Membahas Cluster Tanpa Baper

ilustrasi

Oleh : Reno Risanti Amalia

Tulisan ini masih tentang polemik, yang berkepanjangan, karena memang yang dikedepankan bukan tema intinya, tapi rasa benci terhadap orang yang mengemukakan tema tersebut. Kali ini adalah tentang istilah cluster yang digunakan oleh pemerintah, namun sepertinya disimpangkan dan dibesar-besarkan oleh media, scaremongers dan orang-orang yang sok tahu. Entah tujuannya apa, mungkin seperti ORBA menakut-nakuti dengan isu PKI.

Kembali pada cluster; istilah ini dipakai di berbagai bidang, IT, epidemiologi dan lain sebagainya, untuk menyebut kumpulan yang saling terkait membentuk suatu rangkaian. Bila di dalam IT, kumpulan tersebut dibentuk oleh nodes-nodes.

Pada epidemiologi pun demikian, bahwa ketika sel-sel abnormal membentuk kumpulan atau rangkaian pada satu titik di dalam tubuh manusia, maka ia akan menjadi kanker. Dengan pemahaman yang sama, maka cluster dalam persebaran penyakit baik endemik, epidemik maupun pandemik haruslah berada pada titik yang sama, sumber yang sama dan membentuk kumpulan-kumpulan. Bisa juga lah pakai analogi cluster perumahan, yang terdiri dari kumpulan beberapa bangunan dan tertutup untuk menandai satu cluster berbeda dari cluster lainnya.

Melihat penjelasan tersebut di atas, maka cluster-cluster Covid-19 yang diinformasikan dalam berita mesti dipertanyakan, sebagaimana kita kritis mempertanyakan data surveillans. Bagaimana ceritanya muncul cluster perkantoran, sekolah dan perumahan, sementara sumber dan sebarannya berbeda-beda? Not to mention, suspek pada titik tertentu malah hanya beberapa orang. Cluster apaan tu namanya?

Anyway, bila kita mau membuka pemahaman lebih mendalam, kita bisa ikut membantu para pemangku jabatan untuk mengatasi permasalahan Covid-19. Jangan mentang-mentang pendukung, lantas jadi bucin membabi buta gitu. Itu ngejeblosin pemerintah namanya, ga ada juga yang mau pendukungnya begitu. Yekan?

Oleh karenanya, perbanyak baca, bersihkan hati dan pikiran, dan hilangkan sifat hipokrit. Tak perlu lah belagak relijius untuk mendiskriminasi orang lain, padahal yang diri sendiri jauh panggang daripada api.

Lah gimana ga tho? Mosok isi bahasan menjatuhkan harapan terus. Ngomongin second wave, antibodi cuma bertahan 3 bulan, terapi plasma mandek. Kesan dari omongannya tu, semua orang yang kena Covid ya wis mati aja gitu. Pantesan ga bolehin orang makan di luar karena ga pasti ga pake masker. Dan milih bungkus pulang, meskipun orang yang ngebungkusin ga pake masker.

Emang droplet tu orang yang ngebungkus ga nyiprat ke gulainya ya? #Eyyuuuhh

#TurutBerdukaCita
#FearlessLearner

Sumber : Status Facebook Reno Risanti Amalia

Thursday, September 17, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: