Membaca Pesan dan Janji

Oleh: Erizeli Bandaro

Ada ibu ibu pengajian bilang kesaya “ ah Jokowi cuma janji aja. Mana buktinya ? 
Saya katakan “ Allah juga janjikan semua Mahkluk dapat rezeki tetapi kenapa ada kaya dan miskin ? Dan kita masih terus minta nuntut rezeki lewat doa dan zikir? Apa engga percaya dengan Allah? 
“ Ya jangan disamakan?
“ Kita sedang bicara tentang kita sebagai manusia. Jadi ada relevansi nya.”

 
 
Saya tidak mau terus berdebat. Mengapa ? Kegagalan mindset kita sebagai Bangsa adalah gagal memahami pesan secara intelek. Spritual kita jadi tumpul karena akal kita masuk got. Cobalah pikir mana ada didunia ini negara bisa besar karena negara jadi perahan rakyat yang manja. Tuhan saja yang menciptakan kita tidak ingin kita manja. Cara Tuhan dalam keadilannya tidak memberikan makanan siap saji atau emas langsung jadi harta. Tuhan hanya menyediakan akal dan sumber daya di bumi ini. Tugas Anda harus gunakan akal dan tenaga untuk kerja agar bisa makan. Anda harus melakukan investasi beresiko untuk dapatkan emas diperut bumi. Itulah hukum ketetapan Tuhan berlaku bagi siapa saja.
 
Tak ubahnya negara. Pemerintah berjanji akan Mensejahterakan rakyat. Tetapi Tidak memberikan uang ke ATM anda. Tidak mengirim pembeli ke toko anda. Tidak menjamin usaha anda untung. Tidak menjamin jodoh datang. pemerintah hanya bertugas menyediakan insfrastruktur ekonomi agar barang dan jasa bisa lancar dan potensi ekonomi bisa jadi potensi real karena bisa diakses pasar. pemerintah mensuplai uang ke publik lewat kebijakan moneter dan fiskal agar hanya orang yang mau kerja dan kreatif saja yang berhak mendapatkannya. Itu sunatullah.
 
Bagaimana dengan yang males dan nol kreatif? pemerintah tetap berbaik hati dengan menggunakan uang pajak orang yang rajin kerja dan kreatif untuk ongkosi anda yang males dan bego. Itu juga perintah Tuhan. Tetapi anehnya anda tetap tidak bisa Terimakasih. Terus ngeyel. Padahal sekolah, kampus, perawatan jalan umum , gaji guru , PNS, itu berkat duit pajak orang yang bekerja keras. Kalau tidak bisa membantu negara , sebaiknya pandai lah berterimakasih. Kalau belum bisa membantu dan memberi , jangan mengeluh. Perbanyaklah bersyukur kepada Allah.
 
Tulisan babo dalam buku “ jalan sepi “ berusaha menempatkan akal sehat kebijakan Jokowi yang terikat dengan UUD, UU yang ada. Setiap kebijakan bersumber dari UU tapi ruhnya berasal dari akhlak Jokowi yang mengutamakan kebenaran, kebaikan dan keadilan. Karenanya dia tidak membuat kebijakan itu dari istana tapi dari hasil blusuikannya menjabat fakta dilapangan. Dari sanalah kebijakan cinta datang dan dia mendorong bawahannya dengan sepatah kata yang mungkin memberikan Insfirasi orang berbuat untuk cinta agar kami tertunaikan dan keadilan bagi semua.
 
Pahamkan sayang
 
 
 
(Sumber: FP Diskusi dengan Babo)
Wednesday, February 21, 2018 - 22:15
Kategori Rubrik: