Membaca Kabinet Jokowi

ilustrasi

Oleh : Gus Bin

sejak kemarin tangan saya gatal untuk menulis tentang Kabinet yang baru.. bibir pecah-pecah, hidung belang-belang, perut melilit, dan jantung berdebar.. tapi saya tahan-tahan, karena menghormati hak prerogatif presiden..

setelah diumumkan, ternyata memang banyak kejutan, dan prediksi saya, alhamdulillah, meleset..

yang bikin agak kecewa tentu hilangnya menteri Susi Pudjiastuti.. lulusan SMP yang (tadinya) belum tamat SMA itu.. tapi memang sejak tahun kedua atau ketiga, Bu Susi sudah memberi sinyal enggan jadi menteri lagi.. bahkan kalau perlu, ingin dipensiun dini.. anyway, thank you Bu Susi..

yang memang mbikin mitra koalisi (dan sebagian Jokower) agak gondok adalah masuknya Pak Prabowo sebagai Menteri Pertahanan..

tapi, hey.. ini langkah catur, bukan sekedar desakan politis..
setidaknya menurut bacaan saya..

ambil saja hikmahnya, sekarang sudah jelas kan statusnya, siapa yang presiden, dan siapa yang pembantu presiden..

Surya Paloh boleh saja agak panas hati, mengingat dia (dan partainya) juga ikut berjuang dalam pilpres 2014 dan 2019 memenangkan Jokowi.. tapi harap juga diingat, Prabowo dan Megawati yang membawa Jokowi dari Solo ke DKI, yang memungkinkan sorotan media memuluskan langkahnya menjadi Presiden RI..

Sejak Pilpres 2014 dan 2019 yang brutal, ditambah dengan Pilkada DKI yang menjijikkan itu, masyarakat Indonesia, khususnya Netijen Julid terbelah ke dalam kutub-kutub yang ekstrim dan saling berseberangan.. sudah bukan kondisi yang sehat lagi untuk berbangsa dan bernegara...

entah sudah berapa pertemanan saja yang rusak akibat saling adu cocot-kencono di medsos dan WA group..
entah sudah berapa otak unyu yang rusak termakan hoax yang tidak mendidik..
entah sudah berapa anak bangsa yang jadi bodoh dan kehilangan adabnya akibat saling membenci hanya karena beda pilihan..

satu-satunya cara yang (mungkin) bisa menyelamatkan keadaan dari polarisasi yang makin mengental ini adalah dengan mengaduk-aduk pola pikir dan kondisi kebatinan masyarakat Indonesia dengan cara memasukkan rival terbesar Jokowi 2014 dan 2019 ke dalam kabinet..

saya yakin banyak Jokower dan Prabower yang patah hati di luar sana.. #ambyar, kata Lord Didi Kempot, Godfather of Broken Heart, pelantun Tembang Konangan terlaris..

saya malah ngeri kalau rivalitas Jokowi-Prabowo diperpanjang lima tahun lagi.. entah apa yang akan terjadi pada mental bangsa ini.. berapa banyak lagi psikopat yang akan muncul di masyarakat..

seandainya Jokowi tidak merangkul, dan seandainya pula Prabowo menolak dirangkul, kemudian memelihara kebencian di dalam hati para pendukungnya hingga 5 tahun ke depan, pada 2024 bisa jadi Prabowo dengan modal 45% suara pada pilpres 2019 akan melenggang menjadi kandidat terkuat Capres RI..
sangat mungkin dia akan (berpotensi) mengalahkan Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, atau bahkan Mahfud MD sekalipun..

tapi harga yang harus dibayar sangat mahal.. terpeliharanya narasi kebencian selama satu dekade penuh.. 10 tahun..

apakah dengan masuknya Prabowo menjadi pembantu presiden, kebencian akan selesai..?

oh, tidak semudah itu Pulgoso..

masuknya Pak Jenderal ke dalam kabinet hanya akan membuat sebagian pendukungnya galau berat dan merasa bodoh sesaat.. seperti diputus pas lagi sayang-sayangnya..

lihat saja, setelah sedimen lumpur kebencian hampir terbentuk dan mengeras, air kembali dikocok dan diaduk-aduk dengan keras, sehingga kondisi dukung mendukung menjadi tidak jelas lagi.. ini adalah bagian dari strategi perang ala Art of War nya Sun Tzu..

kebencian tidak akan hilang seratus persen.. tapi perlahan akan menemukan format baru.. tapi butuh waktu..
tapi setidaknya, sebagian besar warga +62 akan mempunyai kesadaran baru bahwa berkelahi dengan militansi tinggi sambil menghina pilihan lawan seperti iblis, dan memuji-muji calonnya seperti malaikat itu adalah suatu kesalahan yang hakiki..

setelah netijen berdarah-darah, dan kehilangan persahabatan dengan konco-konco dolannya, para elit yang di atas ternyata masih bisa ngumpul, ngopi, ketawa, bahkan bekerja sama.. sementara akar rumput tetap babak belur, bonyok, serta menderita nggondok akut..

dugaan saya, barisan patah hati Prabowers (yang aslinya sih paling cuma haters Jokowi) pada 2024 akan merapat ke partai kader yang sejak awal memang pasang posisi sebagai oposisi.. bukan dua partai kaleng-kaleng lainnya..

strategi ini yang nanti akan membuat peta pencapresan 2024 berubah lanskapnya.. setidaknya akan ada 3 calon kuat: Prabowo, Penerus Jokowi, dan Kader Oposisi..

pihak Oposisi inilah yang (semoga saya salah) nanti akan meneruskan narasi minor terhadap pemerintahan Jokowi..
tapi akan butuh waktu, dan tidak akan sekuat ketika seandainya Prabowo ada di luar kabinet..

apalagi ketika Mendagri-nya adalah polisi dan Menteri Agama-nya jenderal tentara.. main-main pakai isu agama, langsung dicoret kolom agamanya, biar auto-kafir..

Just my two cents sih..

yang menarik, dan sesuai dengan bidang kerja saya, tentu saja Nadiem Makarim, karena menurut rumor nomenklatur kementerian yang terbaru, DIKTI akan kembali ke Kemendikbud, dan RISTEK akan jadi Badan, bukan lagi kementerian..

saya membaca gesture bahwa Presiden sedang menggunakan insting yang sama persis seperti ketika dia memilih menteri Susi Pudjiastuti pada 2014, saat dia memutuskan (eks) CEO dan Founder GOJEK menjadi Menteri Pendidikan..

secara tradisi, Menteri Pendidikan hampir selalu dijabat oleh warga negara senior dengan gelar Profesor Doktor..

awalnya saya mengira Bang Nadiem akan ditempatkan sebagai menteri yang akan mempercepat sistemisasi birokrasi yang efisien dalam melayani masyarakat.. Menkominfo, misalnya..
Ternyata beliau di usia yang semuda itu, dengan tanpa gelar Doktor dan jabatan fungsional Guru Besar, ditempatkan sebagai pucuk pimpinan kementerian tempat para profesor dan doktor bercokol..

saya mencoba menuliskan hal ini secara berhati-hati..

tantangannya pasti tidak mudah.. tapi, nampaknya presiden ingin membuat gebrakan dan angin segar di dunia pendidikan Indonesia, menuju era pendidikan 4.0, bahkan 5.0, dengan menjadikan seorang Manajer hebat yang kreatif dan inovatif seperti Nadiem Makarim menjadi Menteri Pendidikan..

kita tunggu saja apakah nanti bisa bayar SPP pakai GoPay..
atau para dosen siluman yang jarang muncul di kampus tapi absen fingerprint full terus akan mendapat kiriman bintang satu dari mahasiswa yang tidak puas..

secara berkelakar, saya membayangkan akan disebut para mahasiswi sebagai Mitra-Dikti, yang kalau memulai perkuliahan akan diawali dengan: "Kuliah hari ini sesuai dengan aplikasi ya, Dik.. jangan lupa bintang lima-nya"

Sumber : Status Facebook Gus Bin

Wednesday, October 23, 2019 - 13:00
Kategori Rubrik: