Membaca Body Language, Mana Yudhistira, Siapa Burisrawa

Ilustrasi

Oleh : Sulastri Widji

Meladeni debat dengan kampret sebenarnya mubadzir. Buang-buang waktu dan energi ujung-ujungnya hanya esmosi jiwa. Tapi sesekali tak apalah buat uji nyali dan mental. Puas juga bisa bakar mereka. Sumpah serapahnya keluar, ngamuk, mbledhosan. Dorrrrr!!! Terus tinggalin sarapan. Laper, Coy .... 

Masih 120-an hari lagi, musti ekstra sabar sampai pantat lebar, menata hati dan strategi. Mereka akan tebar hoax tiap hari : One Day One Hoax (ODOX) -- itu jargonnya. Selain mengcounter kita kudu sebarkan prestasi Pakdhe sebagai penyeimbang.

"Yakin Jokowi menang, Mak?"

InsyaAllah haqul yakin. Tapi tetap tidak boleh jumawa. Allah punya kuasa, makanya jangan lepas usaha dan dedoa. Setidaknya bermain cantik/ fairplay itu membanggakan. Jangan ikut-ikutan nyebar hoax dan fitnah. Ihh, itu mah menjijikkan. Andai kalahpun tak menyesal, sekali lagi apapun yang terjadi tak lepas dari campur tangan-Nya. Rakyat yang bodoh lebih banyak dibanding yang waras artinya. Toh Jokowi sudah bekerja maksimal selama ini meletakkan dasar-dasar pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Utamanya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal. Alhamdulillah saudara-saudara di sana sudah bisa tersenyum menikmati jalan mulus, pasar bagus, malam ada listrik, BBM satu harga, sembako merata harganya tidak begitu njomplang dibanding Jawa.

Mengapa Jokowi ngebut--ngebut--dan terus ngebut? Mumpung punya kuasa-lah. Beliau maksimal berupaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sadar jabatan adalah amanah yang sewaktu-waktu bisa terebut dan lepas. Waktu 5 tahun ini beliau efisienkan betul, tiada semenitpun yang terbuang percuma. Etos kerjanya musti kita tiru. Ini saja kerja direcokin mulu, Yaa Allah ... lindungilah beliau senantiasa.

Ridhoilah negeri ini dalam pengaturannya satu periode lagi, hingga kami bisa bernapas lega menanti regenerasi pemimpin selevel Jokowi lagi. Asli tidak tega kadang melihat beliau digencet sebegitu rupa. Dinyinyiri, dicaci, dihujat, dihujani fitnah. Semoga saja segala api fitnah berbalik membakar mereka.

Dengan melihat dua photo ini kita yang berhati nurani pasti bisa baca bahasa tubuh. Mana orang yang rendah hati apa adanya, mana yang kemratu sok berkuasa.

I Love U Pakdhe
I Need U ....
And I Miss U Koh Ahok
By Emak Sulastri Widji

Sunday, January 6, 2019 - 13:30
Kategori Rubrik: