Membantu Menenangkan Prabowo

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Pertarungan Pilpres 2019 sesungguhnya tak jauh beda dengan Pilpres 2014. Demikian pula hasilnya. Yang menjadi pembeda, bisa jadi karena pindahnya Eep Saefulloh Fatah dari Jokowi ke Prabowo (setidaknya Sandiaga Uno menyatakan Eep Saefulloh konsultan politiknya). Senyampang itu, pembeda lainnya, pertarungan Islam garis Wahabi (yang sebenarnya minoritas) dengan Islam garis Wasathiyah yang condong berpandangan Islam Nusantara. Pada kelompok garis Wahabi (dengan banyak varian), salah satu cirinya memunculkan isu tegaknya negara khilafah, dengan sumber hukum Islam.

Kemenangan Jokowi, dan pemerintahannya, dinilai tak akomodatif bagi kelompok ini. Jokowi segaris dengan Sukarno, sementara kelompok yang mengimpikan syariah Islam di Indonesia, selalu memakai referensi ‘Piagam Jakarta’ (1945).

 

 

Jokowi dilihat sebagai bagian dari (bahkan boneka) PDI Perjuangan, representasi sekularisme Sukarno. Apalagi Jokowi lebih akomodatif, bahkan bagian atau kendaraan bagi NU dan mereka yang lebih moderat. Maka jika narasi kampanye lebih diwarnai politik identitas, dengan kampanye hitam atau pun negatif, serangan personal pada Jokowi sebagai anti-Islam, anti-ulama, bahkan mungkin anti-Tuhan (dengan tudingan keturunan PKI), asal-muasalnya bisa dirunut.

Saking hebatnya Jokowi, ia bisa dituding antek kapitalis sekaligus antek-komunis. Jika ij’tima ulama tetap mendeklarasikan dukungan pada Prabowo yang akhirnya milih cawapres Sandiaga, karena sadar pilpres butuh biaya. Mereka tak punya, sedang Sandiaga menyanggupinya. Kalau cuma Rp 1 trilyun, misalnya, ia punya kekayaan di atas Rp 7 trilyun, yang jikapun kalah masih bisa senyam-senyum. Apalagi dana kampanye baru menghabiskan Rp 150 milyar.

Di kelompok ini, bertemu berbagai kelompok. Mereka yang ikut menumpang, ialah yang selama Jokowi berkuasa tak diuntungkan. Entah itu kroni Soeharto, para oportunis, atau kelas menengah yang un-happy melihat presiden yang bukan ideal type mereka. Jika muncul fitnahan dan ujaran kebencian pada Jokowi, karena tak ditemukan cara lain mendelegitimasi reputasi dan prestasinya. Meski kesudahannya, kita tahu.

Pertarungan selalu dimenangkan jalan tengah dan yang persisten. Bukan oleh kaum oportunis, penumpang gelap, yang tak mau dengar dan lihat sembari seolah paling benar (apalagi dengan menjadi golput). Karena rakyat yang tersingkir selama Orde Baru dan Orde Reformasi, membutuhkan jembatan dan sekaligus muara; Mendapat ruang menagih elite kekuasaan kembali pada kedaulatan rakyat, yang selama itu dipinggirkan dan terpinggirkan. Kita sudah begitu terlambat, di tengah perubahan besar-besaran abad ini. Kita membutuhkan jembatan, yang bukan bagian dari masalah masa lalu, yang sampai hari ini masih meribeti akselerasi kita sebagai bangsa dan negara. Mangkanya, memenangkan Jokowi sebagai jembatan emas, sebenarnya untuk membantu menenangkan Prabowo. Agar Indonesia yang dicita-citakan terwujud. Ingat kata Dillan, rindu itu berat.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Tuesday, March 12, 2019 - 16:45
Kategori Rubrik: