Membedah Ideologi Tokoh Islam Diluar NU

Khilafah

Oleh : Ahmad Tsauri

Saya memperhatikan, kelompok yang tidak mengikatkan diri pada salah satu dari madzhab 4, cepat atau lambat mereka tidak akan bisa menyembunyikan 'kelamin sebernanya'. Kelompok ini mulai menular.

Pertama, Nurkholis Madjid. Kita tidak ragu atas jasa beliau dalam mempromosikan Islam moderat. Namun demikian, sebagai pembelajaran tidak ada salahnya kita menakar ulang beberapa sikapnya yang kontradiktif.

Cak Nur (begitu beliau disebut) mempromosikan pentingnya moderasi Islam. Tapi Cak Nur menjadikan Ibn Taimiyah, nenek moyang akar puritanisme dan pemurnian Islam sebagai basis intelektualnya. Kedua ia juga sangat simpati dengan perjuangan formalisasi syariat Islamnya Muhammad Nasir.

Ia juga digadang-gadang sebagai penerus Nasirisme, sampai ia melakukan kontroversi dengan ide pembaharuan Islamnya. Sebelum wafatnya juga ia mengikuti konvensi Calon Presiden dari Golkar, dan memuji PKS sebagai partai masa depan.

Bagaiman mungkin akal sehat menyebut PKS sebagai partai masa depan? PKS musuh ideologi dan ajarannya. Karena Blunder itulah orang-orang berpaham PKS seperti Sohibul Iman dan Anis bercokol di Paramadina. Kampus yang didirikannya.

Mirisnya, seminat Pemikiran cak Nun pun dilarang diadakan dikampus itu.

Din dan Haidar Nasir, keduanya tidak pernah mengecam aksi terorisme ditanah air. Keduanya menolak agama sebagai akar terorise. Menurutnya akar teroriame adalah kemiskinan. Sepertinya memang ide negara islam dan konsep kewajiban memerangi non muslim menjadi paham yang terbenam dialam bawah sadar keduanya.

Amin Rais, nah kalau ini apalagi. Semua diluar kelompoknya dianggap pemecah belah Islam. Kalau disebut satu persatu akan banyak yang tersinggung. Terutama mereka alumi ponpes yang tidak berjenis kelamin.

Semua ini mengajarkan kepada kita, konsep hidup bermadzhab dalam fikih, dan bermanhaj dalam aqiadah, bermasyrab dalam thariqah membentuk cara berpikir yang ajeg dan konstruktif.

Beragama dengan cara terakhir ini memang rumit, butuh mondok lama, atau jiping (ngaji kuping) yang istikomah, tak bosan mondar mandir ke majlis pengajian para kiai.

Beragama dengan cara terakhir ini akan lebih mawas diri. Akan menyadari pintar baca kitab kuning tidak cukup, kaya bacaan dan alim saja tidak memadai, banyak tirakat saja belum apa-apa. Oleh karenanya santri banyak diam karena selalu menyadari masih banyak kiai yang alim-alim yang lebih layak di dengar daripada dirinya.

Kita belajar terus, amal terus, tirakat terus, masih banyak yang sepuh-sepuh dalam ilmu dan amalnya. Guru saya kiai Mahmud Razy Allahu yarhamuh, alim luar biasa namun memilih bekerja di toko emas sampai 16 tahun lamanya, kakak beliau memilih menjadi lurah selama 20 tahun, baru setelahnya mendirikan pondok pesantren.

Keduanya selama itu tidak pernah putus belajar, jamul jawami, jauhar maknun nglotok diluar kepala. Muridnya banyak yang jadi.

Kalau teladannya seperti itu turun menurun. Mungkinkah didepan 7.5 juta umat, berani meneriakan "Duancuk". Lalu rame-rame menghina Presiden dan menteri agama?

Anda akan sepakat, sikap rendah hati, menolak untuk melakukannya.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Monday, December 4, 2017 - 14:00
Kategori Rubrik: