Membebaskan Ahok dari Prasangka

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Sampai saat ini memang belum ada klarifikasi langsung. Semua orang hanya menduga. Jika berita itu benar, kelas perceraian Ahok itu ya infotainment. Bukan persoalan politik yang patut ditelanjangi. Mengenai asumsi bani micin tentang tujuan politis, tak perlu diladeni. Mereka yang percaya bumi ini datar dan vaksin konspirasi Yahudi tak mungkin bisa berpikir jernih.

Ini memang kabar yang menyedihkan. Seperti keluarga kita sendiri yang mengalaminya. Bahkan mungkin lebih. Ahok adalah simbol, kita mengharapkan ia sempurna. Tak ingin rasanya sehelai rambutpun ada kekurangan. Kita menyayangkan hal itu bisa terjadi. Namun Ahok sekalipun tak bisa mengelak dari garis takdir.

 

 

 

Menuntut Ahok sempurna justru memberikan beban berlebih kepadanya. Kita memaksanya seturut imajinasi. Apapun yang dilakukan Ahok adalah pilihan terbaiknya. Ia telah mengalami hari-hari buruk dan sejauh itu ia tabah. Itu sudah cukup bagi kita.

Tidak patut menyalahkan siapapun dalam hal ini. Hal yang lumrah terjadi pada teman dan keluarga kita sendiri. Apapun sebabnya, satu komitmen boleh berlanjut, boleh juga berhenti. Tidak boleh ada pemaksaan. Setiap orang harus berjuang demi kebahagiaannya. Seluruh ajaran moral tidak ada gunanya jika dalam hidup kita tertekan dan tak bahagia.

Untuk itu, tidak baik memaksa Ahok sekehendak kita. Ia harus dibebaskan dari seluruh prasangka. Ia boleh tidak sempurna. Ia berhak memilih jalan lain yang membuatnya bahagia. Menjadi dirinya, sesukanya.

Berhubung Ahok publik figur, hak netizen membicarakannya. Sejauh itu tidak berisi hinaan dan fitnah. Publik berhak berpendapat. Kita tak boleh melarang itu. Hak kita, orang yang mencintai Ahok adalah bersedih seperlunya.

Maka berdukalah dalam hening, dalam lantunan doa-doa yang terbaik untuknya...

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Monday, January 8, 2018 - 23:45
Kategori Rubrik: