Membandingkan Quraish Shihab dan Adi Hidayat

ilustrasi

Oleh : Nurul Indra

Kalau bandingin dari segi umur, jelas tuaan pak Quraish Shihab. Kalau bandingin dari sisi pendidikan tafsir quran dan hadist, pak QS alumni santri Pondok Pesantren Darul Hadis al-Faqihiyah, alumni Al Azhar Cairo SMP-SMA, sarjana strata 1 dan strata 2 dari Al Azhar University fakultas Ushuludin jurusan tafsir dan hadist.

Jelas jika dilihat dari background pendidikannya, kapasitas Pak QS dlm menafsirkan Quran dan hadist tidak diragukan lagi.

Sedangkan Ustaz AH, alumni ponpes Darul Arqam Garut, alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung (gak tau jurusan apa), dan kuliyya Dakwah Islamiyah dari Libya (Ini strata apa ya? Jurusan apa juga gak paham, tapi kayaknya soal strategi dakwah ya?).

Jika benar, berarti Pak QS dari latar belakang pendidikannya adlh ahli tafsir dan hadist, sedang ustaz AH adalah ahli dakwah. Jelas bedanya ya.

Wajar lah kalau cara dakwah ustaz AH lebih disukai beberapa orang, keahliannya memang dakwah. Tapi soal tafsir? Oh aku tidak bisa menyimpulkan.

Karena, utk membandingkan keahlian tafsir seseorang itu kan harus paham ilmu tafsir juga. Sedang aku pahamnya hanya ilmu nyinyir. Kok kurang ajar banget mau bandingin keahlian tafsir mereka. Betapa sesat dan keminternya diriku.

Maka itu aku kaget waktu ada seseorang yg ku kenal tapi gak kenal² amat, berkomentar, mengatakan ustaz AH lebih ahli soal tafsir dari pak QS. Ediann, sejak kapan dia belajar tafsir ya. Pasti dia paham bgt soal ilmu tafsir, maka bisa menyimpulkan begitu.

Dia komentar di tulisanku ku soal tafsir aurat wanita. Dia menolak disebut menghakimi diriku, sambil mendoakan ku jika keyakinan ku soal kewajiban pakai jilbab itu salah maka jangan sampai jd dosa orangtua ku. Doa yang mengancam hehe..

Sedih sih. Pertama, entah apa yg dia pikirkan tentang diriku itu tidak penting. Tapi, sedihnya itu, keyakinan ku soal jilbab tdk wajib itu dikira tafsir ku. Aku ga bisa tafsir quran, bisanya hanya menafsirkan isi pikiranmu wkwk

Kalau dia mendoakan seperti itu gara² aku bilang rambut wanita bukan aurat dan jilbab tidak wajib, maka dia juga berpikiran yang sama pada Pak Quraish Shihab dan Bu Shinta Nuriyah beserta orang tua mereka. Dia juga berpikir hal sama dengan ulama² mazhab hanafi yang dibagikan tafsirnya oleh Pak QS dan Bu SN.

Mazhab Hanafi itu fiqh nya Sunni loh, bukan shiah.

Kedua, setelah saya check curhatnya di dinding buatan yahudi yang disediakan untuknya, ternyata dia mengeluh soal postingan ttg rambut bukan aurat.

Ada curhat yg dia posting sesaat setelah dia komentar di tulisanku, dia bertanya apakah aku menggunakan jilbab karena keputusan sendiri atau disuruh orangtua.

Aku jawab panjang lebar, termasuk menjelaskan bahwa yg kukatakan bukan pendapatku sendiri. Aku hanya menyampaikan ulang yg disampaikan QS dll, dan QS dll juga hanya menyampaikan ulang tafsir para ulama.

Ku katakan padanya, bahwa selama ini byk yg tdk tau kalau ada tafsir yg berbeda soal aurat dan jilbab. Karena, tdk banyak ulama yg menyampaikan tafsir secara lengkap.

Biasanya ustaz kalo ceramah diawali dg menegaskan kalau pakai jilbab itu wajib, rambut wanita aurat. Diperkuat dengan argumentasi ttg untungnya kalau pakai jilbab, dan gambaran buruk jika wanita tdk pakai jilbab. Lalu dibeberkan ayat² serta hadist yang mewajibkan jilbab secara detil dan lengkap sanadnya. Gak sedikitpun menyinggung soal adanya tafsir yg menyatakan rambut bukan aurat.

Persis seperti cara dakwahnya ustaz Adi Hidayat.

Jadi ya wajar kalau akhirnya orang taunya rambut adalah aurat yang wajib dijilbabi. Nggak ada tafsir lain.

Ketika ada ustaz yg memberitahu adanya tafsir lain, bahwa rambut bukan aurat sehingga tidak harus (bukan tidak boleh) dijilbabi dan ada ummat yg ikut membagikan tafsir itu, lantas divonis salah, sesat, nggak tau aturan, ngawur, goblok, syiah, dan sederet hujatan kejam lainnya.

Mereka terlanjur meyakini jilbab wajib, mereka terlanjur jatuh cinta dg keyakinannya itu. Mereka terlanjur jatuh cinta pd ustaz yg menyampaikan hal itu.

Aku paham kok. Aku pernah mengalami, meski dalam hal beda.

Aku pernah ngefans sama tokoh politik jadul. Waktu pertama kali membaca tulisan negatif ttg fans ku itu, aku nangis. Aku marah, tidak terima. Ada yg tega memfitnahnya, pikirku. Lalu aku curhat sama kakak sepupuku, ternyata dia membenarkan tulisan itu. Aku sempat denial, mau nggoblok²in sepupuku itu. Tapi aku pilih melanjutkan cari informasi lagi. Setelah diskusi dan baca sana sini, kok mengarah pada tulisan itu adalah fakta.

Ya sudah, aku berhenti ngefans buta sama dia. Goblok banget aku jika menolak cari informasi yg sebenarnya, demi bertahan ngefans buta sama dia, hanya gak bisa menerima kenyataan aku pernah tertipu huhuhu

Balik lagi ke komentar seseorang itu. Setelah kusampaikan kalau sebenarnya soal batasan aurat wanita itu ditafsirkan berbeda² di kalangan ulama. Salah satu yg menyampaikan itu adlh pak QS. Aku katakan padanya, aku suka cara pak QS menyampaikan suatu tafsir. Beliau tidak mengawali dan mengakhiri dengan penegasan ini halal atau ini haram. Tetapi membeberkan satu persatu tafsirnya. Biasanya ada beda tafsir antar ulama, dan pasti disampaikan perbedaan itu seperti apa.

Seseorang itu menjawab, dia lebih suka penjelasan ustaz AH. Katanya ustaz AH sangat pintar menyampaikan tafsir.

Ya aku tau sih, Pak QS itu sudah dilabeli syiah oleh beberama ummat yang tidak suka dg blak-blakannya pak QS. Karena Pak QS menyampaikan tafsir lengkap, gak seperti ulama kebanyakan yg hanya menyampaikan keyakinan halal saja atau haram saja.

Nggak tau lah, apakah para ummat dan ulama yg terlanjur ceramah hanya menyampaikan satu pendapat ttg aurat (jilbab wajib) itu takut dianggap bohong atau bodoh oleh ummatnya atau ada kepentingan apa, lalu pak QS dilabeli syiah sesat.

Entah sejak kapan, banyak umat islam yg hanya tau satu tafsir ttg jilbab dan aurat. Yaitu rambut aurat jilbab wajib. Aku pernah jd bagian dr mereka. Dulu, waktu SMP.

Sedihnya, tafsir ini dipakai buat maksa wanita muslim utk meyakini hal sama dan pakai jilbab. Ada malah yang memandang rendah wanita muslim gak pake jilbab sejajar dengan pelacur. Terpaksa pake jilbab karena nggak mau dibully secara syar'i gitu.

Wanita muslim yg bertahan ga pake jilbab akan terus diteror. "kamu lebih cantik kalau pakai jilbab, kamu masuk neraka kalau gak pakai jilbab, ortumu masuk neraka kalau kamu gak pakai jilbab, ". Bullying syar'i, kan?

Ada juga malah yg dikucilkan teman²nya yang berjilbab, kalau dia gak pakai jilbab. Anak SD atau remaja SMP digituin kan wajar kalau gak kuat dan terpaksa pakai jilbab.

Maka aku senang sekali ketika Pak Quraish Shihab berani mengatakan hal sebenarnya. Bahwa ada ulama suatu mazhab yg menafsirkan rambut dan kaki bukan aurat. Bahkan lengan juga.

Sepahamku, secara tersirat pak QS tidak ikut aliran itu. Pak QS cenderung ikut yg meyakini hanya telapak tangan dan muka yg bukan aurat. Koreksi jika aku salah paham ya.. Tapi, ini yg bikin aku salut sama beliau. Meski meyakini begitu sedang anaknya meyakini yg berbeda, Pak QS tdk memaksa anaknya utk meyakini hal sama

Karena pak QS tau, keyakinan anaknya juga benar...

Aku senang dg kejujuran Pak QS soal tafsir batas aurat wanita ini. Karena dg begitu, mereka yg tahunya hanya jilbab wajib itu berhenti meneror wanita muslim yg ga berjilbab.

Tapi ternyata aku gagal senang. Karena, kebenaran yang disampakan pak QS dan Bu Shinta itu diingkari mereka. Mereka bilang pak QS dan Bu Shinta ngawur, sesat, syiah dan semacamnya.

Padahal, itu bukan pendapat Pak QS dan Bu Shinta, bukan tafsir mereka. Mereka hanya menyampaikan hal yg tdk pernah disampaikan ustaz mereka. Entah karena para ustaz itu tidak tahu atau sengaja ditutup² i.

Padahal, adanya kejujuran soal tafsir jilbab tidak wajib itu bukan untuk meneror mereka yg berjilbab atau meyakini jilbab tidak wajib. Bukan untuk memaksa mereka lepas jilbab, melarang mereka pakai jilbab. Tidak pernah juga menyalahkan mereka yg yakin jilbab wajib, menghakimi dg kata bodoh atau sesat.

Jelas bedanya, kan. Mereka yg yakib wajib jilbab menggunakan tafsir ayat dan hadist soal keyakinannya itu utk maksa wanita muslim pakai jilbab, jika tidak akan dilabeli maksiat tidak taat sesat dll.

Adanya kejujuran ulama soal beda tafsir soal aurat itu semata² untuk mendamaikan umat islam. Menghentikan bullying syariah golongan jilbab wajib kepada golongan jilbab ga wajib.

Sikap golongan jilbab ga wajib itu sederhana. Kamu yg golongan jilbab wajib ya pakai aja, nggak salah. Aku nggak wajib jilbab karena ada dasarnya. Gitu aja.

Balik ke bandingin Pak QS dg AH. Aku sih hanya bisa membandingkan cara mereka menyampaikan fiqh saja. Kalau pak QS, dengan membongkar sejujur²nya berbagai mazhab. Kalau memang ada yg menafsirkan halal perilah yg kita yakini haram ya beliau sampakan. Kebenaran tetap disampaikan walau menyakitkan. Jujur kan.

Nah kalau AH, tadi aku simak beberapa ceramahnya. Sejujurnya aku emang baru denger nama ustaz yg ternyata jaman pilpres kemaren pendukung berat Prabowo itu.

Tadi aku simak ceramah ustaz AH soal wajib jilbab. Sama kayak cara dakwah ustaz kebanyakan. "Jilbab itu wajib. Dengan memakai jilbab, wanita jd aman terlindungi. Kalau gak pakai jilbab, nggak hanya masuk neraka. Bahaya dr pandangan nakal pria," Lalu diriwayatkan ayat dan jadist soal wajib jilbab. Lengkap selengkap²nya. Kira² begitu.

Sedang pak QS, diawali dengan bahas tafsir aurat. Menurut ulama mazhab syafii begini, hanafi begitu dst. Beda tafsir mereka, ada yg menafsirkan rambut termasuk aurat, ada yg tidak.

Lengkap yg mana? Jujur yg mana?

Entah aku juga heran kenapa ustaz AH dan beberapa ustaz lain tidak menyampaiakan secara lengkap dan hal sebenarnya. Bahwa ada yg menafsirkan rambut tdk aurat. Apakah benar tdk tahu karena mereka ahli dakwah tapi belum tentu ahli tafsir. Atau karena mereka tdk setuju dg tafsir itu. Kalau hanya karena tdk setuju, tidak bijak menutupi yg sebenarnya karena merekapun tdk berhak menghakimi tafsir mana yg benar dan salah.

Kalau aku ikut membagikan tafsir soal rambut bukan aurat adalah sikap menyakiti umat islam, maka Pak QS dan Bu Shinta yg umat islam juga menyakiti umat islam. Kalau Pak QS dan Bu Shinta dituduh menyakiti umat islam karena kejujurannya soal tafsir batas aurat wanita, maka ulama mazhab hanafi yg jadi pelaku utama tafsir itu lah penyebabnya.

Lalu gimana dengan bullying syariah yg dilakukan golongan wajib jilbab ke golongan tidak wajib jilbab? Itulah sikap dzolim dan menyakiti yg sesungguhnya.

Termasuk framing menyakiti umat islam.

Sumber : Status Facebook Nurul Indra

Tuesday, February 4, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: