berlakunya *tata-aturan personal dan social* dalam hidup dan kehidupan kemasyarakatan.

Tanpa kitab suci tidak terbentuk peradaban yang kita jalani saat ini (jangankan Negara atau pemerintahan, Lembaga pertahanan, KPK, atau sekedar RT/RW, bahkan unsur terkecil masyarakat seperti keluarga pun tidak akan pernah ada). Tanpa kitab suci, kehidupan manusia akan liar layaknya alam liar (wilderness) di hutan belantara yang dialami oleh hewan-hewan liar yang saling memakan sesamanya (survival of the fittest - hukum rimba).

Mari kita selamatkan kitab suci bila hendak terus beradab. Jangan katakan ia sebagai fiksi nan fiktif.

Sumber : Status Facebook Arya Hadi Dharmawan

Thursday, April 12, 2018 - 21:00
Kategori Rubrik: