Membaca Arah Pertemuan GNPF MUI dengan Presiden Joko Widodo

Ilustrasi
Oleh Saeful Huda Ems (SHE)
 
Ada hal yang mengejutkan dari open house Jokowi yang mengundang dan dihadiri para tokoh GNPF MUI yang diketuai oleh Ustadz Bachtiar Natsir di momentum Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriyah ini. Dua kubu (Presiden dan GNPF MUI) yang selama ini bertarung politik tingkat tinggi, mendadak melakukan pertemuan di Istana Kepresidenan. Para pengamat politikpun kemudian bereaksi dengan pandangan politiknya yang berbeda-beda. Ada yang senang dan ada yang tidak suka. Ada yang menaruh harapan baik, ada pula yang malah cemas. Lalu banyak sahabat bertanya, bagaimana dengan pendapat penulis sendiri?...
 
Open house bagi saya (baca: penulis) adalah tradisi yang sudah lama terjadi di negeri ini khususnya disaat momentum lebaran. Masyarakat Indonesia --khususnya yang beragama Islam--sudah melestarikan budaya ini secara turun temurun, khususnya masyarakat yang tinggal di pedesaan. Akan tetapi tradisi open house di lingkungan Istana Kepresidenan baru dipopulerkan atau digiatkan lagi di zaman Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Tradisi ini sangat baik sekali hingga kemudian diikuti oleh Kepala-Kepala Daerah lainnya. Saya sendiri dahulu sering diundang datang di acara open house oleh beberapa Kepala Daerah yang saya kenal atau bersahabat dengannya, hingga saya sedikit banyak dapat mengerti sisi positif dari acara ini. Di antaranya adalah dibukanya dialog secara langsung antara Sang Pejabat dengan rakyat atau warganya. Juga dapat diminimalisirnya ketegangan politik yang sebelumnya terjadi antara Sang Pejabat dengan beberapa elit politik atau tokoh masyarakat.
 
Namun bagaimana dengan open house yang terjadi antara Presiden Jokowi dengan para pimpinan GNPF MUI? Jika dilihat dari sisi positif tradisi open house yang sudah saya kemukakan di atas, tentu sangatlah besar manfaatnya, dimana masyarakat Indonesia melihat ada semacam pemandangan politik baru, yakni para pihak yang selama ini bertikai ternyata juga mau berjumpa, bersalam-salaman, berpeluk-pelukan dan saling tertawa riang. Akan tetapi jika dilihat dari pengaruh negatifnya ke depan, khususnya yang mengenai ide rekonsiliasi --bila benar itu akan dilaksanakan--bagi saya itu merupakan tragedi penegakan hukum yang sangat berbahaya. Mengapa bisa demikian? Apa argumentasinya?...
Pertama, pelanggaran hukum yang sudah dulakukan oleh para pimpinan GNPF MUI tidaklah boleh dianggap hal yang sepele. Bantuan untuk para teroris ISIS di Suriah yang dikordinir oleh Bahtiar Natsir adalah pelanggaran berat kemanusiaan. Ribuan orang tak berdosa mati di Suriah oleh kekejaman ISIS, Jebhat Al Nusra dan para pemberontak Pemerintahan Bashar Al Assad lainnya cepat atau lambat akan dimintai pertanggung jawabannya, tidak hanya oleh Peradilan Mahkamah Internasional, tetapi juga oleh peradilan Tuhan !. Tindakan-tindakan politik yang bernuansa SARA hingga nyaris memecah belah kerukunan beragama dan berbangsa, serta pelanggaran-pelanggaran hukum yakni penghinaan terhadap Ideologi Negara (Pancasila), penghinaan terhadap Bapak Proklamator Indonesia Bung Karno, serta kasus asusila atau pornografi yang dilakukan oleh Rizieq Shihab pun tidak boleh dianggap sebagai sebuah hal yang remeh hingga bisa kita lupakan begitu saja. Begitu pula dengan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Munarman di Bali dan Alhathat di Jakarta, serta kontroversi Rp. 600 jt. yang diterimah oleh Amin Rais dari uang hasil korupsi mantan Menteri Kesehatan. Bayangkan jika pemakluman pelanggaran hukum ini terus menerus dibiarkan terjadi, maka Bangsa Indonesia akan seperti dihadapkan dengan Jurang Kehancuran untuk kesekian kalinya. Iya kalau selamat, jika tidak? Indonesia hanya akan tinggal nama !...
 
Kedua, kita harus mengerti bahwa memaafkan kesalahan orang itu adalah sesuatu hal yang wajar dan harus dilakukan jika kita ingin termasuk orang yang berjiwa besar, akan tetapi jika kita mudah memaafkan kesalahan orang, dimana yang pernah dilakukannya sangat membahayakan keselamatan Rakyat se Indonesia, sepertinya kita harus berpikir lagi berkali-kali untuk dapat memutuskannya. Radikalisme di Indonesia tumbuh subur diantaranya akibat provokasi terus menerus dari para pimpinan GNPF MUI ini, dan itu tidak hanya mengorbankan nyawa serta mengorbankan ikatan persatuan dan kesatuan kita, namun juga mengorbankan nyawa orang-orang tak berdosa di Suriah, Filipina dan di negara belahan dunia lainnya.
 
Ketiga, pada hakikatnya yang dinamakan rekonsiliasi itu bukan hanya bertemunya dua atau beberapa kubu yang saling konflik atau bertentangan, untuk kemudian bersepakat saling memaafkan dan melupakan kesalahan satu sama lain, akan tetapi rekonsiliasi pada hakikatnya juga harus dilakukan dan menjadi penting manakala jika kita tau atau yakin bila tidak terjadi rekonsiliasi maka akan berakibat buruk bagi keadaan politik di masa yang akan datang. Pertanyaannya, mampukan para tokoh politik yang hanya tinggal beberapa orang dan sudah banyak ditinggalkan oleh para pendukungnya akan mampu berbuat sesuatu yang bisa dianggap sebagai ancaman serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara ini? Berani taruhan potong tumpeng, jika mereka diadili dan dipenjara negeri ini akan tetap aman-aman saja. Mengapa? Karena selain Presiden, TNI dan POLRI masih sangat kompak dan solid, para pendukung tokoh-tokoh politik yang berjubah agama itupun sudah banyak yang meninggalkannya. Tidakkah kita melihat dari demo yang berjilid-jilid itu kian hari para pesertanya kian berkurang banyak? Itu semua terjadi karena para pengikutnya telah menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh tokoh mereka selama ini ternyata hanya bualan belaka. Atau sebagai alat agitasi dan propaganda untuk meraih kekuasaan saja yang jauh dari spirit menegakkan wibawa agama. 
 
Akhirul kalam, memahami situasi politik multi perspektif tidaklah semudah kita memahami gelas kosong yang diisi kopi. Teori Startegi Perang Klasik ala Sun Tzu, Gao Yuan, Khalid Bin Walid, Salman Al Farisi dlsb. haruslah dikaji dan diterapkan secara bijaksana. Memecah Ombak tiada gunanya jika para pencari keadilan turut tenggelam bersama amukan gelombang yang tersisihkan. Kita semua mungkin akan selamat, tapi ingat ada satu makhluk Tuhan yang teraniaya dan sampai saat ini hidup dalam penjara karena kesalahan mereka. Apakah kita akan turut menjadi bagian dari mereka yang menganiayanya dengan cara kita yang berbeda? Tentu tidak bukan? Karena itu bukanlah watak perjuangan kita. Maka solusinya, para tokoh GNPF MUI harus bersedia mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak melakukan perbuatannya yang sama dengan yang pernah diperbuatnya dulu lagi. Berikutnya, Ahok harus segera dibebaskan dari penjara dan direhabilitasi nama baiknya. Ini baru namanya Rekonsiliasi yang cerdas dan mencerahkan yang diharapkan semua anak-anak bangsa kelak dapat belajar dari pengalaman sejarah yang memilukan ini. 
 
Huuuupphhhh...Marlboro Merah mulai melayangkan pikiranku ke kawasan imajinasinya. Selamat berpikir kawan-kawan...(SHE)
 
Sumber : Group Whatsapp
Wednesday, June 28, 2017 - 14:30
Kategori Rubrik: