Membantah Ngelesnya Hasan Haikal Soal Tasrif Kafir

ilustrasi

Oleh : Suniya Ruhama

Statemen yang ditulis Babe Haikal Hasan sebenarnya bukan hal yang patut ditanggapi berlebihan. Yang menjadikan statemen beliau ini istimewa ialah keberaniannya mencatut nama besar Mbah Wali Gus Dur.

Kalau sekedar celotehan masalah "kafir" dan "kuffar", sudah tuntas dibahas oleh para santri. Jadi tidak perlu dibahas di sini lagi.

Yang menarik ialah nama Mbah Wali yang dijadikan sebagai argumen pembenaran. Apalagi dengan mengutip buku Islamku, Islam Anda Islam Kita. Salah satu buku favorit dari murid-murid beliau.

Tak susah mencari kutipan dari buku tersebut. Penulis meragukan statemen Babe. Belajar dari kisah terdahulu ketika beliau begitu berani mengutip kalimat yang dikatakan ada di Al Qur'an padahal sama sekali tidak ada.

Curiga tidak boleh. Tapi waspada wajib. Supaya kita tidak kecolongan. Apalagi sebagai santri Mbah Wali Gus Dur, merasa punya tanggungjawab dalam hal ini. Pengecekanpun dilakukan... Dan hasilnya: taraaaa...

Seperti yang sudah diduga sebelumnya. Mbah Wali Gus Dur sama sekali tidak memberi definisi pembeda istilah "kafir" dan "kuffar". Alih-alih menjelaskan dengan detail, Mbah Wali hanya menuliskan: kafir atau kuffar.

Di sini letak ketidakbenaran info tersebut. Menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, untuk tidak sembarangan percaya dengan kutipan atas nama Mbah Wali Gus Dur.

Berikut bunyi asli kutipan yang disalah pahami oleh Babe Haikal Hasan dalam buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita, tulisan asli Mbah Wali Gus Dur:

__________________________
"Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr. Yusril Ihza Mahendra. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani.

Bukankah kitab suci al-Qur’ân menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah “bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (asyiddâ’u ‘alâl-kuffâr ruhamâ baynahum)” (QS al-Fath [48]:29).

Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya Bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud al-Qur’ân dalam kata “kafir” atau “kuffar” adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja Bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani menjadi mubaligh?"
__________________________

Mbah Wali telah kembali ke kampung abadi. Kewajiban kita bersamalah untuk merawat ajaran beliau. Jangan sampai dinodai dengan kepalsuan dan pembohongan publik.

Salam cinta Mbah Wali Gus Dur .

Sumber : Status Facebook Suniyya Ruhama

Thursday, March 14, 2019 - 07:15
Kategori Rubrik: