Membedah Dunia Kesehatan Indonesia

ilustrasi
Oleh : RudyOno
 
Di Indonesia, IDI & Kolegium (Asosiasi dokter spesialis tertentu) terlalu berkuasa dlm memberikan Surat Ijin Praktek Dokter dan sudah membentuk semacam oligarki.
Cara rekrut calon dokter spesialis pun bukan berdasarkan meritokrasi, tp cenderung koneksi.
Org yg nilainya paling tinggi se Indonesia dan telah lolos test masuk spesialis dgn predikat terbaik, bisa tidak diterima krn tempat sudah penuh dgn calon yg masuk lwt jalur koneksi, meski testnya gak lulus.
Urusan pendidikan profesi dokter termasuk spesialis dan sub spesialis mesti dibenahi. Bisa dibayangkan gmn kualitas dokter spesialis di Indonesia kelak kalo ini gak diberesin.
Dokter² yg ambil spesialis di LN balik ke Indo dipersulit dgn macam² persyaratan, mesti adaptasi dulu sekian thn padahal mrk jebolan sklh kedokteran atau RS terbaik di dunia.
 
Knp dunia kesehatan Malaysia lbh maju dari Indonesia? Krn Malaysia bnyk kirim mahasiswa kuliah terutama di Inggris utk kedokteran. Mrk dibiayai oleh negara.
Balik ke negaranya bisa lsg praktek gak dimintain syarat macam² yg aneh.
Skrg yg lg naik daun adalah Thailand. Dokter Thailand lulusan spesialis AS & Inggris dipermudah shg kualitas pelayanan kesehatan menjadi setara negara maju.
Salah satu yg terkenal di Thailand adalah RS Bumrungrad yg jumlah pasiennya 1 juta org/thn dan ½ nya asing!
Bumrungrad sudah implementasikan Artificial Inteligence dgn mengadopsi IBM Watson.
 
Pendapatan Bumrungrad yg hampir Rp 4T/thn hanya dari satu RS telah mendatangkan devisa bagi Thailand.
Kita msh berkutat mabok agama,
bekutat BPJS yg msh carut marut. Malaysia & Thailand sudah berhasil menyaingi Singapura.
Seorg dokter spesialis muda yg mau masuk kerja di suatu kota hrs minta ijin, minta ttd satu per satu seniornya di kota itu. Begitu ada yg menolak maka SIP gak keluar dan gak bisa praktek.
Ini bikin jengkel RS juga. RS butuh tenaga dokter tp diblok Kolegium.
Alasannya gak masuk akal yaitu supply & demand, serta urusan persaingan. Dokter² kita tidak siap dgn persaingan.
Bnyk dokter juga suka nyebelin dan arogan thp pasien & keluarga pasien.
Tp tunggu tanggal mainnya.
Dgn perkembangan teknologi digital cara² itu akan terdisrupsi.
Dokter akan di-rating oleh netizen. Dokter yg jelek pelayanannya lama² gak laku.
Mgkn akan lebih baik kalo SIP tidak dipegang oleh organisasi profesi, tp diatur oleh pemerintah.
Bersaing ya gak apa² biar pelayanan dokter ke pasien makin bagus.
Paradigma dunia kesehatan telah berubah ke arah pelayanan "patient & family experience"
Kita msh berkutat pd arogansi dokter.
 
Bnyk org kita ke KL atau Penang utk berobat krn kualitas bagus & hrg miring.
Apakah dokter Malaysia bayarannya murah? Tidak!! Fee mrk lbh tinggi.
Cuman semua keperluan alkes di kita kena pajak. Pasang stent di Penang lbh murah dari Jkt. Krn di Malaysia semua bea masuk & pajak stent itu nol sementara kita tidak.
Dokter kita bisa pasang pompa jantung LVAD utk pasien gagal jantung. Jantung diganti oleh pompa elektrik.
Cuman harga LVAD di Indonesia Rp 3,7M blm termasuk pasang.
 
Sementara di Malaysia Rp 3M sudah beres semua terpasang. Kini org bisa hidup tanpa detak jantung (pakai pompa)
>Rp 100T/thn duit Indo lari ke LN utk pemeliharaan kesehatan, terutama ke Sing, Mal, Thai, Japan & Aussie.
Negara lain sudah mengadopsi iptek tinggi di bidang kesehatan, sementara kita msh berkutat di penyakit infeksi krn sanitasi buruk dan tidak higienis.
Masalah utama kualitas kesehatan di Indo juga ada di diagnosa.
Kita sangat lemah dan sering keliru.
Layanan kesehatan tidak terintegrasi.
Kita mesti ketemu dokter spesialis satu persatu, mrk sulit bekerjasama.
 
Ini juga krn pendidikan kedokteran di Indo cenderung mendidik org sbg manusia individualis bukan teamwork.
Pendidikan di Inggris ada mata pelajaran Komunikasi, bahkan ujiannya tergolong sulit krn pakai aktor.
Misalkan gmn kita hrs jelaskan ke pasien (hak pasien) bhw dia terdiagnosa kanker.
Atau gmn kita handle pasien yg marah² atau komplain.
Rata² dokter kita apalagi yg tua sulit berkomunikasi dgn pasien dan merasa dirinya paling hebat.
Giliran kita mau minta second opinion malah ngamuk, padahal itu hak pasien.
Sebagian penyakit, diagnosanya sgt bergantung pd alat. Kalo dokter bisa diagnosa tanpa alat itu namanya dukun.
Mau tau pendarahan di otak atau penyumbatan (krn symptom nya sama) kita perlu CT Scan. Gak bisa nebak krn obatnya berlawanan.
 
Bayangkan negara kecil spt Singapura punya 15 PET Scan yg bisa mendeteksi penyebaran sel kanker.
Indonesia dgn populasi 270 juta cuma punya 4 alat PET Scan.
Hrg PET Scan cuma ± Rp 15M. Yg mahal itu Cyclotron yg utk memproduksi radioaktif yg dipakai di PET Scan.
Hrg Cyclotron ± Rp 40M.
Di LN Cyclotron bisa dipakai utk 10 RS.
Di Indonesia hrs 1 RS punya 1 Cyclotron.
Knp para petinggi yg membidangi ini krg kreatif dan kebanyakan administrator yg mesti digebrak² utk bisa mencari solusi.
Katanya RS bukan pabrik obat, RS tidak bisa jual kelebihan radioaktif ke RS lain, krn kalo ada pabrik obat hrs menerapkan CPOB. Akhirnya ya begitulah.
 
Kita bnyk terbentur regulasi konyol yg bikin kita tidak bisa adaptif.
Saat ada yg mau bikin Mobile Stroke Unit dimana di ambulans dipasangi Head CT Scan spy bisa dilakukan tindakan cepat agar dampak stroke minimal (krn makin lama sel² otak yg mati makin bnyk shg recovery nya makin berat)....
Apa yg dibilang...???
Wah blm ada regulasinya.....
Kalo melakukan tindakan di mobil itu kategorinya apa ya apakah RS berjalan.
Sementara di India, Mobile Stroke Unit sudah populer dan menyelamatkan begitu bnyk pasien stroke.
Semoga kita tetap sehat & trs berbenah.
Sangat penting utk HIDUP SEHAT & melakukan TINDAKAN PREVENTIF sblm penyakit dtg dan menjadi terlanjur parah.
 
Sumber : Status Facebook RudyOno
Monday, September 21, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: