Membaca Data Secara Jahat

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

(migraine pagi ini, gak sanggup ngedit tulisan panjang, saya nulis catatan pendek ini saja).

Data menyodorkan kepada kita bahwa gempa hebat dan tsunami, yang melanda Indonesia di 15 tahun ini, semua berlokasi di daerah Islam, bahkan di jantung Islam garis keras.

Sebarisan orang Kristen tolol nir-pendidikan langsung ambil kesimpulan: Tuhan menjatuhkan penghukuman bagi negara yang meremehkan dan bahkan menindas Kristen.

Data tersebut memang begitu, tidak keliru, dan menggoda kita masuk ke kesimpulan serupa. Tapi, lagi-lagi semprotan anak saya, Jethro Julian, mengemuka. Perbanyak samplenya maka kamu akan mendapat kesimpulan berbeda, katanya tahun lalu.

Tuhan itu tentang perkara mutlak. Padahal tidak ada data yang mutlak. Populasi bebek, yang semuanya putih di sebuah desa, bisa jadi berubah 20 atau 30 tahun lagi ketika muncul 1 bebek berwarna hitam. Di situ keyakinan kita tentang Tuhan sebagai biang segala perkara dirontokkan.

15 tahun bukan waktu yang cukup untuk memerangkap Tuhan ke dalam satu kesimpulan. Bahkan satu juta tahun pun tidak. Begitu di tahun 1.000.001 terjadi tsunami di Balige, atau Manado, atau Manokwari, semua kesimpulanmu porak poranda.

Tak usah bawa-bawa Tuhan ke perkara apa pun dalam hidupmu. DIA sang mutlak, sementara hidupmu sangat rapuh. DIA pasti tidak bertemali dengan apa yang kau pikir, kau rasa, kamu rencanakan. Biarkan DIA di sana sebagaimana DIA membiarkan kita di sini. Begitu keduanya kamu hubungkan, kamu mendadak tolol, rasis, dan memalukan.

Sama memalukan dengan orang Kristen yang mengucap Selamat Natal pakek imbuhan "bagi mereka yang merayakan." Istilah tersebut muncul dari kaum Muslim. Saya oke-oke saja dengan keberhati-hatian mereka.

Tapi ketika umat Kristen mengucapkan Selamat Natal senada, saya langsung kepingin nyari air bah dan menyemprotkan itu ke rumahnya.

Ucapan Selamat Natal adalah pernyataan kita bahwa inkarnasi Sang Anak berlaku menyeluruh ke segenap mahluk. Mengingkari itu adalah menolak Natal, berkesaksian bahwa kisah di Betlehem cuma buat kamu dan istrimu/suamimu, serta anak-anak dan pramuwisma di rumahmu.

Itu jahat.

Maka bebaskan dirimu dari pikiran tolol. Cumbui jagad raya. Apalagi 2018 bersisa beberapa hari lagi. Datangi mereka yang meludahi imanmu kemarin, ajak berswafoto.

Agar sukacita masih sempat kamu bubuhkan dalam kolase foto 2018 yang segera berlalu.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Thursday, December 27, 2018 - 09:45
Kategori Rubrik: